Faith (iman), Hope (pegharapan) dan Love (kasih)

Marniwati Gulo

Eksegesis PB (Perjanjian Baru)

Semester 5

Tugas ke 2

12 Agustus 2019

Faith (iman)

Pelajaran tentang iman berbicara mengenai pengakuan iman Nicea atau kepercayaan kita kepada Allah yang mahakusa. Pengharapan (hope) berbicara tentang Doa Bapa kami dan Liturgical. Love (kasih yang berisi tentang etica, moralitas dan 10 hukum taurat). Pengakuan iman Necea

  • (iman/faith) Iman, Roma 1:19-20

1 Yoh 4:12 => bagaimana kita bisa mengenal dan percaya dengan yang kita tidak kenal. Kamu tau ada Allah? Jika ada bagaimana kamu membuktikan-Nya? Yaitu di esensi Allah itu tidak bisa dibuktikan dengan ilmu fisik atau ilmu alam. Kita idak bisa mengenal Allah itu sebab Dia adalah Allah yang misteri dalam segala hal, bagi semua ciptaan=Nya, tetapi Allah ada di alam kita. Tuhan/Allah itu bagi semua misteri tetapi Allah ada di dalam kita. Allah mengwahyukan dirinya hanya kepada mereka yang rendah hati.

Secara esensi-Nya Allah kita tidak bisa mengenal Dia tetapi kita bisa mengenal Allah lewat enegy Allah bukan melalui esensi. Allah dibawah esensi-Nya tidak bisa diketahui 1 Timotius 6:16, Efesus 2:19, Efesus 1:12 tak ada seorangpun yang dapat menghampiri-Nya. Esensi dan energy ini adalah bagian dari dalam diri Allah. Kita dapat mengenalnya karena kita ciptaannya, baca Alkitab dan doa. Iman dapat kita lalui melalui alam atau ciptaan Roma 1:19-20. Allah itu ada karena setiap orangn itu sudah mengenal energy-Nya. Semakin kita merasakan energy Ilahi semakin kita menyadari kalau Allah itu ada, itulah iman. Manusia diciptakan itu bukan menjadi ateis tetapi untuk mengenal Dia melalui alam ciptaan Allah. Sebab alam itu diciptakan oleh energy ilahi Kej, 2:7. Dihembuskan nafas ilahi sehingga tubuh kita itu menjadi tempat nafas Ilahi 1 Tes 5:23 = nafas ilahi = roh dan jiwa. 2 Kor 4:16 => manusia lahiriah (fisik/ tubuh) semakin merosot namun manusia batiniah kami.

Pada dasarnya manusia itu kekal karena roh dan jiwanya bersifat kekal sebab berasal dari energy ilahi. Maka kita menyadari bahwa sesuatu yang tidak mati itu, hanya Allah. Dunia hasil dari energy-Nya kita bisa menemukan Firman yang menciptakan alam semesta ini. Kita bisa mengenal Allah melalui alam yang diciptakan yang begitu unik.

  1. Iman yang natural bisa timbul melaui alam ciptaan, Roma 1:25 => sebenarnya manusia menyembah pencipta bukan ciptaannya.
  2. Kita mengenal Allah melalui pewahyuan Yoh 1:18, Ibrani 1: 1-3

Lewat pengakuan diri Yesuslah kita mengenal Allah yang benar. Allah yang seperti apa yang menciptakan alam semesta ini. Lewat diri Yesus kita mengenal kenapa Allah disebut Bapa. Allah yang sejati itulah Yesus Kristus yang diwahyukan oleh Allah dan yang menyatakan-Nya. Kalau iman meluai natural maka hasilnya Ibrani 11:3. Pengenalan Allah yangbenar itu berasal dari pengwahyuan-Nya sendiri. Allah sendiri menyatakan dirinya kepada kita melaui inkarnasi. Iman kepada Allah dan pengetahuan kepada Allah terjadi bukan hanya melaui ciptaan tetapi juga melalui pengorbanan Anak-Nya. Kita tahu bahwa Allah itu terang karena Yesus menyatakannya bahwa Ia keluar dari terang. 1 Yoh 5:20 => Ia mengaruniakan pengertian kepada kita supaya kita mengenal yang benar dan yang benar itu ada di dalam Anak-Nya Yesus Kristus, Dialah Allah yang benar.

Pengetahuan spiritual yang tersembunyi di dalam kitab suci?

  1. Kita baca selembar kitab suci, tapi kamu berdoalah dengan apa yang kamu baca kemudian pada suatu malam kamu akan bangun dan menyadari bahwa apa yang kamu baca ternyata memiliki makna yang penting bagi kamu yang dimana kamu tidak mungkin tidak menyadari di hari-hari yang kamu alami, tetapi di suatu hari akan muncul. Yang mendadak bisa muncul seperti orang yang sudah tidur nyenyak yang dibangunkan oleh mimpi. Bagaimana bisa menemukan Allah disitu? Yaitu kita membaca kitab suci.
  2. Untuk menanggapi pengetahuan yang benar dari kitab suci, kamu harus punya hati yang rendah hati yang tdiak bisa digoncang. Fokuskan dirimu pada tulisan suci itu sehingga kamu akan masuk ke dalam jiwamu dan membentuk gambar yang ada di dalam jiwamu.

Christ Center & Ecclesial

Marniwati Gulo

Eksegesis PB (Perjanjian Baru)

Semester 5

Tugas ke 2

12 Agustus 2019

CHRIST CENTER

Segala apa yang dimiliki oleh pencipta otomatis ciptaan memilikinya meski tidak sesempurna apa yang dimiliki oleh sang pencipta. Namun karena Allah itu Roh maka yang menjadi gambar dan rupa Allah itu ada di dalam energy-Nya Allah yang ada di dalam diri manusia atau yang ada di dalam batin, yang diciptakan dalam bentuk gambar dan Rupa Allah. Karena Allah itu Tritunggal maka gambaran roh, jiwa manusia tritunggal. Nous, logos dan pneuma. Nous yang menjadi inti jiwa manusia. Melalui nous kita dapat mengenal Allah. Ini harus masuk ke dalam hati dan menguasainya. Hati itu adalah perangkat batin dimana roh dan jiwa berada. Dari hati harus dimunculkan dalam level tubuh dan kekuatan. Di dalam membaca Alkitab, mengapa harus Christ center? Sebab apa yang tertulis di dalam kitab suci dan yang kita baca berasal dari kata-kata/ firman Allah yang dinyatakan oleh Yesus Kristus di dalam Roh-Nya. Sehingga kita hanya dapat mengerti dan mengenal apa yang kita baca itu berasal dari Kristus Tuhan. Di dalam Perjanjian lama ada yang menggunakan Allegory Tipology, yang menjadi tipologynya adalah Yesus Kristus Tuhan kita. Allah dapat berfirman melalui allegory sehingga ketika kita membacanya harus secara allegory.

Belajar kitab suci berdasarkan pendapat dari gereja mula-mula, mengapa? Sebab kitab suci ada karena gereja lebih dulu telah ada. Gereja yang melahirkan kitab suci sehingga panduan untuk mengerti kitab suci harus melalui gereja atau ajaran-ajaran dan paradosis gereja yang telah melahirkan gereja. Kitab suci dilahirkan oeh gereja yang dilahirkan oleh Kristus dan dikandung di dalam Rahim Roh Kudus yang mencurahkan Kritsus dan kasih Allah, yang diberikan kepada para Rasul dan oelh merekalah ajaran ini dijaga dan junjung tinggi oleh mereka sampai sekarang. Kita mengenal kitab suci hanya melalui gereja karena hanya gereja yang bisa menjelaskannya.

Belajar kitab suci perlu bimbingan dari gereja Kis. 8:30-31. Yoh 14:16 => Roh Kudus yang mengajarkan semuanya itu kepada para rasul, itulah yang berasal kepada Yesus. Filipi 4:9 => setelah Roh Kudus mengajar kepada para rasul dan para rasul mengajarkan kepada gereja. Yoh 14:24 => Firman yang kamu dengar itu dari Kristus berasal dari Bapa. Bapalah sumber dari ajaran tentang kebenaran.

Bapa => Kristus Yesus => Roh Kudus => para rasul => gereja.

Kitab suci kelihatan mudah dan sederhana tetapi mengandung isi yang begitu sulit dan susah untuk dimengerti. Membaca kitab suci sama artinya dengan kita sedang berdialog secara pribadi kepada Kristus yang dituntun oleh Roh Kudus dan gereja. Pikiran kita harus ditaklukkan oleh pikiran Kritsus dan pikiran gereja serta tuntunan dari Roh Kudus. Cara untuk memperoleh pikiran gereja yaitu: melihat dan membaca kitab suci digunakan di dalam ibadah dan konsultasi dengan tulisan-tulisan bapa-bapa gereja sebab merekalah yang memelihara ajaran para rasul. Ajaran yang diberikan bapa gereja dalam memahami kitab suci yaitu:

Membaca kitab suci dengan liturgical dan pratistic

Membaca Alkitab dalam bentuk ibadah dan sembahyang. Membacakannya dengan menggunakan bacaaan (lectionary) yang telah diciapkan oleh gereja dan memahaminya dengan full dan tidak terpotong-potong sehingga kita menemukan artinya lapisan demi lapisan.

Misalnya:

Tanggal 17 Agustus, bacaan: Yoh. 20:11-18, 1 Cor 1:10-18, Matthew 14:14-22

Maria salah satu yang membawa 5 roti dan 2 ikan (rempah-rempah untuk meminyaki tubuh Yesus). Gereja mengajarkan kepada kita = Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada kita masing-masing. Kita sekarang mau datang kepada Tuhan dengan membawa apa? 1 Cor 10-18, gereja mengajarkan kepada kita setelah transfigurasi untuk memberitakan injil atau kabar tentang salib Kristus dan Kristus yang sudah bangkit. Yesus bangkit => dengan memakai tubuh kemuliaan => Maria Magdalena => membawa rempah-rempah (5 roti dan 2 ikan). Ketika kita memberitakan injil itu ibarat kita memberitakan tubuh kemuliaan Kritsus. Sehingga kita datang kepada Tuhan dengan membawa injil keselamatan akhirnya kita mengalami transfigurasi mendapat terang kemuliaan Kristus dan menuju Theosis. Kristus adalah jantung dan hati dari kitab suci, PL dan PB yang menjadi benang mereh yang mengikatnya adalah Kristus.

Refleksi:

  1. Merenungkan kitab suci sesuai dengan Christ Center dan ecclesial
  2. menghidupi perenungannya setiap saat

Darah dan Daging Kristus

Marniwati Gulo

Eksegesis PB (Perjanjian Baru)

Semester 5

Tugas ke 1

6 Agustus 2019

Firman Allah telah mengambil daging dan tubuh manusia dengan mengenakan tanah dan debu, yang diwujudkan dengan tubuh atau daging dan darah. Melalui baptisan debu dan tanah yang diwujudkan dalam daging dan darah telah dibersihkan dari kutukan melalui air yang suci. Melalui baptisan Yesus Kristus air di retorasikan, melepaskan setiap kutukan dosa. Mengikuti sakramen baptisan merupakan ikut serta di dalam penderitaan, kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus. Yesus Kristus telah memberikan darah dan daging-Nya kepada kita dengan wujud roti dan anggur (Yohanes 6:56). Ketika kita memakan dan meminum darah dan daging Kristus, kita telah bersatu dan berada di dalam Kristus. kita dapat menemukan-Nya melalui yang ada di dalam, Tuhan Yesus tidak berada lagi di luar kita.

