Kekuatan
Allah
Roma 1:16-17
Marniwati Gulo
Study PB Roma – Filipi
27 Mei 2019
HISTORIA
Yunani : Οὐ γὰρ ἐπαισχύνομαι τὸ εὐαγγέλιον, δύναμις
γὰρ θεοῦ ἐστιν εἰς σωτηρίαν παντὶ τῷ πιστεύοντι, Ἰουδαίῳ τε πρῶτον καὶ Ἕλληνι. (Rom. 1:16 BGT) δικαιοσύνη γὰρ θεοῦ ἐν αὐτῷ ἀποκαλύπτεται ἐκ πίστεως εἰς
πίστιν, καθὼς γέγραπται· ὁ δὲ δίκαιος ἐκ πίστεως ζήσεται. (Rom. 1:17 BGT)
(NAS) : For I am not ashamed of the
gospel, for it is the power of God for salvation to everyone who believes, to
the Jew first and also to the Greek. (Rom. 1:16 NAS) For in it the righteousness
of God is revealed from faith to faith; as it is written, “But the
righteous man shall live by faith.” (Rom. 1:17 NAS)
ITB :Sebab aku mempunyai keyakinan
yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan
setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.
(Rom. 1:16 ITB) Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari
iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan
hidup oleh iman.” (Rom. 1:17 ITB)
Penjelasan syintactic form:
ἐπαισχύνομαι (malu) = verb indicative
present middle 1st person singular from ἐπαισχύνομαι; Indicative of declarative artinya
Paulus memberitakan injil itu dengan tidak malu itu merupakan sesuatu hal yang
fakta.
εὐαγγέλιον (kabar gemberi/injil) = noun accusative neuter singular common from εὐαγγέλιον; Acc of direct object artinya objek langsung dari kata ἐπαισχύνομαι
εἰς σωτηρίαν = noun accusative
feminine singular common from σωτηρία; Accusative of Advantage artinya
dengan memberitakan injil mendapat keuntungan yang itu keselamatan
δύναμις = noun nominative
feminine singular common from δύναμις ; nominative of Aposiation
θεοῦ = noun genitive
masculine singular common from θεός ; Subject genitive artinya Allah yang memiliki atau yang mengandung
kekuatan itu
τῷ πιστεύοντι = verb participle
present active dative masculine singular from πιστεύω ; participle
of conditional (syarat) artinya syarat mendapatkan keselamatan itu harus
percaya.
Ἰουδαίῳ καὶ Ἕλληνι = adjective
dative masculine singular no degree from Ἰουδαῖος ; dative of spatial artinya menunjukkan tempat atau
menjelaskan suatu tempat
Nominative
subject adalah δικαιοσύνη θεοῦ
Predicatnya
adalah ἀποκαλύπτεται ἐκ πίστεως εἰς πίστιν,
καθὼς γέγραπται· ὁ δὲ δίκαιος ἐκ πίστεως ζήσεται
ἀποκαλύπτεται = verb indicative
present passive 3rd person singular from ἀποκαλύπτω ; indicative of declarative
ἐκ πίστεως = noun genitive
feminine singular common from πίστις; genitive of
source
εἰς πίστιν = noun accusative
feminine singular common from πίστις; Accusative of purpose
γέγραπται = verb indicative
perfect passive 3rd person singular from γράφω; Indicative of declarative, perfect extensive artinya tindakan
yang selesai atau yang komplit sampai sekarang.
ἐκ πίστεως = noun genitive
feminine singular common from πίστις; genitive of
source
Ter. Literal :Sebab aku tidak malu dengan kabar gembira
(injil), karena injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang
percaya, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani. Ay. 17: karena di
dalamnya menyatakan kebenaran Allah, dari iman kepada iman. Seperti yang
tertulis orang benar hidup oleh iman.
Poin-poin
sintaksis:
- Sebab aku tidak malu dengan kabar gembira (injil)
- Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani
- Karena di dalamnya menyatakan kebenaran Allah, dari iman kepada iman. Seperti yang tertulis orang benar hidup oleh iman.
