MEMEGANG TEGUH AJARAN SEHAT

2 Kor 2:13

οὐκ ἔσχηκα ἄνεσιν τῷ πνεύματί μου τῷ μὴ εὑρεῖν με Τίτον τὸν ἀδελφόν μου, ἀλλ᾽ ἀποταξάμενος αὐτοῖς ἐξῆλθον εἰς Μακεδονίαν.

I had no rest for my spirit, not finding Titus my brother; but taking my leave of them, I went on to Macedonia. (2 Cor. 2:13 NAS)

  1. ἀποταξάμενος = participle, aorist, middle, nominative, masculine, person 1st singular
  2. ἐξῆλθον (berangkat) merupakan waktu yang akan dijelaskan oleh ἀποταξάμενος (berpisahan) = participle
  3. ἀποταξάμενος (berpisahan) = participle temporal antecedent (setelah)

ἀποταξάμενος (berpisahan) menjelaskan temporal (waktu) kapan ia berangkat (ἐξῆλθον)

1 Timotius 4:8                                        

ἡ γὰρ σωματικὴ γυμνασία πρὸς ὀλίγον ἐστὶν ὠφέλιμος, ἡ δὲ εὐσέβεια πρὸς πάντα ὠφέλιμός ἐστιν ἐπαγγελίαν ἔχουσα ζωῆς τῆς νῦν καὶ τῆς μελλούσης. (1 Tim. 4:8 GNT)

For bodily discipline is only of little profit, but godliness is profitable for all things, since it holds promise for the present life and also for the life to come. (1 Tim. 4:8 NAS)

Ayat 7:

Tetapi tolaklah dongeng-dongeng (mitos-mitos) yang bersifat duniawi dan nenek-nenek tua tetapi latihlah dirimu sendiri kea rah kesalehan.

Ayat 8:

Sebab latihan badani adalah berguna sedikit, tapi kesalehan adalah berguna segala hal karena memiliki janji yaitu hidup yang sekarang dan akan datang.

Poin-poin sintaksis:

  • Tolaklah dongeng-dongeng (mitos-mitos) yang bersifat duniawi dan nenek-nenek tua
  • Latihlah dirimu ke arah kesalehan
  • Latihan badani adalah berguna sedikit
  • Kesalehan adalah berguna segala hal karena memiliki janji yaitu hidup sekarang dan akan datang.

Poin-poin semantic:

  • Membuang jauh cerita-cerita takhayul tapi memegang ajaran atau doktrin yang sehat yang berasal dari para rasul.
  • Mengikuti ajaran sehat itu akan menuntun Timotius kearah kesalehan dengan cara berlatih
  • Mengikuti ajaran sehat itu akan membuat kita berlatih secara rohani/jiwani untuk menuntun kita kepada kesalehan.
  • Kesalehan yang diperoleh akan berguna dalam segala hal untuk kehidupan sekarang dan akan datang.

Outline konsep:

Ide utama: memegang teguh ajaran sehat

Ide pendukung:

  • Jauhi mitos atau dongeng-dongeng
  • Latih diri secara rohani kearah kesalehan
  • Dampakkanya untuk hidup sekarang dan akan datang
  1. ἔχουσα (mengandung) = part, present, aktif, nominative, fem, sing
  • ἔχουσα (mengandung) = Participle couse (sebab)
  • ἔχουσα (mengandung) = menjelaskan Participle sebab ia mengandung janji dari kata ἐστιν (orang ketiga)

μελλούσης (akan datang) = participle Adjective proper (kata kerja) menjelaskan kata benda

μελλούσης (akan datang) = menjelaskan participle purpose untuk hidup yang akan datang.

Yoh 9:25

ἀπεκρίθη οὖν ἐκεῖνος· εἰ ἁμαρτωλός ἐστιν οὐκ οἶδα· ἓν οἶδα ὅτι τυφλὸς ὢν ἄρτι βλέπω. (Jn. 9:25 BGT)

He therefore answered, “Whether He is a sinner, I do not know; one thing I do know, that, whereas I was blind, now I see.” (Jn. 9:25 NAS)

  1. ὢν (saya) = par, pres, act, nom, masc, sing
  • ὢν (saya) = participle possesive
  • ὢν (saya) menjelaskan alasan dia dapat melihat lagi yang menjelaskan kata βλέπω (melihat)

Ibrani 2:18

  1. ἐν ᾧ γὰρ πέπονθεν αὐτὸς πειρασθείς, δύναται τοῖς πειραζομένοις βοηθῆσαι. (Heb. 2:18 GNT)
  2. For since He Himself was tempted in that which He has suffered, He is able to come to the aid of those who are tempted.

Terjemahan Literal:semantic conten

Sebab Dia sanggup menjadi penolong mereka yang dicobai karena Dia yang telah menderita karena dulunya Dia dicobain

  1. Yesus sudah Lulus dari penderitaan yang diakibatkan oleh penderitaan.
  2. Sekarang Yesus sanggup menolong orang-orang yang mengalami pencobaan seperti yang dialami Yesus
  3. Kita butuh penolong yaitu Yesus untuk Lulus dari pencobaan.
  • πειρασθείς (pencobaan) = par, aorist, passive, nom, masc, sing

πέπονθεν (menderita)

πειρασθείς (pencobaan) = Participle

  • πειρασθείς (pencobaan) = participle couse

πειρασθείς (pencobaan) merupakan Participle penyebab yang menjelaskan kata πέπονθεν (menderita).

Mat 19:22

ἀκούσας δὲ ὁ νεανίσκος τὸν λόγον ἀπῆλθεν λυπούμενος· ἦν γὰρ ἔχων κτήματα πολλά. (Matt. 19:22 BGT)

But when the young man heard this statement, he went away grieved; for he was one who owned much property. (Matt. 19:22 NAS)

Terjemahan Literal:

Anak muda itu pergi dengan sedih setelah mendengar perkataan itu sebab dia memiliki banyak kekayaan.

Apa spiritual meaning atau theoria dari teks diatas?

Kekayaan bisa menjadi penghalang untuk memenuhi perkataan Yesus.

Dalam melakukan perkataan Yesus selalu ada hambatan. Untuk melakukan perkataan Yesus itu kita harus menyingkirkan penghalang itu.

Kekayaan bisa menjadi alat untuk memenuhi perkataan Yesus.

Moral sense:

Alasan-alasan yang menghambat harus disingkirkan supaya memenuhi perkataan Yesus. Seperti kekayaan, dll.