Romo John Meyendorff menerangkan bagaimana Firman Allah itu menjadi realitas bagi kita:

“Semenjak Inkarnasi (Penjelmaan Firman Allah menjadi daging, Yohanes 1:14), tubuh kita telah menjadi ‘bait Roh Kudus yang diam di dalam” kita.(I Korintus 6:19); di sanalah, di dalam tubuh kita, kita harus mencari Roh Allah itu, di dalam tubuh kita yang dikuduskan oleh kuasa Roh Kudus (I Petrus 1:2), melalui Sakramen-sakramen (I Korintus 12:13–> dibaptiskan dalam satu Roh, dan diberi minum yaitu minum dari Cawan Perjamuan Kudus, dalam satu Roh), serta dicangkokkan oleh Perjamuan Kudus ke dalam Tubuh Kristus (I Korintus 10:16-17, Yohanes 6:56)). Allah itu sekarang harus ditemukan di dalam. Dia tak lagi berada di luar kita. Oleh karena itu kita menemukan Terang Cahaya Gunung Tabor (yang dilihat Petrus, Yakobus, dan Yohanes) – Matius 17:2,5 – itu di dalam diri kita.”

Dalam baptisan kita sudah diilahikan dengan “Mengenakan Kristus” (Galatia 3:27). Melalui Pengurapan/Krisma dengan Minyak Kudus (I Samuel 16:13,I Yohanes 2:27,II Korintus.1:21-22) kita telah dimeteraikan dengan karunia Roh Kudus, yaitu Roh Kudus itu sendiri yang diberikan kepada kita sebagai karunia dari Allah (Efesus 1:13-14,Kisah Rasul 2:38). Dalam Perjamuan Kudus atau Ekaristi kita dijadikan ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi, karena melaluinya Kristus berada dalam kita. dan kita berada dalam Kristus (Yohanes 6:56-58). Sebagaimana yang dikatakan oleh Js Gregorios dari Nyssa:”Dia (Kristus) menebarkan DiriNya sendiri dalam tubuh dan badan para umat yang percaya melalui sarana TubuhNya sendiri yang terdiri dari Roti dan Anggur. Dengan cara begitu bercampur dengan kita, sehingga dengan panunggalan/penyatuan kita dengan yang tak berkebinasaan itu, kita boleh ikut ambil bagian dalam ketak-binasaan/immortalitas”.

Yesus Kristus telah memberikan segalanya buat kita baik darah dan dagingnya yang melalui perjamuan Kudus (Ekaristi), Ia memberikan Firman, Roh, dan terang-Nya. Ia meberikan Firman-Nya kepada kita dan kita tidak bisa mengenal siapakah Allah yang Esa itu dan Kristus itu tanpa Roh Allah atau disebut sebagai Roh Kudus yang memberikan kita himkat dan pengertian dari segalanya. Bapa menciptakan alam semesta melalui FirmanNya (Anak) karena segala sesuatu terjadi karena Firman Allah dan di dalam Roh-Nya (Roh Kudus) karena Roh Allah ini yang memberi hidup kepada segala yang diciptakan.

Arti karya Kristus adalah memberikan pengampunan bagi setiap umat-Nya. Pengampunan yang Ia berikan dengan Cuma-Cuma, dalam karya-Nya kita mengambil bagian di dalamnya dengan memakan roti dan meminum anggur kehidupan. Roti kehidupan yang diberikan Allah itulah yang menyelamatkan. Firman Allah yang menjelma menjadi manusia itulah roti kehidupan dapat kita lihat dari peristiwa ketika Kristus mengadakan perjamuan terakhir bersama-sama dengan murid-murid-Nya yang disebut dengan hari Paskah Lukas 22:14-23.

Firman-Nya merupakan injil dalam bentuk lisan dan tulisan yang dapat kita pahami dan mengerti melalui hikmat yang diberikan oleh Roh Kudus. Setiap hati gelap kita telah diterangi dengan terang yang diberikan Tuhan Yesus Kristus kepada kita.

Setelah Kristus telah memberikan semuanya kepada kita, apa yang menjadi obedience yang dapat diaplikasikan. Alkitab ditulis dalam bahasa manusia maka ada tempat bagi kita, waktu kita belajar bible ada pikiran kita dan kita harus tahu bahwa pikiran itu adalah pemberian Allah dan kita tidak perlu takut memakai pikiran kita, tetapi kita perlu tahu historia, ditulis kapan, untuk apa, latar belakangnya. Tetapi kita melihatnya dengan aspek Ilahi. Kita harus melihat ada Yesus Kristusnya kalau kita membaca Alkitab bukan hanya sekedar konsep saja. Kalau baca Alkitab bukan sekedar mengtahui historia, tetapi kita mempunyai pertanyaan bagaimana saya diselamatkan. 2 Timotius 3:15. Kekaguman dan sikap mendengar.

Pertama kagum, ketika kita membaca Alkitab dengan rasa kagum maka kita tidak merasa bosan. Tapi kita perlu membersihkan pintu2 perspsi kita dengan kekaguman, seperti mujizat Allah yang selalu kekinian. Bagaimana Firman Allah yang ilahi itu bisa menjadi kitab dan bisa menyelamatkan. “permulaan dalam menemukan kebenaran adalah mengaguminya = kata Plato).

Kedua, ketaatan itu adalah mendengar. Arti literal dari kata obey itu artinya mendengar. Hendaklah engkau mendengar. Berhenti berbicara dan mulai mendengar. Kita bisa melihat juga beberapa icon salah satunya icon bunda Maria, kita membuka hati kita artinya kita mau menjadi seperti Dia. Ketika kita membaca Alkitab, kita mau menjadi seperti Maria karena dialah yang mendengar. Yang dilakukan oleh Maria adalah dia taat dan mendengar Lukas 1:38 “let it be to me according to your word” Lukas 2:19 itulah artinya mendengar “mengunyah di dalam hatinya. Lukas 2:51 => menyimpan semua hal itu di dalam hatinya. Yoh 2:5 => apapun yang dikatakan Yesus dilakukannya.

Ketiga, Mengerti Firman Tuhan ini melalui gereja. Pendekatan kita kepada perkataan itu melalui gereja. Ditujukan kepada kita pribadi dan kita terikat sebagai anggota dari satu komunitas. Kitab suci dan gereja itu tidak terpisahkan. Gereja dan kitab terkoneksi satu dengan yang lain saling bergantung. Kita menerima kitab suci itu lahir dari gereja.

Tujuan dari semua ini adalah untuk menjadi segambar dan serupa dengan Allah melalui pola citaan kit ayaitu Yesus Kritus. Dalam peristiwa di atas gunung yang ditulis oleh Matius 17:1-13 adalah Pengubah-Muliaan atau Transfigurasi Yesus. Peristiwa ini adalah the uncreated light manifested through His human body. Kemanusiaan Kristus memanifestasikan Keilahian-Nya sehingga manusia yang berada di dalam Kristus akan mengalami pengilahian. Kemanusiaan kita akan menjadi ilahi. His Humanity manifested His Divinity. Transfigurasi mengajarkan the Uncreated Light permeates humanity, sehingga in Christ humanity can be divinized dan ini yang disebut Theosis (2 Pet 1:4; 1 Yoh 3:2). Manusia yang di dalam Kristus akan mengalami transfigurasi sama seperti Kristus. Kita akan menjadi serupa Kristus.

Refleksi:

  1. Yesus telah memberikan segalanya bagi kita, ia memberikan Roh-Nya sebagai penolong dan penuntun kita dalam kebenaran.
  2. Ia telah memberikan darah dan daging-Nya yang digambarkan sebagai roti dan anggur sehingga kita semakin dekat dengan Dia dan tinggal bersama dengan Dia. Kita memakan daging dan meminum darah-Nya dengan menyatu dalam tubuh-Nya dan dalam penderitaan yang Ia akan rasakan. Tetaplah berada di dalam tubuh kemuliaan-Nya melaui sacrament perjamuan kudus.
  3. Memberi diri untuk menjadi anak-anak Allah dan menjadi manusia baru melalui baptisan, sebab baptisan merupakan kuburan bagi manusia lama kita dan kandungan bagi manusia baru kita
  4. Menjadi makhluk terang yang selalu memancarkan sinar/ terang kemuliaan Allah kepada orang lain. Amin.

Referensi:

Buku Philokalia (bagian 20a)

https://hendisttrii.wordpress.com/2019/08/10/daging-dan-darah-kristus

Etika Kristen

Marniwati Gulo

Etika Kristen

Tugas ke 1

Semester 5

15 Agustus 2019

Etika adalah ilmu yang mempelajari apa yang baik dan apa yang buruk dan kewajiban-kewajiban moral di dalamnya. Etika adalah tidak bisa dipisahkan dengan tradisi gereja disebut sebagai Etika Gereja. Etika yang menolong kita untuk semakin serupa dengan Kristus. Bagaimana menuntun ke jalan keselamatan melalui etika? Melalui pendekatan etika kita yang bukan filsafat, tetapi bersifat keselamatan sebagai tujuan utama kehidupan manusia. Mulai dari lahir baru, bertumbuh dalam kedewasaan dan menjadi sempurna. Bicara tentang etika sama dengan kita berbicara tentang Kristus, sebab Dia adalah sumber dari etika kita.

Keselamatan itu synergy antara iman dengan sumber dari etika yang kita miliki Efesus 2:8-10. Setiap manusia memiliki etika yang ditaruh Allah di dalam diri setiap orang percaya, Allah Tritunggal merupakan sumber dari etika sebab sejak kekekalan mereka telah menyediakan etika itu. Barang siapa yang diciptakan oleh Allah, ia pasti memiliki etika yang sama dengan yang dimiliki oleh Allah sendiri. Bukti dari etika tersebut kita mendapat keselamatan yang telah dirancang oleh Allah itu sendiri. Orang dapat selamat bukan karena hasil kerjanya sendiri, melainkan semua karena Sinergy Allah kepada setiap manusia. Apa pekerjaan kita sebagai orang yang telah diselamatkan? Yaitu tidak lepas dari Kristus dan Allah Tritunggal. Kita mau memperkenalkan etika kita dari Allah tritunggal karena Dia yang sudah mempersiapkannya untuk kita. Pekerjaan baik itulah etika. Seperti apakah Allah Tritunggal itu? Di dalam relasi antara pribadi-pribadi Allah kita dapat mengenal tujuan kita sebagai manusia, baik di dalam keluraga, masyarakat, dll.

Allah Bapa = Allah yang Esa (sumber), disebut Anak karena Bapa memperanakkan Firman-Nya sendiri. Bapa juga mengeluarkan Roh Kudus. Karena sumbernya dari Bapa maka mereka berbagi kodrat yang sama yaitu kodrat Ilahi. Mereka memimiliki pribadi yang berbeda satu dengan yang lain, Allah Bapa berbeda dengan Allah Anak, Allah Anak berbeda dengan Roh Kuds/ Roh Allah. Allah kita memiliki 3 pribadi dalam 1 kodrat, yaitu kodrat Ilahi.