THEORIA
Poin-poin
semantic conten:
- Paulus memberitakan injil dengan sukacita, berani serta berterus terang tentang injil itu
- Paulus mengandalkan injil itu dalam melayani
- Sebab injil adalah kekuatan Allah yaitu Kristus sendiri (1 Kor 1:24)
- Ketika kita percaya kepada injil kita diselamatkan berarti setiap injil yang kita terima harus direspon dengan iman
- Kenapa injil bisa menyelamatkan karena ada kekuatan Allah (energy Allah yang menyelamatkna)
- Ada satu kekuatan yang membawa orang itu keluar dari kegelapan
- Memberitakan injil berarti memberitakan Kristus (penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya)
- Bagi orang percaya, injil adalah keselamatan dan damai sejahtera pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani
- Injil itu diberikan kepada semua orang yahudi (yang mengenal Yesus) dan yunani (mewakili kelompok orang-orang di luar Yahudi)
- Berarti setiap orang percaya harus memiliki injil atau kekuatan Allah yaitu Kristus, memiliki injil berarti memiliki kemampuan dan kuasa dari Allah
Outline konsep:
Ide
uatama: Injil menyelamatkan
Ide-ide
pendukung:
- Sebab injil adalah kekuatan Allah sehingga ketika kita percaya kepada injil kita diselamatkan berarti setiap injil yang kita terima harus direspon dengan iman
- Memberitakan injil berarti memberitakan Kristus (penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya)
- Injil itu diberikan kepada semua orang yahudi (yang mengenal Yesus) dan yunani (mewakili kelompok orang-orang di luar Yahudi)
Semantic Conten:
- Sebab injil adalah kekuatan Allah sehingga ketika kita percaya kepada injil kita diselamatkan berarti setiap injil yang kita terima harus direspon dengan iman
Paulus sama sekali tidak malu untuk memberitakan injil
sebab ia mengandalkan injil itu. Ada apa pada injil itu sehigga Paulus begitu
semangat memberitakannya? Injil adalah kekuatan Allah yang mengandung energy
Allah. Paulus mengalami dan telah menerima kekuatan Allah sehingga ia membangun
PI dengan dasar Kristus bukan dengan dasar yang lain (Roma 15:20). Orang yang
memiliki dasar Kristus dalam hidupnya seperti Paulus memberitakan injil dengan
berani tanpa ada rasa malu dan takut walaupun ada banyak penderitaan yang harus
di jalanin sebab orang yang berada di dalam Kristus berarti menyatu dalam
penderitaan Kristus. sehingga apa yang Kristus alami pantas ia menerimanya.
Injil ini bermanfaat dalam kehidupan Paulus yang mendatangkan keselamatan bagi
kehidupannya. Menyatu dalam injil artinya menyatu dalam energy Allah. Dengan
keteguhan imannya untuk merespon injil itu sehingga ia diselamatkan.
Memberitakan injil sama halnya dengan memberitakan salib.
Dalam pokok ini Paulus mulai menyatakan
bahwa ia sangat bangga dan merasa terhormat dengan pemberitaan Injil-nya. Sangat mengherankan apabila kita mengerti
latar belakang pernyataan ini. Paulus
telah dipenjarakan di Filipi, dikejar-kejar sehingga keluar dari Tesalonika,
diseludupkan keluar dari Berea, dicemooh di Athena dan di Korintus
pemberitaannya adalah kebodohan bagi orang Yunani dan menjadi batu-sandungan
bagi orang Yahudi. Justru karena latar
belakang inilah ia menyatakan kebanggaannya atas Injil yang ia beritakan. Ada sesuatu di dalam injil yang membuat
Paulus dapat menyatakan kemenangan atas apa yang orang dapat lakukan
terhadapnya.[1]
Dalam pernyataan yang ada di atas menjelaskan bahwa
Paulus dengan bangga dan merasa terhormat denga penderitaan injil, mengapa
demikian sebab ia tahu bahwa injil itu siapa
dan ia dapat mengerjakannya karena Injil itu adalah kekuatan Allah
dengan ia memiliki injil itu otomatis ia sangat bangga dan merasa terhormat
tanpa memandang berbagai tantangan dan penderitaan yang harus di alami.