Cari tau donk apa yang menjadi penghalangnya dan singkirkanlah dia

  1. ἀκούσας (mendengar) = part, aorist, akt, nom, mas, sing

λυπούμενος (bersedih hati) = part, present, pas, nom, mas, sing

ἀπῆλθεν (berangkat)

ἀκούσας (mendengar) = participle

λυπούμενος (bersedih hati) = par, present, pass, nom, masc, sing

  • ἀκούσας (mendengar) = participle temporal antecedent

ἀκούσας (mendengar) merupakan participle temporal (waktu) yang menjelaskan dia berangkat ketika ia mendengar pernyataan itu.

λυπούμενος (bersedih hati) merupakan participle menner (cara) ia pergi dengan bersedih hati.

ἔχων participle of couse (sebab)

Kis 22:5

Ὡς καὶ ὁ ἀρχιερεὺς μαρτυρεῖ μοι, καὶ πᾶν τὸ πρεσβυτέριον· παρ᾽ ὧν καὶ ἐπιστολὰς δεξάμενος πρὸς τοὺς ἀδελφούς, εἰς Δαμασκὸν ἐπορευόμην, ἄξων καὶ τοὺς ἐκεῖσε ὄντας δεδεμένους εἰς Ἱερουσαλήμ, ἵνα τιμωρηθῶσιν.

As also the high priest doth bear me witness, and all the estate of the elders: from whom also I received letters unto the brethren, and went to Damascus, to bring them which were there bound unto Jerusalem, for to be punished.

δεξάμενος (menerima) = par, aor, middle, deponent, nom, masc, 1 st person, sing

ἄξων (kepastian) = part, future, akt, nom, masc, 1 st person, sing

ἐπορευόμην (hasil/meneruskan, membawa)

δεξάμενος (menerima) = participle

ἄξων (kepastian)

δεδεμένους (mengikat) = participle

  1. δεξάμενος (menerima) participle temporal yang menjelaskan kata membawa. Dia menerima dengan membawa surat-surat kepada saudara-saudara.

δεδεμένους (menangkap) participle menner (cara)

ἄξων (kepastian, dia yang memimpin) participle purpose (tujuan)

ὄντας participle substantive

Dr. Hendi Wijaya, SS                                                                              Marniwati Gulo

Yunani II                                                                                                       25 April 2019

INFINITIVE Merupakan gabungan dari kata benda dan kata kerja

Latihan:

2 Kor 2:13 = Tetapi hatiku tidak merasa tenang, karena aku tidak menjumpai saudaraku Titus.

οὐκ ἔσχηκα ἄνεσιν τῷ πνεύματί μου, τῷ μὴ εὑρεῖν με Τίτον τὸν ἀδελφόν μου

εὑρεῖν (menemukan atau menjumpai) = infinitive of couse (εὑρεῖν penjelasan dari kata ἔσχηκα)

Penjelasnya: hatiku tidak tenang karena tidak menjumpai saudaraku Titus

Yoh 1:48

πρὸ τοῦ σε Φίλιππον φωνῆσαι ὄντα ὑπὸ τὴν συκῆν εἶδόν σε.

φωνῆσαι (memanggil) = Infinitive Subsequent (sebelum) = infinitive time

φωνῆσαι (memanggil) menjelaskan tentang kata (εἶδόν) menjumpai

Wahyu 5:5

ἰδοὺ ἐνίκησεν ὁ λέων ὁ ἐκ τῆς φυλῆς Ἰούδα, ἡ ῥίζα Δαυίδ, ἀνοῖξαι τὸ βιβλίον

ἀνοῖξαι (membuka) = infinitive result (hasil)

ἀνοῖξαι (membuka) menjelaskan kata menang.

ἀνοῖξαι (membuka) menjelaskan tentang kata ἐνίκησεν (menaklukkan/menang)

Lukas 2:22

ἀνήγαγον αὐτὸν εἰς Ἱεροσόλυμα παραστῆσαι τῷ κυρίῳ,

παραστῆσαι (menyerahkan) menjelaskan kata ἀνήγαγον (genap/hal yang pasti)

παραστῆσαι (menyerahkannya) tujuan dari ἀνήγαγον = infinitive purpose

Dis menyerahkan Tuhan dengan tujuan

Matius 13:25

ἐν δὲ τῷ καθεύδειν τοὺς ἀνθρώπους, ἦλθεν αὐτοῦ ὁ ἐχθρὸς καὶ ἔσπειρεν ζιζάνια ἀνὰ μέσον τοῦ σίτου, καὶ ἀπῆλθεν.

καθεύδειν (tidur) = infinitive Contermporanneous (terjadi bersamaan)

καθεύδειν (tidur) menjelaskan tentang kata ἦλθεν (datang)

Kisah Para rasul 1:3

Οἷς καὶ παρέστησεν ἑαυτὸν ζῶντα μετὰ τὸ παθεῖν αὐτὸν ἐν πολλοῖς τεκμηρίοις,  (Acts 1:3 BGT)

παθεῖν (menderita) = Infinitive time Antecedent (setelah) menjelaskan kata παρέστησεν

Ia menunjukkan diri-Nya setelah Ia mengalami penderitaan.

Matius 10:1

Καὶ προσκαλεσάμενος τοὺς δώδεκα μαθητὰς αὐτοῦ ἔδωκεν αὐτοῖς ἐξουσίαν πνευμάτων ἀκαθάρτων ὥστε ἐκβάλλειν αὐτὰ καὶ θεραπεύειν πᾶσαν νόσον καὶ πᾶσαν μαλακίαν.

ἐκβάλλειν (membuat) = Infinitive Result (hasil)

ἐκβάλλειν menjelaskan tentang ἔδωκεν (memberikan)

Refleksi:

Dengan mengenal bagian-bagian dari istilah Yunani ini, kita mengalami kemudahan dalam menerjemahkan setiap kata dan kalimat yang ada di dalam teks Yunani sebab teks Yunani merupakan bahasa Asli dan mengerti dan tahu maka kita tidak mudah untuk disesatkan oleh berbagai penafsir yang lain.

Hidupku Seperti Kepingan Puzzle

Semua pembelajaran yang saya terima selama ini seperti keping puzzle yang belum saya susun. Bagaimana agar saya dapat menyusunnya? Saya harus memiliki pola, kerangka atau konsep untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat dipakai dimana saja. Menjadi seorang pemimpin bukan suatu hal yang mudah dan semua orang dapat mencapainya sebab anak lulusan jaman sekarang hanya sekedar lambang saja dan tidak memiliki yang 3 hal penting di bawah ini, yaitu:

Dengan memiliki KKNI = kerangka kualifikasi nasional Indonesia.