Atropologi dan kemanusiaan kita tidak lepas hubungannya dengan Allah. Etika kita ada di dalam konteks hubungan komunitas. Sebab Allah kita berada dalam komunitas yang Tritunggal. Relasi Tritunggal itu adalah relasi kasih. Begitu juga dengan manusia yang mempunyai etika dan pola etika Kristen adalah Tritunggal itu yang disebut dengan kasih. Kasih inilah yang menjadi norma etika kita sehingga kita bisa menemukan relasi kita. Kasih ini yang diekspresikan di dalam hubungan kita dan menjadi dasar dari penilaian etika kita, kasih itu adalah kasih yang dari Ilahi (Trinitas). Kolose 3:12-14 => kenakanlah kasih. Tanpa kasih itu sia-sia karena tidak disempurnakan. 1 Kor 13:1-3 => semuanya sia-sia tanpa kasih sebab kasih yang membawa kita kepada keselamatan. Tanpa kasih maksudnya adalah tanpa Allah. Membangun relasi denga kasih ibarat kita sedang menyempurnakan kasih Allah dalam kehidupan kita. Kasih merupakan kehidupan moral dan etika kita. Kasih = 1 Kor 13:4 => kasih itu menjadi seperti air yang mengisi berbagai macam wadah hidup kita. Kasih itu bernilai kekal 1 Kor 13:8. Dalam Gal 5:22 kasih merupakan fondasinya. Kehidupan moral kita berdasarkan siapa kita. Kita adalah manusia yang diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik dan moralnya sama seperti Kristus supaya kita menjadi selamat dan menjadi sama seperti Kristus. Bertumbuh menjadi serupa dengan Kristus.

Tujuan Etika Kita adalah bertumbuh untuk menjadi segambar dan serupa dengan Allah, Transfigurasi = menjadi makhluk terang. Bagian dari semuanya ini adalah melakukan pekerjaan baik, menjadi orang yang bermoral dan mengembangkan karakter yang stabil, berintegritas dan berkarakter. Menjadi semua ini pada waktu yang sama kita sedang berjuang melawan dosa dan aktif melakukan hal-hal yang baik. Askesis yang menghasilkan virtues (kebajikan-kebajikan) 2 Petrus 1:5-7, 1 Kor 13 inilah fondasi iman orang yang lahir baru. Tetapi iman tanpa perbuatan mati. Iman yang dibentuk dalam Askesi/ disiplin-displin rohani.

Etika dalam ayat-ayat Alkitab

Di saat khotbah di bukit Matius 5:38-39, itu decalok (10 hukum taurat).

Etika di dalam sakramen artinya di dalam liturgy yang menolong kita untuk melakukan transformasi. Liturgi yang membuat kita mengalami Tuhan secara total. Iman yang mendekatkan diri kepada Tuhan. Etika kita tidak bisa dilepaskan dari bapa-bapa gereja. Mengapa? Karena mereka yang sudah mempraktekan dan menjadi teladan bagi kita.

Hukum-hukum gereja

Seperti yang telah dituliskan oleh John Beck.

  1. Pertobatan dengan iman => kejalan yang benar dan yang tidak memiliki iman dan pertobatan maka ada penghukuman yang lebih berat.

Keselamatan itu mulai dari pertobatan Matius 4:17 = ajakan untuk masuk ke kerajaan Allah, pertobatan untuk masuk dalam kerajaan Surga. Pertobatan yang bukan hanya menjadi orang Kristen melainkan petobatan untuk masuk ke Theosis. Kerajaan Allah sudah dekat = dalam jangkauan kita, mengapa karena Firman Allah sudah menjadi manusia. Kerajan Allah sudah dekat yang dimaksud adalah firman Allah yang BERINKARNASI Ibrani 1:1-3 para nabi yang akan bernubuat bahwa ada nubuat yang terakhir. Nubuat yang terakhir itu adalah pewahyuan Allah yang sempurna. Firman Allah itu sudah berinkarnasi ada dalam jangkauan kita, sudah dekat. Sebab pada zaman dulu penyampaian pesan Allah melalui manusia tetapi sekarang Ia datang sendiri menjadi manusia. Etika kerajaan Surga mesti kita turuti Matius 11:20-22 = Yesus mengancam kota-kota yang tidak bertobat. Ajakan pertobatan itu diresponi dengan ada yang menolak dan menerima. Menolak = Khorazim dan Betsaida. Menerima = Tirus dan Sidon. Mijizat itu bukan dasar untuk membuat orang bertobat. Tuhan memberi kita kesempatan untuk bertobat, tetapi ada penghakiman ilahi. Semua orang akan dihakimi, tetapi orang yang berat bebanya akan ringan dari pada orang yang tidak bertobat. Matius 12:36, Etika kita adalah Etika penghakiman Ilahi. Bertobat adalah memutar bali,k ke jalan yang benar. Dulunya kita hidup tidak menuju theosis tetapi menuju maut. Ketika Kristus ada maka Ia mengajak kita untuk berbalik kejalan yang benar. Sebab setiap perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan. Di dalam penghakiman kita nanti ada 2 hal = dibenarkan dan ada yang dihukum.

2. Pertobatan itu mendatangkan pengampunan dosa Matius 9:6

Anak manusia mempunyai kuasa yang mengampuni dosa-dosa. Matius 18:18-19 = pertobatan itu mesti menyadari bahwa apapun yang kita lakukan di dunia ini itu aka ada nilainya di Surga/ berdampak pada kekekalan. Matius 28:20, Yoh 5:28-29 = ini penghakimannya. Roma 2:4-7, 11-12 = melakukan perbuatan baik, Allah menghakimi orang secara adil.

prinsip kehidupan

Berjaga-Jaga atau perhatian

  • Yang sangat penting adalah kewaspadaan karena kewaspadaan kita tidak membuat kita kaget dengan apa yang terjadi tiba-tiba
  • Itulah hal yang utama dan yang paling terutama dalam hidup ini dan yang paling di tekankan dalam pembelajaran kita tentang meteri Philokalia.

Pandangan Alkitab :

  • Yang paling utama dalam Alkitab tentang perhatian adalah perhatian tentang kewaspadaan.
  • Kewaspadaan yang membuat kita siap dalam setiap apa yang kita hadapi baik dalam berupa pertanyaan dan macam sebagainya.
  • Kewaspadaan atau berjaga-jagalah dalam segala hal karena kita tak tau kapan Tuhan datang.
  • Tetaplah waspada karena tidak ada satu orang pun yang tahu dengan kalender Tuhan tentang kapan Dia datang yang ke dua kalinya di dunia.
  • Jadilah seorang dari orang yang melihat Dia tidak akan datang sebagai pencuri melainkan sebagai Mempelai Pria dari jiwa kita.

Mempersiapkan penghakiman Allah

  • Sebelum waktunya telah tiba siapkan apa yang harus di hakimi nanti di waktu penghakiman Allah
  • Pergunakanlah indera yang kamu miliki dengan tidak membuat hubungan anda dengan Allah tidak terputus atau tidak cukup sampai disitu saja
  • Tetapkanlah dalam hati dan pikiran anda bahwa kamu bisa di panggil secara instan, maksudnya waktunya bisa kapan saja
  • Untuk itu persiapkanlah engkau mulai sekarang dan ambillah prinsip bahwa “aku tidak menganggur”
  • Kewaspadaan mempunyai hal yang utama dalam hidup kita karena godaan selalu datang dan mengejar setiap manusia agar menjadi orang berada di bawah kuasanya.
  • Berjaga-jaga sangatlah penting di karenakan kita tidak tahu kapan Tuhan itu datang dan tetaplah berdoa dan waspada.

Yesus sering berbicara kepada murid-murid-Nya tentang masalah kewaspadaan:

  • Penuh perhatian atas pikiran kita yang namanya penjaga tanpa tidur, maksudnya walaupun tubuh kita tidur, tetapi hati dan pikiran kita tetap berjaga-jaga, itulah Yesus mengajarkan itu kepada murid-murid-Nya.
  • Berdoalah dengan penuh perhatian, jangan sampai doamu dicuri oleh iblis dalam arti mengganggu konsentrasi anda dalam doa, berjaga-jagalah.
  • Gunakanlah pikiran yang dapat di control karena ketika kita berdoa fokuskanlah pikiranmu, bahwa kamu benar-benar berdiri dihadapan Tuhan.

Menonton :

  • Doa bukan sekedar pemberian melainkan kerja keras, maksudnya berdoa itu bukan sekedar ucapan saja melainkan batin, pikiran serta hati kita tetap focus dengan apa yang kita doakan.
  • Dan kewaspadaan dengan doa-doa kita juga menggunakan Nous dan Kardi yang benar-benar tertuju pada yang Tuhan inginkan.
  • Hati yang tetap kosentrasi dengan doa agar Nous yang kita miliki tidak jebol oleh penguasa-penguasa angkasa itu, seperti pikiran yang duniaawi dan tetap berpihak pada pikiran sendiri.
  • Pikiran yang sangat perhatian adalah pikiran yang menjaga dan mengawasi pikiran yang logismoi atau disebut juga sebagai penjaga pintu hati kita.
  • Dengan mempunyai pikiran yang sangat perhatian, ketika kita sudah tidur namun pikiran kita tidak pernah tidur dan istrahat untuk selalu menjaga kita.
  • Tetap waspada dalam doa, karena iblis tidak akan diam melihat kita untuk dekat dengan Tuhan dia selalu bertindak dan menjauhkan kita dalam hubungan yang dekat dengan Tuhan.

Mengontrol Pikiran

  • Jangan biarkan pikiranmu kosong atau memberi kesempatan dalam ruang angkasa untuk logismoi anda.
  • Logismoi anda dapat merusah masa depan anda, maka tetaplah waspada dan berjaga-jaga
  • Jagailah matamu dalam setiap perilakumu karena jika matamu jahat maka tubuhmu akan gelap.
  • Singkirkanlah semua keinginan duniawi untuk menjaga pikiran anda dengan penguasa-penguasa angkasa tersebut
  • Milikilah tombol Egemonikon untuk bisa mengontrol pikiran / Nous anda dengan lebih dekat lagi dengan Kristus

Natural & Crhist

Manusia telah berdosa sehingga disebut sebagai manusia yang berdosa dan manusia dapat jatuh karena buah Kejadian 2:17, TUHAN berfirman kepada Adam dan Hawa untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan yang ada di taman Eden. Tetapi Adam akhirnya tidak taat dengan Firman Allah melainkan ia tergoda dengan firman iblis melalui ular. Sehingga terjadilah kepada mereka sama seperti yang difirmankan Allah kepada mereka, mereka menjadi mati. Mati artinya putus hubungan dengan Allah mereka tidak memiliki hubungan kepada Allah seperti hubungan sebelumnya. Akibat dari Adam dan hawa telah berdosa akhirnya semuanya kena kutuk. Dosa Adam dan hawa mereka tanggung sendiri, akan tetapi akibat dari dosa mereka akan ditanggung oleh keturunan-keturunan mereka. Buah yang berasal dari pohon yang dihasilkan dari alam. Akan tetapi kita naturnya Adam dan Hawa sehingga akibat dari dosa mereka menghasilkan dosa. Mulai dari situlah ada benalu yang menghisap manusia untuk bisa mati. Dosa, maut/ kematian (penderitaan), dan iblis ibarat dengan benalu yang suka lengket ke pohon yang bersifat untuk membunuh dan menjadikan pohon tidak dapat berbuah dan mati. Ibarat benalu itulah iblis, maut, dan dosa. Tetapi Firman Allah akan menjelama untuk menyelamatkan manusia dari benalu yang lengket dan menghimpit manusia itu. Sebab Allah tahu bahwa tidak ada seorang pun manusia yang dapat melepaskan setiap benalu yang lengket dalam kehidupannya. Sehingga Anak Tunggal Allah yang disebut dengan Firman-Nya akan menjelma menjadi manusia. Firman yang mengambil daging, darah dan tubuh serta roh manusia itu. Ia menjalma sebab tubuh manusia itu telah rusak karena benalu tersebut. Sehingga daging dan darah manusia menjadi salah satu alat atau sarana yang dipakai Tuhan untuk melakuan karya penebusan dosa manusia.