Sehingga dengan injil yang membuat Paulus dapat menyatakan kemenangan atas apa
yang dia kerjakan. Seorang bapa gereja yang bernama St. Chrysostom berkata:
For
the Cross is for our sakes, being the work of unspeakable Love towards man, the
sign of His great concern for us. And in addition to what has been said, since
they were puffed up with great pomposity of speech and with their cloak of
external wisdom, I, he means to say, bidding an entire farewell to these
reasonings, come to preach the Cross, and am not ashamed because of it:
“for it is the power of God to salvation.” For since there is a power
of God to chastisement also (for when He chastised the Egyptians, He said,
“This is My great power,10 “) (Joel ii. 25) and a power to
destruction, (for, “fear Him,” He says, “that is able to destroy
both body and soul in hell”), (Matt. x. 28) for this cause he
says, it is not these that I come to bring, the powers of chastisement and
punishment, but those of salvation.[2]
Dalam 2 Tim 1:8 Paulus juga menasehatkan Timotius untuk
tidak malu dalam memberitakan injil. Tujuan Paulus menasehatkannya supaya iman Timotius
semakin kuat di dalam Tuhan. Kekuatan dalam memberitakan injil tidak dapat
diperoleh tanpa memiliki injil atau kekuatan Allah. Imanlah yang bersinergy
dengan kekuatan Allah ini bukan semata-mata hanya sekedar percaya saja tanpa
mengenal injil dengan benar. Artinya memiliki injil berarti memiliki keyakinan
yang kokoh. 1 Tesalonika 1:5, mengatakan bahwa injil yang disampaikan oleh Paulus
bukan dengan kata-kata yang berasal dari dirinya sendiri melainkan kata-kata
yang berasal dari kekuatan Allah oleh Kuasa Roh Kudus dengan kepastian yang
kokoh dan tak tergoyahkan lagi. Manusia tak dapat melakukannya sendiri tetapi
Allah memberikan kita penolong yang selalu menyertai dan memberikan penuntun
bagi kita. Bukan kata-katanya yang berkuasa tetapi Roh Kuduslah yang memberikan
keyakinan bagi setiap manusia melalui kata-kata yang memberikan pengenalan akan
Tuhan. Dengan itulah pentinya sebuah respon atas injil itu.
Apa yang perlu kita aplikasikan dalam kehidupan kita?
yaitu dengan mengandalkan injil itu artinya mengandalkan kekuatan Allah atau
Yesus Kristus dalam hidup ini dengan penuh keteguhan hati dan kepercayaan
kepada-Nya. Maksudnya percaya dan menerimanya dengan iman dan tidak merasa malu
karena injil sehingga mulailah untuk memberitakan injil itu.
- Memberitakan injil berarti memberitakan Kristus (penderitaan,
kematian, dan kebangkitan)
Bagi orang yang tidak percaya memberitakan salib itu
suatu hal yang bodoh menuju kebinasaan tetapi bagi orang percaya yang telah
meresponnya dengan iman itu adalah keselamatan karena injil itu kekuatan Allah.
Memberitakan injil sama artinya dengan memberitakan salib, memberitakan salib
artinya ikut menderita dengan memikul salib. Dengan nasehat Paulus kepada
Timotius merupakan suatu hal yang menguatkan imannya Timotius agar tetap
bersaksi walaupun ada banyak penderitaan yang harus di alami (2 Tim. 1:8).
Memberitakan injil itu ikut menderita bersama dengan Kristus, ikut bersama
dalam kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya. Bagaimana dengan orang-orang
yang malu untuk memeberitakan salib atau injil itu? Yesus Kristus atau Anak
Allah juga akan malu ketika ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi
malaikat-malaikat Kudus (Mar 8:38).