FONDASI = KRISTUS

            Dalam level pengetahuan yang dimiliki setiap anak-anak yang CPL (capai pembelajaran Lulusan) ketiga hal berikut ini harus sama seimbang, dia harus memilikinya dan menerapkannya dalam perkembangan jaman yang akan di ikuti.

  1. Pengetahuan (head/kognitif)
  2. Sikap (heart/afeksi)
  3. Keterampilan (psikomotorik/hand)
  4. Umum
  5. Khusus

Lulusan S-1 (yang menjadi pemimpin Kristen/rohani) itulah yang diharapkan bagi orang-orang lulusan S-1 di tempat ini dan dimana pun kamu sekolah kamu perlu memiliki yang ketiga kerangka diatas. Apa landasan semua ini? Fondasinya adalah Kristus.

Hidup ini seperti kepingan puzzle yang harus di susun dan tidak sekedar dikumpul saja. Dengan dasar atau fondasi Kristus maka begitu selesai kepingan-kepingan puzzle yang saya susun maka yang kelihatan pada akhirnya adalah gambar dan rupa Kristus. Kepingan-kepingan puzzle inilah yang menjadi kualifikasi yang saya miliki.

Jika saya keluar dan melayani di sebuah gereja, apa nilai pluss atau dampak lebih yang bermanfaat bagi gereja. Caranya adalah menerapkan semua apa yang menjadi apa pencapaian saya untuk dapat mempertanggung jawabkannya dan mampu menggerakkan jemaat serta memberikan solusi dalam setiap masalah yang dihadapi. Harapan saya seorang, mahasiswa pelajar di STT Soteria, saya akan membuat pelayanan saya bukan menjadi hambatan atau masalah bagi gereja melainkan saya harus menjadi jawaban bagi setiap masalah dengan melibatkan Tuhan dalam kehidupanku.

Pengetahuan yang mau dibentuk adalah:

  1. Doktrin/dogma
  2. Menguasai sejarah teologi, etika dan apologetika
  3. Menguasai misi dan pastoral teologi
  4. Menguasai biblical (PL dan PB)
  5. Menguasai ilmu kepemimpinan.

Sikap yang perlu saya bangun adalah sikap yang bertanggung jawab, tidak cengeng, sopan, tidak membuat pelayanan dengna sembarang, memiliki kerendahan hati dan semua teladan yang telah diberikan oleh Yesus Kristus sebab Dialah yang menjadi dasar dalam menyusun puzzle ini. Kepingan puzzle yang dimaksud adalah setiap apa yang saya dapatkan baik dari dosen saya, Pembina, sesama, maupun dari dalam diri saya. Yang berupa academic, theoria, material dan lain sebagainya. Dalam menyusun kepingan-kepingan ini ada dua kerangka yang dapat saya lakukan dalam mencobanya. Penyusunan puzzle ini dimulai pada hari ini atau di saat-saat kita masih belajar sebab dengan selesainya kita menyusunnya sehingga di temapat pelayanan kita siap dipakai dan tidak ada satupun kepingan puzzle yang ketinggalan ataupun yang hilang.

Kerangka I dalam membentuk pengetahuan:

  1. Faith
  2. Hope
  3. Love

Kerangka ke-II membentuk pengetahuan:

  1. Sejarah
  2. Fondasi => Kristus = Allah Tritunggal, inkarnasi, Karya Kristus/keselamatan/lahir baru
  3. Purification => mengerjakan keselamatan atau pemurnian dan pengudusan
  4. Deifikasi => kemanunggalan dengan Allah

Marniwati Gulo

M. Kuliah Dogmatika III

Dosen: Dr. Hendi Wijaya, S.S

KESAKSIAN ORANG-ORANG KUDUS

Apakah mengingat orang-orang Kudus itu sangat penting atau tidak? Ya. Bukan hanya sekedar mengingat saja, orang-orang Kudus merupakan pemimpin-pemimpin setiap orang yang percaya kepada Kristus Tuhan. Mengapa? Sebab mereka adalah orang-orang yang telah selesai mengerjakan iman mereka sampai mati. Seperti yang tertulis dalam Ibrani 13:7 Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. Sehingga sangat perlu kita tahu sejarah iman mereka, dengan demikian kita dapat meneladanin iman mereka. Orang-orang gereja memperingati hari-hari kematian mereka bukan hari-hari kelahirannya, mengapa? Sebab kesetiaan iman mereka dinyatakan dan dilihat hingga sampai akhir hidup mereka.

Seperti photina (Svetlana) dia adalah wanita samaria yang diceritakan dalam Alkitab yang dengannya juruselamat bercakap-cakap di Sumur Yakub (Yak 4:5-42). seorang wanita Samaria, putra-putranya, Victor (bernama Photinus) dan Yoses; dan saudari-saudari perempuannya Anatola, Phota, Photis, Paraskeva, Kyriake; Putri Nero, Domnina; dan Martir Sebastian. Kisah kehidupannya yang sangat mengagumkan dan menguatkan iman-iman orang Kristen, sebab ia mati dengan mati Martir. Bukan hanya dia seorang yang mati Martir bahkan seluruh anggota keluarganya, baik anaknya peremppuan maupun anaknya laki-laki. Pada masa kaisar Nero (54-68 M), yang menunjukkan kekejaman berlebihan terhadap orang-orang Kristen, Santa Photina tinggal di Kartago bersama putranya yang lebih kecil, Yoses, dan dengan berani mengkhotbahkan Injil di sana. Putranya yang tertua, Victor.

Sebastian, seorang pejabat di Italia, berkata kepada Victor, “Saya tahu bahwa Anda, ibumu dan saudaramu, adalah pengikut Kristus. Sebagai teman saya menyarankan Anda untuk tunduk pada kehendak kaisar. Jika Anda memberi tahu orang-orang Kristen, Anda akan menerima kekayaan. Saya akan menulis surat kepada ibu dan kakak Anda, meminta mereka untuk tidak memberitakan Kristus di depan umum. Biarkan mereka mempraktikkan keyakinan mereka secara rahasia.” Tetapi Victor mendapat ancaman dari Sebastian. Kemudian tiba-tiba Sebastian merasaka sakit yang tajam di matanya, dia tercenganng dan wajhnya muram. Selama tiga hari ia berbaring buta, sepatah kata pun. Pada hari keempat dia menyatakan “dewa orang Kristen adalah satu-satunya Tuhan yang benar.” Pada saat itu Kristus memanggil dia sehingga ia dibaptis dan mendapatkan kembali penglihatan. Para pelayan Sebasitian  menyaksikan mukjizat itu sehingga mereka juga ikut dibaptiskan.