Segala yang berada di alam telah terkutuk atau berdosa sebab akibat dosa Adam Kejadian 3:17. Segala unsur alam telah berdosa, tetapi Tuhan Yesus telah merestorasikan alam dan segala apa yang berasal dari alam. Alam yang menghasilkan pohon => kayu => salib, unsur kayu menjadi sarana yang berasal dari alam untuk menyalibkan Yesus. Kayu salib melambangkan kematian, penguburan, dan kebangkitan. Melalui sarana kayu salib yang dipakai Tuhan Yesus, Ia sedang merestorasi segala macam pohon dari kutukan dosa. Namun, bukan hanya daging dan darah serta pohon yang menjadi unsur alam yang telah terkutuk. Melainkan ada air yang berada Ia tanah. Ketika Yesus dibaptis dan kita dibaptis maka air sedang direstorasi. Air itu kita sedang dicelupkan di dalam kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus. Sehingga sekarang air yang sedang kita pakai sampai hari ini sudah terlepas dari kutuk dan benalu dosa. Kristus telah melepaskan benalu dengan ia dicelupkan di dalam air atau disebut dengan baptisan sampai sekarang. Kristus berada dalam roti dan anggur yang berasal dari unsur alam. Seperti yang tertulis di dalam Yoh 6:56 Ia berada di dalam roti, Ia sedang merestorasi hasil dari alam. Ketika kita memakannya maka Kristus seutuhnya ada di dalam hati kita. ini bukan suatu symbol saja melainkan sebuah misteri yang mengatakan bahwa itu adalah tubuh dan darah Kristus Yesus yang melaluinya semua benalu yang menghisap hidup kita telas dilepaskan-Nya. Kertas atau kitab (telah direstorasi dan kertas tidak terkutuk lagi) yakni dalam wujud Firman Yesus. Ini kertas yang berasal dari alam dan alam itu sudah restorasi oleh Allah dan dipakai untuk menuliskan Firman Tuhan.

Firman menjelma untuk keselamatan manusia, dalam menyelamatkan manusia maka ada yang perlu Dia kerjakan. Inilah yang disebut dengan karya penebusan. Kodrat Ilahi yang dimiliki oleh Firman dan berasal dari Bapa, Allah itu hidup sehingga Ia memiliki Roh Kudus. Mengapa Firman yang menjelma jadi manusia? Sebab Ia yang menjadi pola ciptaan manusia. Allah itu mempunyai gambar dan rupa dan Allah itu Roh. Jika Roh, bagaimana Ia bisa di gambarkan dan mempunyai rupa? Di dalam kekekalan Allah itu Roh, Allah punya desain, pola dan Ia telah menggambarkan diri-Nya. Firman ini yang menjadi gambar dan rupa Allah. Firman ini juga pribadi, Bapa itu sumber dari Firman dan yang mendesain Firman dan Roh yang akan memberi nafas. Tubuh manusia dibentuk dari debu tanah (alam) Kej 2:6-7, Roh Kudus yang memberi roh atau nafas hidup sehingga terbentuklah menjadi makluk hidup. Manusia dapat memiliki hikmat dan pengertian karena manusia berasal dari karya Allah Tritunggal, Allah Bapa, putera dan Roh Kudus.

Di dalam langit dan bumi yang baru kita akan menyatu, roh dan tubuh kita akan menyatu. Kalau kita merestorasi daging, buah, air dan roti & anggur, kertas dan tanah maka ini disebut dengan proses menuju serupa dengan Kristus dikerjakan bersama atau bersinergy dengan Kristus di dalam Roh Kudus. Sebab itu ketika kita telah menjadi anak-anak Allah atau manusia baru atau ciptaan baru kita terus diselamatkan menuju kesempurnaan melalui sarana roti dan daging yang secara misteri adalah darah dan daging Yesus Kristus. kita sebut dengan manusia baru karena daging kita menjadi bait Allah dan roh kita menjadi manusia baru. Ketika kita mati, tubuh ini akan disempurnakan oleh tanah dan roh kita akan masuk ke dalam alam sheol dan mengalahkan alam maut. Surat itu di dalam kertas dan kita ibarat kertas yang ditulis oleh Kristus siapa yang menjadi gamabar Allah itu.

Yoh 15:26; 16:13 => jika tidak ada Roh Kudus kita tidak bisa mengerti arti ilahi dari kitab suci ini. Roh Kudus yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan 1 Kor 12:3. Rom 8:26 => tanpa Roh Kudus kita tidak bisa berelasi dengan Allah dengan tidak bisa berdoa kepada Allah. Maka Ia disebut sebagai penolong. Kristus telah meberikan semuanya kepada kita. apa yang diberikannya kepada kita? darah dan daging (di atas salib), Firman-Nya (melalui kitab suci), Roh-Nya (dicurahkan-Nyalah Roh Kudus sebagai penolong bagi kita).

Refleksi:

  1. Tuhan telah meberikan segalanya buat kita, sehingga marilah kita tidak meremehkan karya dari Kristus untuk kita
  2. Mulai sungguh-sungguh menjadikan tubuh ini sebagai bait Allah dan hati ini sebagai wadah dari Roh Kudus
  3. Mengakui Dia sebagai Tuhan dan jurusselamat dengan sepenuh hati melalui perbuatan baik.

Kekuatan Allah

Roma 1:16-17

Marniwati Gulo

Study PB Roma – Filipi

27 Mei 2019

HISTORIA

Yunani            : Οὐ γὰρ ἐπαισχύνομαι τὸ εὐαγγέλιον, δύναμις γὰρ θεοῦ ἐστιν εἰς σωτηρίαν παντὶ τῷ πιστεύοντι, Ἰουδαίῳ τε πρῶτον καὶ Ἕλληνι. (Rom. 1:16 BGT) δικαιοσύνη γὰρ θεοῦ ἐν αὐτῷ ἀποκαλύπτεται ἐκ πίστεως εἰς πίστιν, καθὼς γέγραπται· ὁ δὲ δίκαιος ἐκ πίστεως ζήσεται. (Rom. 1:17 BGT)

(NAS)             : For I am not ashamed of the gospel, for it is the power of God for salvation to everyone who believes, to the Jew first and also to the Greek. (Rom. 1:16 NAS) For in it the righteousness of God is revealed from faith to faith; as it is written, “But the righteous man shall live by faith.” (Rom. 1:17 NAS)

ITB                 :Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. (Rom. 1:16 ITB) Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Rom. 1:17 ITB)

Penjelasan syintactic form:

ἐπαισχύνομαι (malu) = verb indicative present middle 1st person singular from ἐπαισχύνομαι; Indicative of declarative artinya Paulus memberitakan injil itu dengan tidak malu itu merupakan sesuatu hal yang fakta.

εὐαγγέλιον (kabar gemberi/injil) = noun accusative neuter singular common from εὐαγγέλιον; Acc of direct object artinya objek langsung dari kata ἐπαισχύνομαι

εἰς σωτηρίαν = noun accusative feminine singular common from σωτηρία; Accusative of Advantage artinya dengan memberitakan injil mendapat keuntungan yang itu keselamatan

δύναμις = noun nominative feminine singular common from δύναμις ; nominative of Aposiation

θεοῦ = noun genitive masculine singular common from θεός ; Subject genitive artinya Allah yang memiliki atau yang mengandung kekuatan itu

τῷ πιστεύοντι = verb participle present active dative masculine singular from πιστεύω ; participle of conditional (syarat) artinya syarat mendapatkan keselamatan itu harus percaya.

Ἰουδαίῳ καὶ Ἕλληνι = adjective dative masculine singular no degree from Ἰουδαῖος ; dative of spatial artinya menunjukkan tempat atau menjelaskan suatu tempat

Nominative subject adalah δικαιοσύνη θεοῦ

Predicatnya adalah ἀποκαλύπτεται ἐκ πίστεως εἰς πίστιν, καθὼς γέγραπται· ὁ δὲ δίκαιος ἐκ πίστεως ζήσεται

ἀποκαλύπτεται = verb indicative present passive 3rd person singular from ἀποκαλύπτω ; indicative of declarative

ἐκ πίστεως = noun genitive feminine singular common from πίστις; genitive of source

εἰς πίστιν = noun accusative feminine singular common from πίστις; Accusative of purpose

γέγραπται = verb indicative perfect passive 3rd person singular from γράφω; Indicative of declarative, perfect extensive artinya tindakan yang selesai atau yang komplit sampai sekarang.

ἐκ πίστεως = noun genitive feminine singular common from πίστις; genitive of source

Ter. Literal   :Sebab aku tidak malu dengan kabar gembira (injil), karena injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani. Ay. 17: karena di dalamnya menyatakan kebenaran Allah, dari iman kepada iman. Seperti yang tertulis orang benar hidup oleh iman.

Poin-poin sintaksis:

  1. Sebab aku tidak malu dengan kabar gembira (injil)
  2. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani
  3. Karena di dalamnya menyatakan kebenaran Allah, dari iman kepada iman. Seperti yang tertulis orang benar hidup oleh iman.