Kalau
kabar baik atau yang disebut Injil berarti dalam kabar baik tersebut pastilah
berbicara tetang pribadi Yesus sendiri yang di mana oleh-Nya keselamatan telah
datang ke dunia dan Yesus sendiri adalah Firman, Alkitab mengatakan bahwa Allah
mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama
dengan manusia (Fil 2:6-7), berdasarkan ayat tersebut jelaslah bahwa Injil
adalah Firman dan Firman itu adalah Allah sendiri (Yoh 1:1).[3]
Apa yang dapat dikerjakan oleh Kuasa Ilahi yang diberikan
oleh Allah kepada kita yang telah meresponi injil itu? Kuasa Allah itu sanggup
untuk meruntuhkan benteng-benteng sebab yang di pakai adalah bukan senjata yang
diperlengkapi oleh Dunia (2 Kor 10:5). Orang-orang yang siap ikut menderita
bersama Kristus itu berani mengambil resiko apa saja, berani di hina, di caci
maki, di perlakukan tidak adil dan tidak membalaskan kejahatan kepada orang
yang berbuat jahat dan penderitaan lainnya. Sebab siapa yang kita percaya
berkuasa memelihara apa yang dipercayakan-Nya kepada kita hingga pada hari
Tuhan (2 Tim 1:12). Injil pula mengandung kebenaran dari Allah. Sebab tidak ada
kebenaran selain dari pada-Nya dan kebenaran itu adalah Kristus sendiri. Apakah
kita bisa mendapatkan kebenaran itu? Kita bisa hidup dalam kebenaran itu bukan
dengan karena mentaati Hukum Taurat melainkan dengan kebenaran yang
dianugerahkan Allah berdasarkan kepercayaan kita (Filipi 3:9) hidup di dalam
kebenaran itu artinya memiliki dan percaya, tetapi kepercayaan manusia tidak
cukup sebab itu adalah anugerah yang diberikan Allah kepada kita. St. Chrysostom
as a Homilist berkata:
But he who hath become just shall
live, not for the present life only, but for that which is to come. And he
hints not only this, but also another thing along with this, namely, the
brightness and gloriousness of such a life. For since it is possible to be
saved, yet not without shame (as many are saved of those, who by the royal
humanity are released from punishment), that no one may suspect this upon
hearing of safety, he adds also righteousness; and righteousness, not thine
own, but that of God; hinting also the abundance of it and the facility.13
For you do not achieve it by toilings and labors, but you receive it by a gift
from above, contributing one thing only from your own store,
“believing.” Then since his statement did not seem credible, if the
adulterer and effeminate person, and robber of graves, and magician, is not
only to be suddenly freed from punishment but to become just, and just too with
the highest righteousness; he confirms his assertion from the Old Testament.[4]
- Injil diberikan kepada semua orang, baik orang
Yahudi dan kepada orang Yunani
Tetapi keselamatan Paulus tidak mau kalau ia sendiri yang
menikmati keselamatan itu. Injil diberikan kepada semua orang baik orang Yahudi
maupun orang Yunani. Orang Yahudi yang dimaksud adalah mereka yang mengenal
Yesus dan memiliki Yesus. Orang Yunani disini adalah kelompok orang-orang
selain orang Yahudi. Ini menunjukkan bahwa Yesus datang bukan hanya kepada
orang-orang Yahudi saja melainkan Ia datang kepada semua orang. Tujuan
kedatangan-Nya adalah untuk memperkenalkan injil itu bahwa injil itu
menyelamatkan. Memang injil atau Kristus datang kepada semua orang tetapi
bagaimana dengan orang-orang yang tidak menerimanya dalam arti menolak dan
tidak meresponnya? Sudah jelas bahwa orang itu tidak bisa diselamatkan sebab
kedatangan injil itu harus di respon dengan iman. Orang yang akan diselamatakan
oleh iman adalah orang yang hidup benar oleh iman dan ia berkenan kepada-Nya
(Ibrani 10:38). Orang yang diselamatkan dengan injil oleh iman adalah orang
yang berkenan kepada-Nya. Apakah injil itu pantas diterima oleh orang yang
hidupnya berantakan, mabuk-mabukan, pelacur, pencuri dan dosa lainnya? Memang
injil itu datang kepada orang berdosa dengan tujuan untuk menyelamatkannya
tetapi harus ada tindakan yang perlu dikerjakan yaitu meninggalkan perbuatan
dosa itu dalam arti tidak hidup lagi dalam dosa. Sehingga orang itu berkenan
kepada Tuhan dan ia harus hidup dalam kebenaran oleh iman. Iman kepada Tuhan
sangat perlu dan penting tetapi tanpa bukti atau tindakan maka semuanya tidak
ada artinya. Sehingga iman yang diperlukan adalah iman yang hidup yang
mengerjakan perbuatan baik dan yang berkenan kepada Tuhan. St. Chrysostom as a
Homilist berkata:
For
it is not to all absolutely, but to them that receive it. For though thou be a
Grecian (i.e. Heathen), and even one that has run into every kind of vice,
though a Scythian, though a barbarian, though a very brute, and full of all
irrationality, and burdened with the weights of endless sins, no sooner hast
thou received the word concerning the Cross, and been baptized, than thou hast
blotted out all these; and why says he here, “to the Jew first, and also
to the Greek?” What meaneth this difference? and yet he has often said,
“Neither circumcision is anything, nor uncircumcision” (1 Cor. vii. 19.