Laporan tentang hal ini sampai kepada kaisar Nero, dan ia memerintahkan agar orang-orang Kristen dibawa kepadanya di Roma. Kemudian Tuhan sendiri menampakkan diri kepada mereka dan berkata, “Jangan takut, karena aku menyertai kamu. Nero dan semua yang melayani dia akan dikalahkan.” Tuhan berkata kepada Victor,” Mulai hari ini namamu akan menjadi Photinus karena melalui kamu banyak orang akan tercerahkan dan akan percaya kepada-Ku.” Tuhan kemudian mengatakan kepada orang-orang Kristen untuk menguatkan Sebastian agar bertahan sampai akhir. Nero memerintahkan agar Sebastian, Photinus, dan Yoses dibutakan dan dikurung di penjara, dan Photina dan lima saudari perempuannya Anatola, Phota, Photis, Paraskeva, dan Kyriake dikirim ke pengadilan kekaisaran di bawah pengawasan putri Nero, Domnina. Santa Photina mempertobatkan Domnina dan semua pelayannya menjadi pengikut Kristus. Dia juga mempertobatkan seorang penyihir yang telah membawa makanan beracun untuk membunuhnya.

Nero kemudian memerintahkan untuk menyalibkan orang-orang kudus itu, dan memukuli tubuh telanjang mereka dengan tali. Pada hari keempat kaisar mengirim para pelayan untuk melihat apakah para martir masih hidup. Tetapi ketika mendekati tempat siksaan para pelayan kaisar Nero menjadi buta. Malaikat Tuhan membebaskan para martir dari salib mereka dan menyembuhkan mereka. Orang-orang kudus mengasihani para pelayan yang buta dan memulihkan penglihatan mereka dengan doa mereka kepada Tuhan. Mereka yang disembuhkan datang percaya kepada Kristus dan segera dibaptis.

Dalam kemarahannya, Nero memerintahkan untuk menguliti kulit orang kudus Photina dan melemparkannya ke dalam sumur. Sebastian, Photinus, dan Yoses dipotong kaki-kakinya dan mereka dilemparkan ke anjing dan kemudian mereka dikuliti. Para saudari perempuan Photina juga menderita siksaan yang mengerikan. Nero memberi perintah untuk memotong payudara mereka dan kemudian menguliti kulit mereka. Kaisar menyiapkan eksekusi untuk Photis: mereka mengikat kakinya dengan kaki di puncak dua pohon yang bengkok. Ketika tali-tali itu ditebang, pohon-pohon itu tumbuh tegak dan mencabik-cabik martir. Kaisar memerintahkan yang lainnya dipenggal. Martir Photina dikeluarkan dari sumur dan dikurung di penjara selama dua puluh hari.

Setelah itu Nero membawa Photina dan bertanya apakah dia sekarang mau mengalah dan mempersembahkan korban kepada berhala. Photina meludahi wajah kaisar, dan menertawakannya, berkata, “Wahai orang yang paling tidak beradab atas orang buta, Anda lelaki yang brengsek dan bodoh! Apakah Anda pikir saya begitu tertipu sehingga saya akan setuju untuk meninggalkan Tuhanku Kristus dan sebagai gantinya menawarkan pengorbanan kepada berhala yang sama buta dengan Anda?” Mendengar kata-kata seperti itu, Nero memerintahkan untuk sekali lagi membuang Photina ke sumur dan di sana ia menyerahkan jiwanya kepada Tuhan pada tahun 66. Pada Kalender Yunani, Photina diperingati pada 26 Februari.

Kisah kehidupan orang-orang Kudus ini sunguh menjadi teladan dalam kehidupan kita sehiari-hari. Sehingga mereka dapat menjadi teladan dan kita harus mencontohin iman mereka. Menjadi teladan itu bukan hanya sekedar memimpin saja, sebab pemimin itu memberikan teladan dan apa yang diajarkan itu harus dihidupin dan memberikan teladan kepada orang-orang Kristen lainnya yang mau ikut bersama dengan mengerjakan iman sampai akhir hidup mereka.

Refleksi:

Untuk mengetahui perjalanan iman para orang-orang Kudus sangat-sangat harus untuk dapat kita lihat dan mengerti. Mungkin saat ini saya merasa sangat sulit untuk mengikuti imannya, tetapi saya harus berusaha untuk meneladani iman mereka. Caranya adalah menghidupi setiap apa yang diajarkan dan yang saya ajarkan tentang iman yang saya punya.

Gbu…

Marniwati Gulo

M. Kuliah Dogmatika III

Dosen: Dr. Hendi Wijaya, S.S

IKON ANASTASIS (KEBANGKITAN)

Segala nubuat dan segalanya terpuncak pada Anastasis (kebangkitan).

  1. Yesus ada di pintu
  2. Ada yang hitam (alam kegelapan maut)
  3. Dia memegang tanga Adam dan Hawa
  4. Disamping Adam ada orang Kudus
  5. Ada orang-orang benar
  6. Ada bukit (pebatuan)
  7. Ada iblis yangs sedang terbelenggung
  8. Peti = symbol kematian mereka

Ini semua Yesus turun ke dalam alam maut. Tanpa kebangkitan Yesus hidup kita tidak berarti lagi karena tubuh kita selalu mati. Paskah adalah hari suci terbesar bagi orang Kristen. Apakah ada kehidupan setelah kematian tubuh jasmani kita? Yesus menjawab “dengan kebangkitan kehidupan setelah kematian ada hidup kekal” Dan itulah mengapa Pascha (Paskah) adalah Festival (perayaan) untuk agama Kristen. Ini adalah Festival pembebasan yang paling radikal, tegas, dan pamungkas yang pernah dilihat oleh alam semesta ini. Itu adalah landasan iman kita. “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka pemberitaan kita sia-sia dan iman kita kosong” (1 Kor 15:14) Artinya tanpa kebangkitan iman yang kita punya semua sia-sia dan tidak berarti, sama seperti sampah yang dibuang dan tidak memberikan makna. Kita datang ke gereja itu kita mengalami kebangkitan Yesus.

Yesus mati dan Roh jiwa-Nya masuk ke dalam alam maut, alam maut tidak dapat menahan Dia untuk masuk. Setelah Yesus mengalami penderitaan, kematian, hingga penguburan. Penguburan Yesus maksudnya Ia masuk ke alam Hades (alam maut)

Anastasis_Ikon Paskah

Ikon Paskah mengungkapkan dengan kuat makna sebenarnya dari kebangkitan Kristus. Yesus berdiri di gerbang neraka yang rusak, yang dilintasi sebuah lubang hitam. Di dalam lubang, Setan terbelenggu dalam rantai-nya sendiri. Yesus menjangkau ke setiap sisi, menggenggam Adam dan Hawa dengan pergelangan tangan mereka dan menarik mereka keluar dari kubur mereka, sementara orang-orang benar dari segala generasi berdiri berkumpul di belakang-Nya menunggu giliran mereka. Ini adalah ikon yang pertama kali ditampilkan di pusat gereja untuk penghormatan pada Sabtu Suci. Kristus memegang pergelangan tangan Adam kata Leonid Ouspensky – alih-alih tangan untuk memastikan bahwa Dia memiliki pegangan yang kuat pada dirinya. Induk kucing melakukan hal yang sama dengan mengambil anak kucingnya di tengkuk untuk menyelamatkannya dari bahaya. Artinya Yesus itu merebut mereka dari tangan iblis.