THEORIA

Poin-poin semantic conten:

  1. Paulus memberitakan injil dengan sukacita, berani serta berterus terang tentang injil itu
  2. Paulus mengandalkan injil itu dalam melayani
  3. Sebab injil adalah kekuatan Allah yaitu Kristus sendiri (1 Kor 1:24)
  4. Ketika kita percaya kepada injil kita diselamatkan berarti setiap injil yang kita terima harus direspon dengan iman
  5. Kenapa injil bisa menyelamatkan karena ada kekuatan Allah (energy Allah yang menyelamatkna)
  6. Ada satu kekuatan yang membawa orang itu keluar dari kegelapan
  7. Memberitakan injil berarti memberitakan Kristus (penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya)
  8. Bagi orang percaya, injil adalah keselamatan dan damai sejahtera pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani
  9. Injil itu diberikan kepada semua orang yahudi (yang mengenal Yesus) dan yunani (mewakili kelompok orang-orang di luar Yahudi)
  10. Berarti setiap orang percaya harus memiliki injil atau kekuatan Allah yaitu Kristus, memiliki injil berarti memiliki kemampuan dan kuasa dari Allah

Outline konsep:

Ide uatama: Injil menyelamatkan

Ide-ide pendukung:

  1. Sebab injil adalah kekuatan Allah sehingga ketika kita percaya kepada injil kita diselamatkan berarti setiap injil yang kita terima harus direspon dengan iman
  2. Memberitakan injil berarti memberitakan Kristus (penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya)
  3. Injil itu diberikan kepada semua orang yahudi (yang mengenal Yesus) dan yunani (mewakili kelompok orang-orang di luar Yahudi)

Semantic Conten:

  1. Sebab injil adalah kekuatan Allah sehingga ketika kita percaya kepada injil kita diselamatkan berarti setiap injil yang kita terima harus direspon dengan iman

Paulus sama sekali tidak malu untuk memberitakan injil sebab ia mengandalkan injil itu. Ada apa pada injil itu sehigga Paulus begitu semangat memberitakannya? Injil adalah kekuatan Allah yang mengandung energy Allah. Paulus mengalami dan telah menerima kekuatan Allah sehingga ia membangun PI dengan dasar Kristus bukan dengan dasar yang lain (Roma 15:20). Orang yang memiliki dasar Kristus dalam hidupnya seperti Paulus memberitakan injil dengan berani tanpa ada rasa malu dan takut walaupun ada banyak penderitaan yang harus di jalanin sebab orang yang berada di dalam Kristus berarti menyatu dalam penderitaan Kristus. sehingga apa yang Kristus alami pantas ia menerimanya. Injil ini bermanfaat dalam kehidupan Paulus yang mendatangkan keselamatan bagi kehidupannya. Menyatu dalam injil artinya menyatu dalam energy Allah. Dengan keteguhan imannya untuk merespon injil itu sehingga ia diselamatkan. Memberitakan injil sama halnya dengan memberitakan salib.

Dalam pokok ini Paulus mulai menyatakan bahwa ia sangat bangga dan merasa terhormat dengan pemberitaan Injil-nya.  Sangat mengherankan apabila kita mengerti latar belakang pernyataan ini.  Paulus telah dipenjarakan di Filipi, dikejar-kejar sehingga keluar dari Tesalonika, diseludupkan keluar dari Berea, dicemooh di Athena dan di Korintus pemberitaannya adalah kebodohan bagi orang Yunani dan menjadi batu-sandungan bagi orang Yahudi.  Justru karena latar belakang inilah ia menyatakan kebanggaannya atas Injil yang ia beritakan.  Ada sesuatu di dalam injil yang membuat Paulus dapat menyatakan kemenangan atas apa yang orang dapat lakukan terhadapnya.[1]

Dalam pernyataan yang ada di atas menjelaskan bahwa Paulus dengan bangga dan merasa terhormat denga penderitaan injil, mengapa demikian sebab ia tahu bahwa injil itu siapa  dan ia dapat mengerjakannya karena Injil itu adalah kekuatan Allah dengan ia memiliki injil itu otomatis ia sangat bangga dan merasa terhormat tanpa memandang berbagai tantangan dan penderitaan yang harus di alami. Sehingga dengan injil yang membuat Paulus dapat menyatakan kemenangan atas apa yang dia kerjakan. Seorang bapa gereja yang bernama St. Chrysostom berkata:

For the Cross is for our sakes, being the work of unspeakable Love towards man, the sign of His great concern for us. And in addition to what has been said, since they were puffed up with great pomposity of speech and with their cloak of external wisdom, I, he means to say, bidding an entire farewell to these reasonings, come to preach the Cross, and am not ashamed because of it: “for it is the power of God to salvation.” For since there is a power of God to chastisement also (for when He chastised the Egyptians, He said, “This is My great power,10 “) (Joel ii. 25) and a power to destruction, (for, “fear Him,” He says, “that is able to destroy both body and soul in hell”), (Matt. x. 28) for this cause he says, it is not these that I come to bring, the powers of chastisement and punishment, but those of salvation.[2]

Dalam 2 Tim 1:8 Paulus juga menasehatkan Timotius untuk tidak malu dalam memberitakan injil. Tujuan Paulus menasehatkannya supaya iman Timotius semakin kuat di dalam Tuhan. Kekuatan dalam memberitakan injil tidak dapat diperoleh tanpa memiliki injil atau kekuatan Allah. Imanlah yang bersinergy dengan kekuatan Allah ini bukan semata-mata hanya sekedar percaya saja tanpa mengenal injil dengan benar. Artinya memiliki injil berarti memiliki keyakinan yang kokoh. 1 Tesalonika 1:5, mengatakan bahwa injil yang disampaikan oleh Paulus bukan dengan kata-kata yang berasal dari dirinya sendiri melainkan kata-kata yang berasal dari kekuatan Allah oleh Kuasa Roh Kudus dengan kepastian yang kokoh dan tak tergoyahkan lagi. Manusia tak dapat melakukannya sendiri tetapi Allah memberikan kita penolong yang selalu menyertai dan memberikan penuntun bagi kita. Bukan kata-katanya yang berkuasa tetapi Roh Kuduslah yang memberikan keyakinan bagi setiap manusia melalui kata-kata yang memberikan pengenalan akan Tuhan. Dengan itulah pentinya sebuah respon atas injil itu.

Apa yang perlu kita aplikasikan dalam kehidupan kita? yaitu dengan mengandalkan injil itu artinya mengandalkan kekuatan Allah atau Yesus Kristus dalam hidup ini dengan penuh keteguhan hati dan kepercayaan kepada-Nya. Maksudnya percaya dan menerimanya dengan iman dan tidak merasa malu karena injil sehingga mulailah untuk memberitakan injil itu.

  1. Memberitakan injil berarti memberitakan Kristus (penderitaan, kematian, dan kebangkitan)

Bagi orang yang tidak percaya memberitakan salib itu suatu hal yang bodoh menuju kebinasaan tetapi bagi orang percaya yang telah meresponnya dengan iman itu adalah keselamatan karena injil itu kekuatan Allah. Memberitakan injil sama artinya dengan memberitakan salib, memberitakan salib artinya ikut menderita dengan memikul salib. Dengan nasehat Paulus kepada Timotius merupakan suatu hal yang menguatkan imannya Timotius agar tetap bersaksi walaupun ada banyak penderitaan yang harus di alami (2 Tim. 1:8). Memberitakan injil itu ikut menderita bersama dengan Kristus, ikut bersama dalam kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya. Bagaimana dengan orang-orang yang malu untuk memeberitakan salib atau injil itu? Yesus Kristus atau Anak Allah juga akan malu ketika ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat Kudus (Mar 8:38).

Kalau kabar baik atau yang disebut Injil berarti dalam kabar baik tersebut pastilah berbicara tetang pribadi Yesus sendiri yang di mana oleh-Nya keselamatan telah datang ke dunia dan Yesus sendiri adalah Firman, Alkitab mengatakan bahwa Allah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Fil 2:6-7), berdasarkan ayat tersebut jelaslah bahwa Injil adalah Firman dan Firman itu adalah Allah sendiri (Yoh 1:1).[3]

Apa yang dapat dikerjakan oleh Kuasa Ilahi yang diberikan oleh Allah kepada kita yang telah meresponi injil itu? Kuasa Allah itu sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng sebab yang di pakai adalah bukan senjata yang diperlengkapi oleh Dunia (2 Kor 10:5). Orang-orang yang siap ikut menderita bersama Kristus itu berani mengambil resiko apa saja, berani di hina, di caci maki, di perlakukan tidak adil dan tidak membalaskan kejahatan kepada orang yang berbuat jahat dan penderitaan lainnya. Sebab siapa yang kita percaya berkuasa memelihara apa yang dipercayakan-Nya kepada kita hingga pada hari Tuhan (2 Tim 1:12). Injil pula mengandung kebenaran dari Allah. Sebab tidak ada kebenaran selain dari pada-Nya dan kebenaran itu adalah Kristus sendiri. Apakah kita bisa mendapatkan kebenaran itu? Kita bisa hidup dalam kebenaran itu bukan dengan karena mentaati Hukum Taurat melainkan dengan kebenaran yang dianugerahkan Allah berdasarkan kepercayaan kita (Filipi 3:9) hidup di dalam kebenaran itu artinya memiliki dan percaya, tetapi kepercayaan manusia tidak cukup sebab itu adalah anugerah yang diberikan Allah kepada kita. St. Chrysostom as a Homilist berkata:

But he who hath become just shall live, not for the present life only, but for that which is to come. And he hints not only this, but also another thing along with this, namely, the brightness and gloriousness of such a life. For since it is possible to be saved, yet not without shame (as many are saved of those, who by the royal humanity are released from punishment), that no one may suspect this upon hearing of safety, he adds also righteousness; and righteousness, not thine own, but that of God; hinting also the abundance of it and the facility.13 For you do not achieve it by toilings and labors, but you receive it by a gift from above, contributing one thing only from your own store, “believing.” Then since his statement did not seem credible, if the adulterer and effeminate person, and robber of graves, and magician, is not only to be suddenly freed from punishment but to become just, and just too with the highest righteousness; he confirms his assertion from the Old Testament.[4]

  1. Injil diberikan kepada semua orang, baik orang Yahudi dan kepada orang Yunani

Tetapi keselamatan Paulus tidak mau kalau ia sendiri yang menikmati keselamatan itu. Injil diberikan kepada semua orang baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Orang Yahudi yang dimaksud adalah mereka yang mengenal Yesus dan memiliki Yesus. Orang Yunani disini adalah kelompok orang-orang selain orang Yahudi. Ini menunjukkan bahwa Yesus datang bukan hanya kepada orang-orang Yahudi saja melainkan Ia datang kepada semua orang. Tujuan kedatangan-Nya adalah untuk memperkenalkan injil itu bahwa injil itu menyelamatkan. Memang injil atau Kristus datang kepada semua orang tetapi bagaimana dengan orang-orang yang tidak menerimanya dalam arti menolak dan tidak meresponnya? Sudah jelas bahwa orang itu tidak bisa diselamatkan sebab kedatangan injil itu harus di respon dengan iman. Orang yang akan diselamatakan oleh iman adalah orang yang hidup benar oleh iman dan ia berkenan kepada-Nya (Ibrani 10:38). Orang yang diselamatkan dengan injil oleh iman adalah orang yang berkenan kepada-Nya. Apakah injil itu pantas diterima oleh orang yang hidupnya berantakan, mabuk-mabukan, pelacur, pencuri dan dosa lainnya? Memang injil itu datang kepada orang berdosa dengan tujuan untuk menyelamatkannya tetapi harus ada tindakan yang perlu dikerjakan yaitu meninggalkan perbuatan dosa itu dalam arti tidak hidup lagi dalam dosa. Sehingga orang itu berkenan kepada Tuhan dan ia harus hidup dalam kebenaran oleh iman. Iman kepada Tuhan sangat perlu dan penting tetapi tanpa bukti atau tindakan maka semuanya tidak ada artinya. Sehingga iman yang diperlukan adalah iman yang hidup yang mengerjakan perbuatan baik dan yang berkenan kepada Tuhan. St. Chrysostom as a Homilist berkata:

For it is not to all absolutely, but to them that receive it. For though thou be a Grecian (i.e. Heathen), and even one that has run into every kind of vice, though a Scythian, though a barbarian, though a very brute, and full of all irrationality, and burdened with the weights of endless sins, no sooner hast thou received the word concerning the Cross, and been baptized, than thou hast blotted out all these; and why says he here, “to the Jew first, and also to the Greek?” What meaneth this difference? and yet he has often said, “Neither circumcision is anything, nor uncircumcision” (1 Cor. vii. 19. see Gal. v. 6 and vi. 15); how then doth he here discriminate, setting the Jew before the Greek? Now why is this? seeing that by being first he does not therefore receive any more of the grace (for the same gift is bestowed both on this person and that,) but the “first” is an honor in order of time only.[5]

Orang yang mengenal Hukum Taurat adalah orang yang telah mengenal dan percaya Yesus Kristus, orang yang telah mengenal dan percaya Yesus Kristus adalah orang yang telah diselamatkan. Bagaimana dengan orang yang tidak mengenal Hukum Taurat, apakah mereka tetap diselamatakan atau tidak? Jawabannya adalah itu menurut keadilan Allah, tetapi setiap manusia Allah telah menaruh hati Nurani dalam kehidupannya sehingga dengan hati Nurani mereka dapat mengenal yang baik dan buruk, mengenal yang benar dan yang salah. Sehingga dengan dorongan hati Nurani mereka tanpa sadar mereka telah melakukan Hukum Allah (Gal 3:11). Dengan injil diberikan kepada semua orang bukan berarti semua orang diselamatkan tetapi keselamatan ada bagi orang yang percaya.