see Gal. v. 6
and vi. 15); how then doth he here discriminate, setting the Jew before the
Greek? Now why is this? seeing that by being first he does not therefore
receive any more of the grace (for the same gift is bestowed both on this person
and that,) but the “first” is an honor in order of time only.[5]
Orang yang mengenal Hukum Taurat adalah orang yang telah
mengenal dan percaya Yesus Kristus, orang yang telah mengenal dan percaya Yesus
Kristus adalah orang yang telah diselamatkan. Bagaimana dengan orang yang tidak
mengenal Hukum Taurat, apakah mereka tetap diselamatakan atau tidak? Jawabannya
adalah itu menurut keadilan Allah, tetapi setiap manusia Allah telah menaruh
hati Nurani dalam kehidupannya sehingga dengan hati Nurani mereka dapat
mengenal yang baik dan buruk, mengenal yang benar dan yang salah. Sehingga
dengan dorongan hati Nurani mereka tanpa sadar mereka telah melakukan Hukum
Allah (Gal 3:11). Dengan injil diberikan kepada semua orang bukan berarti semua
orang diselamatkan tetapi keselamatan ada bagi orang yang percaya.
Kata
Yunani Pisteuo memiliki arti yang mendalam. Mempercayai isi injil hanya sebagian dari
makna kata tersebut. Diluar makna kata
tersebut mengandung arti percaya atau komitmen pribadi sampai ke tingkat
menyerahkan seluruh diri kepada orang lain.
Sekalipun percaya mencakup sikap tanggap suatu kebenaran atau
serangkaian kebenaran, sikap tanggap ini sekedar berupa persetujuan intelektual,
tetapi lebih berupa keterlibatan menyeluruh didalam kebenaran yang dipercayai
itu. Percaya kepada Kristus berarti
menyerahkan diri sepenuhnya kepada Dia.
Mengandalkan Kristus artinya menjadi terlibat sepenuhnya didalam
kebenaran-kebenaran abadi yang diajarkan oleh Dia dan tentang Dia didalam
perjanjian moral, suatu pengabdian dan penyucian diri yang tanpak di dalam
setiap aspek kehidupan[6]
Apa yang perlu kita lakukan atau aplikasikan jika injil
itu berlaku kepada semua orang? Yaitu dengan kita memperkenalkan dan membawa
injil itu kepada mereka sehingga kuasa Roh Kuduslah yang bekerja di dalam hati
seseorang. Tugas kita sebagai pemimpin rohani adalah membawa kabar baik atau
injil itu tanpa malu dan tidak memandang bulu kepada semua orang.
Ringkasan:
Injil
yang disampaikan oleh Paulus bukan dengan kata-kata yang berasal dari dirinya
sendiri melainkan kata-kata yang berasal dari kekuatan Allah oleh Kuasa Roh
Kudus dengan kepastian yang kokoh dan tak tergoyahkan lagi sehingga injil dapat
menyelamatkan. Bagi orang percaya injil adalah keselamatan tetapi bagi orang
yang tidak percaya injil merupakan suatu kebodohan dan kebinasaan.
MORAL
Aplikasi:
- Meneladani keberanian Paulus dalam memberitakan
injil, tidak merasa malu dan terhina.
- Setia dalam melakuannya sampai akhir hidup kita
- Selalu mengandalkan injil sebab injil itu Kristus
sendiri.
[1]
William Barclay, Pemahaman Alkitab
sehari-hari Surat Roma (Bpk Gunung Mulia)
[2] John
Chrysostom, The
homilies of st. John Chrysostom on the Acts of the Apostles and the epistle
to the Romans. Volum XI dari Nicene
and Post Nicene Fathers of The Chirstian Church, Philip Schaff ed., (Grand
Rapids: Eerdmans Publishing Company, 1887)
[3] http://davnny.blogspot.com/2013/08/eksegese-kitab-roma-116-17.html
[4]
John Chrysostom, The
homilies of st. John Chrysostom on the Acts of the
Apostles and the epistle to the Romans.
[5]
John Chrysostom, The
homilies of st. John Chrysostom on the Acts of the
Apostles and the epistle to the Romans.
[6]
Tafsiran Alkitab Wyclife,
vol 3, (Yayasan Gandum Mas), 517