Pada saat penyalibannya. Hawa ini adalah Maria yang pertama (menjadi sumber kematian bagi semua yang hidup). Maria yang kedua adalah Maria bunda Yesus yang menjadi sumber kehidupan bagi semua manusia. Pada saat Yesus mati orang-orang Kudus diselamatkan dari maut. Bebatuan yang terbelah dalam ikon artinya Yesus mati di hades sedangkan di dunia terjadi gempa bumi (Mat 27:51).

Apakah semua tokoh-tokoh agama yang hidup sebelum zaman Yesus diselamatnya selain dari tokoh-tokoh Alkitab? Kalau ada di dalam hatinya benih pengharapan pasti dia diselamatkan (Roma 2:14). Sebab ada hukum yang tertulis dalam hati mereka karena Tuhan menciptakan mereka segambar dan serupa dengan Dia. Dan penggenapan hukum taurat itu adalah Yesus sendiri.

Perpecahan batu itu adalah perpecahan paskah, seperti laut mereh yang membelah. Symbol pebatuan itu apa? Symbol pembebasan manusia dari dosa. Ini suatu peristiwa yang bersejarah dan merupakan kabar baik. Mengapa disebut kabar baik? Sebab ia mengalahkan alam maut dan alam maut tidak dapat melenggung Yesus. Pakaian Yesus putih, disimbolkan bahwa ia bermandikan kuasa cahaya kemuliaan yang suci. Bagi orang yang sudah mati sebelum kebangkitan Yesus ini adalah kebangkitan bagi dia. Mereka sudah mengalami keselamatan yang lalu dan yang akan datang. Sedangkan kehidupan kita sekarang ini masih mengalami keselamatan yang sekarang dan yang akan datang.

Kuburan itu tubuhnya sedangkan jiwa dan Roh-Nya ada di hades (alam maut). Kebangkitan-Nya telah terjadi sejak Dia mati dan kebangkitan jasmaninya setelah tiga hari. Kerja Yesus di Hades adalah melakukan visi-Nya. Di gereja-gereja timur merayakan ada namanya sabtu Kudus “prakebangkitan Yesus”. Hades ini sudah kalah oleh Kristus, sejak kapan? Sejak Yesus turun kea lam maut. Ikon Anastasis itu artinya kebangkita kita pada hari nanti. Sebab yang bisa membangkitkan kita nanti di akhir zaman yaitu Yesus. Yunus turun ke dalam perut ikan sebagai bayangan turunnya Kristus ke Hades, kita membaca di Ode 6 Kanon Paskah:
Engkau turun ke jurang bumi, ya Kristus, dan telah merobohkan pintu-pintu kekal yang memenjarakan orang-orang yang ditemukan, dan, seperti Yunus setelah tiga hari di dalam ikan, Engkau bangkit dari kubur.

Ikon ini menggambarkan Adam baru (Kristus) mengangkat Adam lama dari Hades. Constantine Cavarnos melihat kebenaran yang luar biasa di dalam kontras dari kedua Adam ini: “Juga, dengan membawa Adam ke tempat kejadian, ikonografer mengingatkan kita kontras antara “Adam Tua,” manusia pertama, dan “Adam Baru”. Ikon ini disebut Turun ke Hades atau Anastasis (Kebangkitan) karena Kebangkitan Yesus dimulai segera setelah Yesus mati di salib. Adam lama yang membawa kebinasaan telah digantikan oleh Adam baru yang membawa kehidupan dan keselamatan. Segala belenggung yang mengikat Adam lama karena dosa dan pemberontakannya telah di lepaskan oleh Tuhan dan menghancurkannya. Inilah pertanda bahwa alam maut tidak sanggup membelenggung Yesus ketika Ia masuk kea lam Hades.

Alam hades ini adalah tempat pemberhentian roh dan jiwa orang-orang Perjanjian Lama setelah mereka mati. Bukan hanya Adam dan Hawa yang ditarik Yesus dari Hades itu. Melainkan di belakang Adam dan Hawa adalah umat Allah Perjanjian Lama yang percaya. Turunnya Yesus ke Hades dalam arti Ia berkhotbah atau mengkhotbahin roh-roh manusia yang hidup di Perjanjian Lama. Yesus menarik Adam dan Hawa dan semua orang percaya, dalam arti Allah merebut orang-orang Kudus dan yang bertobat, membawakan mereka untuk masuk bersama-sama di Firdaus. Dalam hal ini Firdaus ada setelah Yesus masuk dalam lHades (alam maut). Kehidupan setiap manusia mempunyai harapan yang kekal ketika kita percaya dan hidup di dalam Kristus dengan kita meneladani apa pun teladan yang ditingalkan Tuhan kepada kita sebelum ia mengalami penderitaan, mati, dikuburkan hingga mati dan bangkit.

Apa yang kita pelajari?

Kabar baiknya Yesus datang ke dalam Hades itu? Menyelamatkan orang-orang yang sudah ada di neraka atau alam hades itu. Rasul Paulus menulis, “Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.” (Efesus 4:10 TB) Rasul Paulus menghubungkan Kenaikan Yesus dengan turunnya Yesus ke alam maut.

Allah tidak bisa tetap di bumi selama seseorang menderita di Hades. Allah mengajar kita samapai batas ujung alam maut. Neraka dan Hades tidak sama. Kata Ibrani untuk neraka adalah “Gehhena”. Orang Yahudi mendapat kata ini dari lembah Hinom. “tempat dimana tidak ada ampun atau penebusan lagi. Yesus tidak turun di Gehhena tetapi di sheol (alam maut). Dunia yang lebih rendah. Hades adalah tempat perkumpulan orang-orang mati. Ketika Yesus menghancurkan pintu Hades itu artinya membawa orang-orang Perjanjian Lama dalam Firdaus.

Mazmur 107:16 nubuat tentang penghancuran pintu Hades itu, Yesus akan membongkar pintu gerbang perunggu (Yes 45:2). Maz 16:2, 10-11) menunjukkan di mana orang mati berada?