Kata Yunani Pisteuo memiliki arti yang mendalam.  Mempercayai isi injil hanya sebagian dari makna kata tersebut.  Diluar makna kata tersebut mengandung arti percaya atau komitmen pribadi sampai ke tingkat menyerahkan seluruh diri kepada orang lain.  Sekalipun percaya mencakup sikap tanggap suatu kebenaran atau serangkaian kebenaran, sikap tanggap ini sekedar berupa persetujuan intelektual, tetapi lebih berupa keterlibatan menyeluruh didalam kebenaran yang dipercayai itu.  Percaya kepada Kristus berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Dia.  Mengandalkan Kristus artinya menjadi terlibat sepenuhnya didalam kebenaran-kebenaran abadi yang diajarkan oleh Dia dan tentang Dia didalam perjanjian moral, suatu pengabdian dan penyucian diri yang tanpak di dalam setiap aspek kehidupan[6]

Apa yang perlu kita lakukan atau aplikasikan jika injil itu berlaku kepada semua orang? Yaitu dengan kita memperkenalkan dan membawa injil itu kepada mereka sehingga kuasa Roh Kuduslah yang bekerja di dalam hati seseorang. Tugas kita sebagai pemimpin rohani adalah membawa kabar baik atau injil itu tanpa malu dan tidak memandang bulu kepada semua orang.

Ringkasan:

Injil yang disampaikan oleh Paulus bukan dengan kata-kata yang berasal dari dirinya sendiri melainkan kata-kata yang berasal dari kekuatan Allah oleh Kuasa Roh Kudus dengan kepastian yang kokoh dan tak tergoyahkan lagi sehingga injil dapat menyelamatkan. Bagi orang percaya injil adalah keselamatan tetapi bagi orang yang tidak percaya injil merupakan suatu kebodohan dan kebinasaan.

MORAL

Aplikasi:

  1. Meneladani keberanian Paulus dalam memberitakan injil, tidak merasa malu dan terhina.
  2. Setia dalam melakuannya sampai akhir hidup kita
  3. Selalu mengandalkan injil sebab injil itu Kristus sendiri.

[1] William Barclay, Pemahaman Alkitab sehari-hari Surat Roma (Bpk Gunung Mulia)

[2] John Chrysostom, The homilies of st. John Chrysostom on the Acts of the Apostles and the epistle to the Romans. Volum XI dari Nicene and Post Nicene Fathers of The Chirstian Church, Philip Schaff ed., (Grand Rapids: Eerdmans Publishing Company, 1887)

[3] http://davnny.blogspot.com/2013/08/eksegese-kitab-roma-116-17.html

[4] John Chrysostom, The homilies of st. John Chrysostom on the Acts of the Apostles and the epistle to the Romans.

[5] John Chrysostom, The homilies of st. John Chrysostom on the Acts of the Apostles and the epistle to the Romans.

[6] Tafsiran Alkitab Wyclife, vol 3, (Yayasan Gandum Mas), 517

HADIAH APA YANG KAMU MAU PEROLEH 2 Timotius 4:6-8

Baca teks Yunani

Ἐγὼ γὰρ ἤδη σπένδομαι, καὶ ὁ καιρὸς τῆς ἀναλύσεώς μου ἐφέστηκεν. (2 Tim. 4:6 BGT) τὸν καλὸν ἀγῶνα ἠγώνισμαι, τὸν δρόμον τετέλεκα, τὴν πίστιν τετήρηκα· (2 Tim. 4:7 BGT) ύνης στέφανος, ὃν ἀποδώσει μοι ὁ κύριος ἐν ἐκείνῃ τῇ ἡμέρᾳ, ὁ δίκαιος κριτής, οὐ μόνον δὲ ἐμοὶ ἀλλὰ καὶ πᾶσιν τοῖς ἠγαπηκόσιν τὴν ἐπιφάνειαν αὐτοῦ. (2 Tim. 4:8 GNT)

Buat/copy syntactic form

Penjelasan syntactic form:

ayat 6:

ada 2 kalimat atau klausa di ayat 6. Pertama, Ἐγὼ γὰρ ἤδη σπένδομαι. Subjeknya adalah Ἐγὼ dan predicatnya adalah ἤδη σπένδομαι. Kedua, ὁ καιρὸς τῆς ἀναλύσεώς μου ἐφέστηκεν. Subjeknya adalah ὁ καιρὸς τῆς ἀναλύσεώς μου dan predicatnya adalah ἐφέστηκεν

Ἐγὼ = pronoun personal nominative singular from ἐγώ

σπένδομαι = indicative, present, passive, person singular; present progressive artinya pencurahan darah Rasul Paulus sebagai korban sedang terjadi

ὁ καιρὸς = Nominative subject berfungsi sebagai subject dari ἐφέστηκεν

τῆς ἀναλύσεώς = noun, genintive, feminine, singular; genitive of description menjelaskan kata ὁ καιρὸς

μου = pronoun personal genitive singular from ἐγώ ; genitive possessive (milik/kepemilikan) dari τῆς ἀναλύσεώς

ἐφέστηκεν = verb indicative perfect active 3rd person singular from ἐφίστημι ;perfect of intensive menjelaskan hasil tindakan dia dari masa lampau sampai sekarang.

Terjemahan Literal:

Sebab aku sedang dicurahkan sebagai korban persembahan darah dan waktu keberangkatanku sudah dekat

Syntactic conten:

  1. Sebab aku sedang dicurahkan sebagai korban persembahan darah
  2. Waktu keberangkatanku sudah dekat

Semantic conten:

  1. Nyawa rasul Paulus sedang dipertaruhkan atau dicurahkan kepada Allah
  2. Hidup sampai kematian rasul Paulus adalah suatu korban kepada Allah
  3. Kematian rasul Paulus sudah dekat
  4. Kematian Rasul Paulus demi injil Kristus atau pelayanannya kepada Kristus

Konsep teologis

Ide utama: Kematian Rasul Paulus

Ide pendukung:

  1. Kematian Rasul Paulus adalah korban kepada Allah
  2. Kematiannya sudah dekat dengan cara mencurahkan darah atau kematian martir
  3. Kematiannya demi Kristus atau injil Kristus

Penjelasan konsep teologisnya:

Kematian Rasul Paulus diibaratkan seperti korban darah yang dipersembahkan kepada Allah. Ini artinya kematiannya adalah suatu persembahan korban kepada Allah.

Bapa gereja john crysostom juga menyatakan bahwa He has not said of my sacrifice; but, what is much more, “of my being poured out.” For the whole of the sacrifice was not offered to God, but the whole of the drink-offering was.[1]

Kematiannya yang dipersembahkan kepada Allah adalah untuk kepentingan jemaat atau gereja (Filipi 2:17). Darah yang dicurahkan disini berarti nyawa yang dipersembahkan sebagai korban kepada Allah demi kepentingan jemaat atau pelayanan kepada Kristus (Filipi 2:17). Rasul Paulus mempersembahkan darahnya atau nyawanya diatas korban yang dipersembahkan oleh jemaat kepada Allah. Menurut Hendi yang menafsirkan Filipi 2:17, “Paulus mati martir dan ini seperti pengorbanan darah yang dicurahkan diatas korban. Namun walaupun aku harus mati sebagai martir dan ini seperti pengorbanan darah yang dicurahkan di atas korban yang kamu persembahkan kepada Allah atas dorongan percayamu kepada-Nya. [2]

Nyawa yang dipersembahkan kepada adalah adalah kembali berada bersama dengan Kristus (Filipi 1:23) dan ini adalah keuntungan bagi rasul Paulus sebab dia berada bersma dengan Kristus yang dia layani (Filipi 1:21). Itulah sebabnya rasul Paulus juga bersukacita (Filipi 2:17) dan mengajak jemaat Filipi bersukacita bersamanya (Fil 2:18). John Crhrysostom menuliskan

For this he implies, when he says, “Yea, and if I am offered upon the sacrifice and service, I joy and rejoice with you all; and in the same manner do ye also joy and rejoice with me.” Why dost thou rejoice with them? Seest thou that he shows that it is their duty to rejoice? On the one hand then, I rejoice in being made a libation; on the other, I rejoice with you, in having presented a sacrifice; “and in the same manner do ye also joy and rejoice with me,” that I am offered up; “rejoice with me,” “who rejoice in myself.” So that the death of the just is no subject for tears,[3] but for joy. If they rejoice, we should rejoice with them. For it is misplaced for us to weep, while they rejoice.

Ringkasan:

Darah yang dicurahkan oleh Rasul Paulus adalah nyawa yang dipersembahkan sebagai korban kepada Allah demi kepentingan jemaat atau pelayan kepada Kristus. Dan rasul Paulus menganggap itu suatu keuntungan dan dia bersukacita. Kematian bagi orang percaya adalah sukacita dan keuntungan bukan suatu yang menakutkan dan menyedihkan sebab ketika kematian itu datang kita sudah mempersembahkan hidup kita kepada Allah sebagai korban yang berkenan kepada-Nya.