Apa yang kita simpulkan:

  1. Tidak perlu takut dengan kematian sebab Tuhan telah mengalahkan kematian. Ada satu pengharapan yang pasti di dalam Kristus.
  2. Kebangkitan Yesus memberikan arti atau faedah iman yang saya punya.
  3. Tanpa Yesus tidak ada kemenangan atas maut dan kematian menjadi suatu hal yang menakutkan bagiku tanpa ada Yesus. Maka tetaplah di dalam Yesus.

IMAN ORTHODOX DAN AJARANNYA

Bangunan Gedung Gereja

Tata atur bagian luar gedung gereja yang paling umum adalah bentuk bulat melingkar atau bentuk lonjong memanjang meniru bentuk suatu Bahtera, berada di bawah pengawasan seorang pengemudi yang cakap untuk membawa penumpang sampai kepada Bandar Labuh yang tenang, setelah melewati ombak dan badai lautan. Bagian utama gereja itu adalah ruang bahtera (Navis), terpisah dari ruang mezbah (Altar) oleh suatu sekat ikon yang memiliki 3 pintu (tengah, utara, dan selatan), yang disebut Iconostasis (penyangga ikon, sekat ikon). Umat Orthodox melihat para orang Kudus yang digambar disitu adalah teladan yang harus dihormati, dan menurut Alkitab sujud jenis ketiga itu adalah bentuk penghormatan mendalam itu. Mengikuti pengajaran dari konsili Ekumenis ke 7, ikon-ikon bukan dilihat hanya sekedar seni saja, namun ada kesatuan yang sempurna antara ikon-ikon dan kitab suci, karena jika ikon-ikon ditunjukkan oleh kitab Suci, kitab suci dibuat secara tak terbantah lagi menjadi jelas oleh ikon. Sebagaimana kata-kata kitab suci adalah suatu gambaran, demikianlah gambaran itu juga adalah suatu perkataan menurut Aghios Basilos Agung (379 Masehi).

Ciri khas yang paling menonjol dari suatu bangunan Gedung Gereja Orthodox adalah ikonostasis, yang terdiri atas satu atau lebih deretan ikon dan terputus oleh sejumlah pintu ditengahnya (pintu Gerbang Indah atau pintu Gerbang Kudus atau Pintu Gerbang Raja) dan pintu di masing-masing sisinya utara dan selatan (pintu Diakon). Deretan yang paling atas ditempati oleh ikon-ikon dari nabi-nabi Perjanjian Lama, yang ditengah-tengah mereka adalah sang Theotokos dengan Bayi Kristus yang ada sejak kekal. Yang menempati tempat utama dari Ruang Mezbah (Altar) adalah meja Kudus (Meja Perjamuan), yang menggambarkan takhtah Allah, yang Tuhan sendiri secara tampak mata hadir disitu.

APA YANG DIPERCAYAI ORANG-ORANG KRISTEN ORTHODOX

Para Rasul menyebarkan begitu jauh gereja dan pengajran-pengajarannya. Mereka mendirikian banyak gereja, semua bersatu dalam iman, ibadah, dan ambil bagian dalam Misteri-misteri (atau sebagai mana itu disebut di dunia Barat: sakramen-sakramen) dari gereja Kudus. Gereja-gereja yang didirikan Para Rasul itu sendiri termasuk di dalamnya adalah Ke-Patriakh-an Konstatinopel (Istambul, Turki), Alexandria (Mesir), Antiokhia (Syria), Yerusalem (Palestina, Israel) dan Roma (Italia). Semuanya bersatu dalam iman, doktrin, tradisi Rasuliah, saktramen-sakramen, liturgy-liturgi dan ibadah-ibadah. Bersama-sama mereka membentuk dan menyebut diri mereka gereja Orthodox. Pengajaran-pengajaran gereja itu diambil dari pengajaran para Rasul yang dilanjutkan dalam bentuk tradisi Rasulliah, yang mempunyai dua bentuk “tulisan” dan “lisan” (2 Tes. 2:15). Dari tradisi Rasuliah itulah terbentuknya kitab Suci, dan dalam tradisi Rasulliah (Paradosis Kudus) itulah kitab suci ditafsirkan. Banyak pengjaran yang disampaikan secara lisan oleh Para Rasul yang sampai kepada kita dalam Tradisi (Paradosis) Kudus.

Kata orthodox secara literal berarti pengajaran yang benar atau penyembahan yang benar, karena diambil dari dua kata Yunani, yaitu orthos = lurus, dan doxa = pengajaran, penyembahan. Jadi, kata orthodox maknanya tidak ada sangkut-pautnya dengan: kolot, kuno, kaku, atau ketinggalan zaman, seperti sering disalah mengerti oleh orang. Allah yang Esa, bersifat Tritunggal dan Karya-Nya. IMAN Kristen Orthodox memang hanya mempercayai Allah yang Esa. Tritunggal Mahakudus itu tidak berbicara mengenai jumlah Allah, sebab Allah tak berjumlah. Tritunggal Mahakudus adalah menerangkan keberadaan yang ada di dalam diri Allah yang Esa itu. Jadi, sang Bapa adalah sumber ke-Esa-an dari Tritunggal Mahakudus itu. Menurut Alkitab Allah yang Esa itu memiliki 3 Hipostasis – Bapa, Putera, dan Ro Kudus – secara kekal berada satu dan memiliki bersama satu kodrat Ilahi.

Meskipun sumber dan asal kekal-Nya itu dari sang Bapa, tetapi ketika dicurahkan kepada manusia itu terjadi-Nya melalui Yesus Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia (Yohanes 15:26-27). Umat Kristen Orthodox mengakui Allah sebagi pencipta langit dan bumi (kej 1:1). Ciptaan tidak muncul da nada dari diri-Nya sendiri. Allah menjadikan semuanya itu melalui Fiman-Nya yang disebut Anak-Nya (Kej. 1, Ibr. 1:2, Yoh. 1:1-3), serta memberi hidup pada ciptaan-Nya itu melalui Roh-Nya (Kej 1:2, Ayb. 33:4). Karena iman kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh Firman Allah (Ibr 11:3). Para Malaikat adalah ciptaan Allah “yang tidak kelihatan” (Kol. 1:16), sebagaimana yang juga dikatakan dalam pengakuan iman Nikea, bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, baik yang kelihatan maupun “yang tidak kelihatan”. Mereka adalah makhluk roh, yaitu tak berbadan jasmani (Ibr. 1:13-14) diciptakan sebelum adanya alam semesta, dan bahkan Allah menjadikan alam semesta, mereka ini ikut bersorak-sorak sukacita (Ayub 38:7). Tugas mereka adalah melayani Allah, mereka terutama sekali adalah memberikan pertolongan kepada orang-orang yang akan diselamatkan (Ibr 1:14) melalui doa yang terus menerus dihadirat Allah (Mat 18:10) dan melalui penjagaan mereka. Iblis dan roh-roh jahat: diantara para penghulu Malikat (Yud 1:9, 1 Tes 4:16) atau para “pemimpin terkemuka” (Dan. 10-13) ada satu yang tempatnya di surga secara khusus di dekat “kerub yang berjaga” di gunung Kudus Allah (Yeh 28:11). Makhluk yang sama disebut dalam bahasa Latin disebut “Lusifer” (pengemban terang). Ia diciptakan hampir mendekati sempurna, dan disebut sebagai gambar dari kesempurnaan penuh dan maha indah (Yeh 28:12). Ia memiliki hati gadangnya yaitu spekulasi yang amat jahat. Ini adalah pemberontakan yang luar biasa yang dilakukan oleh Malaikat yang tidak taat pada batas kekuasaannya itu.jumlah Malikat yang ikut memberontak bersama luchifer ini adlaah sepertiga dari seluruh jumlah Malaikat yang aslinya diciptakan oleh Allah (Why 12:4). Pekerjaan utamanya adalah “pembunuh manusia” serta bapa segala dusta (Yoh 8:44) sehingga menimbulkan kematian rohani.

Pemeliharaan dan penyelenggaraan Ilahi adalah cara Allah terus bekerja untuk menyelenggarakan proses jalannya alam semesta ini setelah diciptakan selama 7 hari (Yoh 5:17). Hidup itu tidak tunduk kepada nasib, tetapi kepada kehendak Allah yang mengatur segala sesuatu yang ada di dunia ini. Iman Kristen Orthodox mengajarkan bahwa dunia ini bukan system yang tertutup, melainkan system yang terbuka, diman Allah secara langsung ikut bekerja penyelenggaraan dan pemeliharaan atas alam ini, sehingga “seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya (Yes 6:3). Predestinasi/penentuan dari semula adalah realitas dari ketetapan Allah sejak sebelum adanya dunia dalam menetapkan tujuan diciptakan manusia. Maka jika dari semula manusia dipilih dan ditentukan oleh Allah untuk menjadi “kudus dan tanpa cacat”, ini berarti manusia diciptakan dengan takdir kodratnya untuk ambil bagian dalam kodrat Allah sendiri. Predestinasi (penentuan dari semula) bukan berarti Allah secara sewenang-wenang menentukan ada orang yang masuk surga, serta menentukan ada orang yang masuk neraka, tanpa ada kaitannya dengan iman dan kehendak bebas untuk memilih dari orang yang bersangkutan.

Yesus Kristus/Isa Almasih adalah penjelmaan sebagai manusia dan Firman Allah sendiri, yaitu Hipostasi kedua di dalam diri Allah yang Esa bersifat Tritunggal itu, secara kekal diperanakkan dari sang Bapa. Karena Yesus Kristus/Isa Almasih adalah jantung dan pusat kekristenan, gereja Orthodox telah memberikan perhatiannya lebih untuk mengenal Dia dari segala apa pun yang lain. Inkarnasi/penjelmaan merujuk kepada peristiwa dimana “Firman Allah telah menjadi manusia” dan nama manusia-Nya adalah Yesus yang bergelar Kristus. Oleh penjelmaan/inkarnasi-Nya sang Putera/Firman Allah memiliki untuk selamanya dua kodrat dalam pribadi-Nya yang hanya satu itu. Inkarnasi itu tidak dapat digantikan oleh apa pun dalam kekristenan – tidak ada kekristenan yang benar tanpa Inkarnasi Firman Allah ini (Yooh 1:14).

Mariam/Maria disebut Theotokos artinya “pengandung Allah” atau “bunda Allah”. Ini berarti bahwa Allah sang Bapa itu dilahirkan oleh Maryam, sebab Allah itu tidak beranak dan tak diperanakkan dari seorang ibu, seperti layaknya manusia. Namun, ini berarti bahwa Dia mengandung Firman Allah/Anak Allah yang menjelma sebagai manusia itu dalam kandungannya serta darinya Ia mengambil kemanusiaan-Nya. Mariyam telah hidup dalam kehidupan yang murni dan Kudus, dan kita menghormati Dia dengan tingginya sebagai teladan kesucian, orang tebusan yang pertama.

Penyaliban, penguburan, dan kebangkitan Kristus, adalah bagaimana cara penebusan itu dilakukan. Penebusan artinya manusia dilepaskan dari suatu bayaran dari kekuatan gelap dan yang mengungkungnya. Iblis, dosa, dan maut (kekuatan gelap) itu dibayar dengan penderitaan, penyaliban, kematian, dan penguburan Kristus. Sebab manusia tidak diciptakan untuk mati. Ternyata manusia melanggar perintah Allah maka maut pun menjadi hukumannya karena memang upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Penebusan sebagai pemulihan kodrat manusia, Kritus masuk dalam derita, naik ke atas salib, mati dan dikuburkan. Kematian Kristus adalah wujud ketaatan-Nya secara mutlak kepada Allah, Kristus Yesus dalam rupa Allah (karena Ia adalah Firman Allah yag adalah “Allah” Yoh 1:1). Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan TAAT sampai mati, BAHKAN SAMPAI MATI DI KAYU SALIB Filipi 2:5-8. Kemanusiaan baru adalah Firman Allah yang menjelma: Yesus Kristus ini adalah “Adam yangb baru” atau lebih tepatnya “Adam yang akhir” 1 Kor 15:45. Sebagai Adam yang akhir memulihkan apa yang telah dihilangkan oleh Adam pertama.