Aplikasi

  1. Meneladani hidup rasul Paulus yang setia melayani Gereja dan memberitakan injil Kristus kepada orang-orang di luar Gereja
  2. Melayani dan taat sampai mati seperti Rasul Paulus sampai mati

Ayat 7 & 8

Teks Yunani: Τὸν ἀγῶνα τὸν καλὸν ἠγώνισμαι, τὸν δρόμον τετέλεκα, τὴν πίστιν τετήρηκα· (2 Tim. 4:7 BYZ) λοιπὸν ἀπόκειταί μοι ὁ τῆς δικαιοσύνης στέφανος, ὃν ἀποδώσει μοι ὁ κύριος ἐν ἐκείνῃ τῇ ἡμέρᾳ, ὁ δίκαιος κριτής, οὐ μόνον δὲ ἐμοὶ ἀλλὰ καὶ πᾶσιν τοῖς ἠγαπηκόσιν τὴν ἐπιφάνειαν αὐτοῦ. (2 Tim. 4:8 GNT)

Penjelasan sintactic form:

  • ἠγώνισμαι (pertandingan) = verb indicative perfect middle or passive deponent 1st person singular from ἀγωνίζομαι; indicative of declarative atau fakta, perfect extensive artinya menekankan tindakan yang selesai atau yang komplit.
  • ἀγῶνα (pertandingan) = noun accusative masculine singular from ἀγών; Accusative of direct objek artinya objek langsung dari kata ἠγώνισμαι
  • καλὸν (baik) = adjective accusative masculine singular no degree from καλός; Accusative of result artinya hasil dari pertandingan yang menjelaskan kata ἀγῶνα (pertandingan) ia menghasilkan yang baik dalam pertandingannya
  • τετέλεκα (mengakhiri) = verb indicative perfect active 1st person singular from τελέω; Indicative of declarative, perfect extensive artinya tindakan yang dilakukan secara komplit.
  • πίστιν (iman) = noun accusative feminine singular from πίστις; Accusative of direct objek, artinya objek langsung dari kata τετήρηκα (memelihara)
  • ὁ στέφανος (mahkota) = noun nominative masculine singular from στέφανος; Nominative of subject
  • predicatnya adalah ἀπόκειταί λοιπὸν μοι
  • τῆς δικαιοσύνης (kebenaran/keadilan) = noun genitive feminine singular from δικαιοσύνη; Genitive of advantage artinya keuntungan yang berasal dari kata ὁ στέφανος
  • ὁ κριτής, δίκαιος = Nominative of apposition artinya nominative tambahan
  • ὁ κύριος = noun nominative masculine singular from κύριος; nominative of apposition artinya keterangan tambahan dari kata ὁ κριτής, δίκαιος
  • ἐκείνῃ (hari itu juga) = adjective demonstrative dative feminine singular from ἐκεῖνος; dative of apposition artinya kepemilikan
  • ἠγαπηκόσιν (kasih, rindu) = verb participle perfect active dative masculine plural from ἀγαπάω; participle of respect artinya kepada orang yang memberikan penghargaan atau respectnya yang dijelaskan oleh kata πᾶσιν (semua orang)
  • πᾶσιν = adjective dative masculine plural from πᾶς; dative direct objek artinya objek langsung dari kata ἠγαπηκόσιν
  • τὴν ἐπιφάνειαν (Rupa) = noun accusative feminine singular from ἐπιφάνεια; Accusative of direct object merupakan objek langsung
  • αὐτοῦ = noun pronoun genitive masculine 3rd person singular from αὐτός; Genitive of apposition yang menyatakan kepemilikan.

Terjemahan Literal:

Aku telah berjuang untuk sebuah hadiah dengan pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, aku telah memelihara iman. Sekarang sudah tersedia mahkota kebenaran bagiku yang akan dikaruniakan oleh Tuhan, untuk memberikan upah pada hari-Nya; tetapi tidak hanya kepadaku melainkan juga kepada semua yang rindu melihat Rupa-Nya.

Poin-poin sintacsis:

  1. Aku telah berjuang untuk sebuah hadiah dengan pertandingan yang baik
  2. Aku telah mencapai garis akhir
  3. Aku telah memelihara iman
  4. Sekarang sudah tersedia mahkota kebenaran bagiku yang akan dikaruniakan oleh Tuhan,
  5. Untuk memberikan upah pada hari-Nya
  6. Tetapi tidak hanya kepadaku melainkan juga kepada semua orang yang rindu melihat rupa-Nya

Poin-poin semantic:

  1. Paulus telah mencapai garis finis dari pelayanannya dengan baik dan mendapatkan hadiah dari Tuhan
  2. Paulus bertanding dengan mempertaruhkan nyawanya, pertandingan yang rela berkorban
  3. Paulus memberikan kita teladan iman yaitu memeliharanya sampai akhir hidup
  4. Paulus memperoleh mahkota yang disediakan Allah kepadanya
  5. Mahkota yang tersedia tidak terbatas bagi orang-orang yang memiliki kerinduan untuk menjadi segambar dan serupa dengan Allah
  6. Orang yang mempertaruhkan hidupnya demi injil akan menerima upah dari Allah, sehingga Paulus memberikan tugas ini juga kepada Paulus.

Outline konsep:

Ide utama: Memperoleh Mahkota yang abadi

Ide-ide pendukung:

  1. Berjuang hingga mencapai garis finish dengan baik
  2. Mempertaruhkan nyawa demi Kristus dan memelihara imannya sampai mati
  3. Mahkota yang abadi hanya diperoleh oleh orang yang mau kembali kepada Allah dan mau melihat rupa Allah

[1] John Chrysostom, The homilies of st. John Chrysostom on the epistles of st. Paul the apostle to Timothy, Titus, and Philemon. Volum XIII dari Nicene and Post Nicene Fathers of The Chirstian Church, Philip Schaff ed., (Grand Rapids: Eerdmans Publishing Company, 1887), 511

[2] Hendi, Tafsiran surat Filipi: Sebuah Analisis Colon (Yogyakarta: leutikaprio, 2017), 59

[3] Chrysostom, The homilies of st. John Chrysostom on the epistles of st. Paul the apostle to Philippias, Colossians, and Thesalossias, 223

Kristus Adalah Pintu Bagi Domba-Domba Itu

Langkah yang harus dilakukan dalam menggalih ayat Alkitab yaitu sebagai berikut:

HISTORIA

  1. Yohanes 10:7-10
  2. Ayat 7: Yesus berkata kepada mereka lagi, sesungguhnya benar-benar Aku berkata kepadamu bahwa Aku adalah pintu dari domba-domba itu

Ayat 8: semua yang datang (sebelum Aku) adalah pencuri-pencuri dan perampok-perampok, tetapi domba-domba itu tidak mendengarkan mereka

Ayat 9: Aku adalah pintu itu, jika ada seseorang masuk melalui Aku maka dia akan diselamatkan dan dia akan keluar dan menemukan padang rumput.

Ayat 10: pencuri tidak datang kecuali untuk mencuri dan membunuh dan mebinasakan. Aku datang supaya mereka memiliki hidup dan memiliki kelimpahan

  1. Poin-poin sintaksis:
  2. Yesus berkata kepada mereka lagi, sesungguhnya benar-benar Aku adalah pintu dari domba-domba itu
  3. Semua yang datang (sebelum Aku) adalah pencuri-pencuri dan perampok-perampok
  4. Tetapi domba-domba itu tidak mendengarkan mereka
  5. Aku adalah pintu itu
  6. Jika ada seseorang masuk melalui Aku maka dia akan diselamatkan dan dia akan masuk, akan keluar dan menemukan padang rumput.
  7. Pencuri tidak datang kecuali untuk mencuri dan membunuh dan mebinasakan
  8. Aku datang supaya mereka memiliki hidup dan memilikinya secara kelimpahan

THEORIA

  1. Poin-poin semantic:
  2. Yesus adalah pintu dari kandang domba-domba itu
  3. Gembala domba masuk melalui Yesus
  4. Pencuri-pencuri dan perampok-perampok tidak lewat Yesus (pintu)
  5. Domba-domba tidak mendengarkan
  6. Kalau gembala domba-dombanya mendengar.
  7. Barangsiapa yang masuk melalui Yesus (pintu) maka ia akan diselamatkan dan mendapatkan padang rumput Padang rumput itulah hidup berkelimpahan.
  8. Barang siapa yang tidak melalui pintu maka ia akan binasa.
  9. Masuk melalui pintu => gembala => menuntun domba ke padang rumput -> hidup
  10. Masuk melalui tembok => pencuri/perampok => membinasakan
  11. Kalau tidak lewat Yesus maka menuju kebinasaan.

Di sini kita mengerti bahwa Yesus adalah jalan masuk untuk mendapat hidup yang berkelimpahan. Maksud dari Yesus adalah pintu kandang domba itu artinya Yesus adalah jalan (akses) masuk dan keluar satu-satunya yang benar menuju hidup berkelimpahan. Selain dari Yesus yang ada adalah kebinasaan. Berarti tidak ada pilihan lain sebab tidak ada jalan lain yang benar. Untuk mendapat hidup itu selain dari lewat pintu itu maka ada gembala yang menuntun domba-domba itu.

Selain itu siapapun yang masuk tidak lewat pintu itu dia akan binasa. Perampok-perampok dan pencuri-pencuri itu ada dan sudah menunggu di luar sehingga membuat domba itu dibunuh dan dibinasakan.

Outline konsep:

Ide utama: Yesus adalah pintu bagi domba-domba itu

Ide-ide pendukung:

  1. Yesus adalah jalan satu-satunya yang benar menuju hidup yang berkelimpahan
  2. Selain dari pintu (akses) yang adalah kebinasaan
  3. Kehidupan yang berkelimpahan itu adalah hidup yang dituntut ke padang rumput.
  4. Untuk selamat butuh pintu dan gembala

Semantic conten:

Yoh 14:6, Dia adalah pintu yang benar dan satu-satunya berarti jalan menuju hidup. Jalan menuju kepada Bapa itu maksudnya jalan menuju hidup yang berkelimpahan. Berarti berada bersama dengan Allah itu berada dalam hidup yang berkelimpahan.

  • Tujuan akhir dari domba-domba ini adalah jalan menuju kepada hidup yang berkelimpahan artinya hidup berada bersama Allah.
  • Ada dua penolong yaitu: Yesus (gembala) dan kedua adalah Roh kudus (Yoh 14:16-17). Roh Kudus adalah penolong yang lain yang di utus oleh Allah Bapa untuk menuntun domba. Bagaimana domba tetap jalan dalam jalan yang benar itu? Itulah peranan Roh Kudus.

Ringkasan

Tiada pintu dan gembala selain dari Yesus Kristus sendiri sehingga semua manusia yang percaya kepada-Nya harus masuk melewati Dia. Dalam mengikut dan melewati Dia ada yang menjadi penolong dan penuntun bagi kita yaitu Roh Kudus yang Allah Bapa berikan kepada manusia.

MORAL:

Aplikasi

  1. Tetap taat dengan tuntunan dari Roh Kudus
  2. Menjadi domba yang mengenal dan menaati gembalanya (Yesus Kristus)
  3. Menjadi Gereja teladan di tengah-tengah ketidaksetiaan dunia dengan meneladani gembala (Kristus)

Marniwati Gulo

Dr. Hendi Wijaya, S.S

Study PB

KOLOSE 2:16-19

Ayat 16

Yunani: Μὴ οὖν τις ὑμᾶς (acc = Iderect object)  κρινέτω (imperative => negative, present (progressive = sekarang) ἐν βρώσει (dative: couse) καὶ ἐν πόσει ἢ ἐν μέρει ἑορτῆς ἢ νεομηνίας ἢ σαββάτων· (Col. 2:16 GNT)

KJV: Let no man therefore judge you in meat, or in drink, or in respect of an holyday, or of the new moon, or of the sabbath days: (Col. 2:16 KJV)

ITB: Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru atau pun hari Sabat; (Col. 2:16 ITB)

Sintaksis form:

Karena itu jangan seorangpun menghakimi kalian, mengenai makanan dan minuman atau hari raya, bulan baru, atau hari-hari sabat,

Penjelasan syntaksis form:

Teks atau ayat 16-17 adalah satu kalimat. Ada kata οὖν yang menghubungkan teks atau ayat sebelumnya

Subjeknya adalah τις, predikatnya adalah Μὴ ὑμᾶς κρινέτω ἐν βρώσει καὶ ἐν πόσει ἢ ἐν μέρει ἑορτῆς ἢ νεομηνίας ἢ σαββάτων ἅ ἐστιν σκιὰ τῶν μελλόντων, τὸ δὲ σῶμα τοῦ Χριστοῦ. Kata Μὴ ὑμᾶς κρινέτω adalah inti dari predikatya.

ἐν βρώσει καὶ ἐν πόσει ἢ ἐν μέρει = noun dative neuter singular common from ἐν μέρει ἑορτῆς ἢ νεομηνίας ἢ σαββάτων = dative diikuti preposisi ἐν yang berfungsi sebagai reference.

Ayat 17:

  1. Yunani: ἅ ἐστιν (ind=> potential (belum jadi kenyataan), present => substantion “keterangan tambahan”) σκιὰ τῶν μελλόντων, τὸ δὲ σῶμα τοῦ Χριστοῦ (gen => predicat). (Col. 2:17 GNT)
  2. KJV: Which are a shadow of things to come; but the body is of Christ. (Col. 2:17 KJV)
  3. ITB: semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. (Col. 2:17 ITB)

Terjemahan Literal

Semuanya itu yang adalah bayangan yang akan datang tetapi substansinya (wujud nyatanya) adalah Kristus

ἅ = pronoun relative nominative neuter plural from ὅς yang diterjemahkan “yang”

τοῦ Χριστοῦ = noun genitive masculine singular from Χριστός = dative of source

Bayangan yang dimaksud adalah bayangan Kristus = Hukum Taurat

Tubuh/wujud = Kristus

Poin-poin sintaksis:

  1. Jangan seorangpun menghakimi kalian, mengenai makanan dan minuman atau hari raya, bulan baru, atau hari-hari sabat
  2. Hal-hal itu adalah bayangan yang akan datang
  3. Tetapi wujud nyatanya adalah Kristus

Poin-poin semantic conten:

  1. Hukum Taurat itu adalah bayangan dari Kristus
  2. Hukum taurat itu digenapi di dalam Kristus artinya bayangan tadi sekarang telah menjadi nyata yaitu Kristus
  3. PL adalah bayangan Kristus
  4. PB adalah wujudnya atau tubuh dari bayangan itu yaitu Kristus
  5. Sekarang kita tidak lagi hidup di dalam bayangan hukum taurat tapi hidup di bawah kegenapan hukum taurat yaitu Kristus sehingga hidup kita focus kepada Kristus

Ayat 18-19

  1. Yunani: μηδεὶς ὑμᾶς καταβραβευέτω θέλων ἐν ταπεινοφροσύνῃ καὶ θρησκείᾳ τῶν ἀγγέλων, ἃ ἑόρακεν ἐμβατεύων, εἰκῇ φυσιούμενος ὑπὸ τοῦ νοὸς (gen agency) τῆς σαρκὸς αὐτοῦ, (Col. 2:18 GNT) καὶ οὐ κρατῶν τὴν κεφαλήν, ἐξ οὗ πᾶν τὸ σῶμα διὰ τῶν ἁφῶν καὶ συνδέσμων  ἐπιχορηγούμενον καὶ συμβιβαζόμενον αὔξει  τὴν αὔξησιν τοῦ θεοῦ. (Col. 2:19 GNT)
  2. NAS: Let no one keep defrauding you of your prize by delighting in self-abasement and the worship of the angels, taking his stand on visions he has seen, inflated without cause by his fleshly mind, (Col. 2:18 NAS) KJV: And not holding the Head, from which all the body by joints and bands having nourishment ministered, and knit together, increaseth with the increase of God. (Col. 2:19 KJV)
  3. ITB: Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, (Col. 2:18 ITB) ITB: sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan Ilahinya. (Col. 2:19 ITB)

Penjelasan Ayat:

Nominative subject adalah μηδεὶς (jangan ada seorangpun) = pronoun indefinite nominative masculine singular from μηδείς. Merupakan sabjek dari kalimat yang akan dijelaskan

Predikatnya adalah καταβραβευέτω θέλων ἐν ταπεινοφροσύνῃ καὶ θρησκείᾳ τῶν ἀγγέλων, ἃ ἑόρακεν ἐμβατεύων, εἰκῇ φυσιούμενος ὑπὸ τοῦ νοὸς τῆς σαρκὸς αὐτοῦ, καὶ οὐ κρατῶν τὴν κεφαλήν, ἐξ οὗ πᾶν τὸ σῶμα διὰ τῶν ἁφῶν καὶ συνδέσμων  ἐπιχορηγούμενον καὶ συμβιβαζόμενον αὔξει  τὴν αὔξησιν τοῦ θεοῦ

καταβραβευέτω = verb imperative present active 3rd person singular from καταβραβεύω

 (Imperative = kata perintah dengan present progressive/sedang terjadi)

Kata kerja καταβραβευέτω dijelaskan oleh 4 participle dan 4 anak kalimat yaitu: θέλων, ἐμβατεύων, φυσιούμενος, dan κρατῶν

θέλων  = part present artinya manner / menjelaskan cara καταβραβευέτω

ἐν ταπεινοφροσύνῃ (kerendahan diri) = noun dative feminine singular common from ταπεινοφροσύνη  (dative sphehe artinya menjelaskan sphere suasana)

ἐμβατεύων (masuk) = verb participle present active nominative masculine singular from ἐμβατεύω (par => manner)

φυσιούμενος (membesar-besarkan diri) = verb participle present passive nominative masculine singular from φυσιόω (par =>manner, present=>extending “tindakan yang sudah dimulai dari masa lampau masih berlangsung sampai sekarang)

ὑπὸ τοῦ νοὸς = noun genitive masculine singular common from νοῦς (gen of means menjelaskan alat dari φυσιούμενος)

τῆς σαρκὸς = genitive of descriptive menjelaskan deskripsi dari τοῦ νοὸς

κρατῶν = verb participle present active nominative masculine singular from κρατέω (part => ag means)

οὗ = kata ganting dari kepala dia membentuk anak kalimat yang menjelaskan frasa τὴν κεφαλήν

τοῦ θεοῦ = genitive of source dari

διὰ τῶν ἁφῶν καὶ συνδέσμων = noun genitive masculine plural common from σύνδεσμος (gen => means dari kata ἐπιχορηγούμενον καὶ συμβιβαζόμενον)

συμβιβαζόμενον  = verb participle present passive nominative neuter singular from συμβιβάζω (part =>manner dari kata kerja αὔξει)

αὔξει = verb indicative present active 3rd person singular from αὐξάνω (indicative =>declarative “fakta yang positif” present descriptive)

Terjemahan literal

Jangan ada seorangpun merampas kemenangan kamu, dengan cara ingin di dalam merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat-malaikat; masuk di dalam hal-hal penglihatan-penglihatan; menyombongkan diri tanpa alasan dengan nous atau mata batin yang bersifat kedagingan; tidak berpegang kepada kepala; yang darinya seluruhan tubuh bertumbuh dari Allah dengan cara disediakan dan diikat oleh urat-urat dan sendi-sendi.

Point-Point sintaksis

  • Jangan seorangpun yang dapat merampas kemenanganmu
  • Dengan cara ingin di dalam merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat-malaikat
  • Dengan cara masuk di dalam hal-hal penglihatan-penglihatan
  • Dengan cara menyombongkan diri tanpa alasan dengan nous atau mata batin yang bersifat kedagingan
  • Dengan cara tidak berpegang kepada kepala
  • Yang darinya seluruh tubuh bertumbuh dari Allah dengan cara disediakan dan diikat oleh urat-urat dan sendi-sendi.

Point-Point semantic

  1. Ada 4 cara yang dipakai untuk menggagalkan atau merampas kemenangan kita yaitu pertama, penyembahan yang salah bukan kepada Allah tetapi kepada para malaikat (Wahyu 22:8-9, 2 Yoh 1:7). Kedua, penglihatan-penglihatan (awasi ajaran sesat). Ketiga, menyombongkan diri tanpa alasan yang bersifat daging (Rom 8:7). Keinginan daging itu dosa karena berseteru dengan hukum Allah. 1 Yoh 2:15-17, di dalam diri kita terdapat 3 hukum yaitu: hukum Allah, hukum dosa dan Nous. Hukum Allah merupakan perintah dan keinginan yang berasal dari Allah dan yang bersifat benar. Hukum dosa merupakan hukum yang bertentangan dengan Hukum Allah yang bersifat dunia atau keinginan daging. Keinginan daging yang dimaksud adalah bukan daging secara jasmani melainkan secara spiritual. Dimana Nous kita itu berfokus pada dunia 1Yoh 2:15-17. Nous merupakan benteng dari kedua hukum ini, jika nous kita banyak berinteraksi dengan Allah maka kita melakukan hal-hal yang bersifat Rohani dan sanggup melakukan Askesis seperti doa 8 waktu, melakukan pembacaan Alkitab/kitab suci dan pembacaan Hagios. Tetapi seringkali kita selalu berinteraksi dengan dunia sudah jelas kita telah mengasihi dunia dan hal-hal kedagingan ini. Kita dapat berinteraksi dengan keinginan dunia mulai dari godaan yang mempengaruhi Nous kita sehingga masuk dalam hati yang gelap akhirnya timbul pikiran-pikiran jahat. 1Yoh 3:3 mengatakan bahwa kita dipaggil itu untuk hidup suci, bagaimana caranya? Yaitu Nous ini yang berperan penting dalam menjaga mata hati kita agar tetap baik dan terang.

Keempat, tidak berpegang pada kepala atau Kristus, tidak ada pertumbuhan sebab melalui kepala itu semua tubuh bertumbuh. Pertumbuhan itu berasal dari Allah melalui Kristus.

  • Memelihara, menjaga, mengawasi (mengontrol) dan memegang teguh hadiah atau kemenangan itu supaya tidak terlepas
  • Tidak memberikan kesempatan kepada orang yang merampas
  • Perampas tidak berpegang kepala atau pemimpin yang teguh pada kebenaran
  • Perampas melakukan banyak hal untuk bisa merampas seperti berpura-pura rendah hati, beribadah kepada malaikat-malaikat, dll.
  • Tindakan yang digunakan oleh perampas bukan kebenaran yang sejati/kokoh (mudah ambruk) karena sesuai keinginan dagingnya.
  • Sebab tidak berpegang kepada kepala atau pemimpin kebenaran yaitu Kristus
  • Kristulahlah kepala yang sesungguhnya yang dari pada-Nya bertumbuh/berdiri bangunan yang teguh
  • Semuanya itu adalah kesia-siaan dan tidak membawa pada kehidupan

Konsep Teologis

Ide utama: menjaga kemenangan

Ide Pendukung:

  1. Setia beribadah kepada Allah
  2. Awasin ajaran-ajaran sesat seperti penglihatan-penglihatan
  3. Menjaga kekudusan diri dengan menjaga nous dari godaan duniawi