Penebusan sebagai pembenaran dari tuntutan Hukum Allah, tuntutan hokum Allah adalah manusia supaya taat secara mutlak terhadap perintah-perintah-Nya. Dengan demikian, kemanusiaan dari Firman Allah yang menjelma itu tak berada dalam keadaan berseteru dengan Allah dan tidak takluk pada hokum Allah lagi. Dengan demikian, kemanusiaan dari Firman Allah yang menjelma itu telah “damai” dengan Allah. Sehingga barang siapa sekarang yang manunggal dengan kemanusiaan Firman Allah yang menjelma itu oleh iman melalui baptisan (Gal 3:26-27) juga akan “didamaikan” dengan Allah dan “dibenarkan” oleh iman. Penebusan sebagai penggenapan penghapusan dosa oleh korban-korban dalam taurat, secara aturan hokum, manusia yang berdosa itu harus dihukum mati. Namun, Allah sebagai sang pengasih tidak menghendaki kematian manusia (Yeh 18:32). Ia menghendaki manusia itu hidup. Pada hal sebagai yang Mahaadil, semua dosa harus dihukum. Maka suatu jalan tengah dilakukan. Agar dosa tetap dihukum dan manusia akibat dosa itu tetap ada, namun si manusia yang berdosa itu tetap hidup, dengan korban yang dilakukan. Dengan tercurahnya darah korban itu berarti dosanya telah dihukum, sehingga ia tak menanggung dosa itu lagi; ia sekarang dibebaskan dari dosa, ia telah diampuni. Sang Kristus sebagai Firman Allah yang menjelma telah “menyandang” daging yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa (Rom 8:3). Dalam daging yang serupa dengan daging ini disebut dengan “Anak Domba Allah” yang menyangkut dosa-dosa dunia (Yoh 1:29). Padahal, Anak Domba Korban itu mangangkut kesalahan dan dosa melalui tercurahnya darah dalam kematian, dan Kritsus mengalami mati melalui salib, maka salib Kristus dan darah-Nya yang tercurah itu adalah penggenapan dari korban Anak Domba itu.

Sehingga barang siapa yang manunggal dalam kematian, penyaliban, dan penguburan Kristus di dalam baptisan (Rom 6:3-8), Ia pun telah mati bagi dosa (Rom 6:6), Artinya ia “dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk PENGAMPUNAN DOSA” Kis 2:38. Biasanya korban dalam Perjanjian Lama itu hangus setelah dibakar, tetapi daging korban tubuh jasmani Kristus itu tetap kekal selamanya dan korban-Nya juga menjadi kekal disurga sana. Artinya: Ia telah masuk satu kali dan untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang Kudus (surga) bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya (yaitu tubuh jasmani yang telah dibangkitkan dan dimuliakan sebagai hasil korban-Nya di atas salib.

Penebusan sebagai pelepasan dari kutuk, dasar hukum taurat adalah setia melakukan segala sesuatu yang tertulis atau menepati perkataan hukum taurat dengan perbuatan dengan kata lain, dasar hokum taura adalah “siapa yang melakukan akan hidup karenanya” Gal 3:12. Sebagaimana yang tertulis juga bahwa tidak ada orang yang dibenarkan dihadapan Allah karena melakukan hokum taurat/syarat adalah jelas karena orang yang benar akan hidup oleh iman Gal 3:11. Ini bukti bahwa kutuk awal itu telah begitu merembes kepada seluruh keberadaan manusia. Yesus Kristus “tak mengenal dosa” 2 Kor 5:21 sebagai Firman Allah yang Nuzul ke Bumi, berarti tak memiliki kutuk dan tidak juga dibawah kutuk. Seorang yang digantung terkutuk oleh Allah, itulah ketetapan hukum taurat. Jadi, secara hukum seolah-olah Yesus itu terkutuk, namun secara fakta dan realitas Ia tak memiliki kutuk sedikit pun dan tidak berada dibawah kutuk itu. Itulah sebabnya, di atas salib itu Kristus telah membatalkan kutuk yang ditetapkan taurat dengan demikian membatalkan semua kutuk yang pernah dikenakan kepada manusia. Akibatnya, pada saat kita menjalankan perintah Allah bukan lagi takut kutuk itu yang menyebabkan kita taat, namun karena cinta kasih dan bakti serta takut yang dilandasi oleh hormat kepada-Nya sebagai ucapan syukur atas penebusan-Nya di dalam Kristus itu yang memotivasi.

Penebusan sebagai kelepasan dari Iblis. Dosa, dan kematian, Perjanjian Baru mengajarkan: sebab Anak Domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus (1 Kor. 5:7). Kristus disembelih yaitu dibunuh di atas kayu salib. Jika pembunuhan Kristus itu dinyatakan sebagai penyembelihan-Nya dan tubuh Yesus Kristus yang terbunuh ini sendiri dinyatakan sebagai “Anak Domba Paskah” itu berarti bahwa ada parallel antara peristiwa Paskah di zaman nabi Musa dengan penyaliban Kristus Yesus itu. Dan demikian Kristus adalah penggenapan Paskah Nabi Musa dan Paskah Nabi Musa adalah Prabayangan dari karya Kristus sendiri. Orang yang berada di luar Kristus adalah manusia yang berada dalam kuasa Iblis. Mesir bukanlah bangsa Israel dan di Mesir tidak ada Kristus, terbukti bahwa dunia itu adalah dunia yang memberontak kepada Tuhan dan tanpa Kristus.

Dalam Roma 7:19-21, demikianlah manusia menjadi tawanan dan diperbudak oleh dosa dan hukum dosa yang ada di dalam diri-Nya. Upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Sebagaimana Israel di Mesir dikuasai oleh Firaun, perbudakan dan bahaya Maut, demikianlah manusia di luar Kristus itu berada dalam kekuasaan Iblis, tawanan dosa, dan kuasa maut atau kematian. Ini semua terjadi akibat kejatuhan Adam, karena tidak taat kepada Allah. Demikianlah iblis, Dosa dan Maut itu telah menjadi kekuatan negative yang berada dalam kodrat manusia setelah jatuh. Melalui korban-Nya di atas kayu salib Yesus Kristus telah melepaskan manusia dari iblis, dosa, dan maut. Jadi Ia menang betul-betul Anak Domba Paskah yang kekal dan sejati. Sehingga kelepasan-Nya itu bersifat kekal (Ibr 9:11) dan dengan penuh kuasa Ilahi. Karya kelepasan total akibat penyaliban, kematian, dan kebangkitan Kristus inilah yang disebut “penebusan” dan ini akan menjadi “keselamatan” bagi mereka yang mau menerimanya dengan iman, dan menerapkan karya Kristus yang sudah sudah sempurna dan yang sekali untuk selamanya itu dalam kehidupannya.

Tujuan berbuat baik itu bukan untuk mencari pahala, namun untuk menanggapi karya Roh Kudus bagi suatu pengudusan yang sempurna, sehingga kita memetik buah dan hasil dari kemanunggalan kita dengan Kristus yaitu pemulihan kekal atau “Theosis”. Untuk dosa pribadi yang berwujud pelanggaran tata-moral dan tata-hukum ilahi ini, kita sendiri yang harus bertanggungjawab, tak seorangpun yang dapat menggantikan dan memikul dosa pribadi orang lain (Yeh 18:20). Untuk menyelamatkan kita, Anak / Firman Allah telah mengambil bagi diri-Nya kemanusiaan kita dank arena tanpa dosa di dalam daging (Rom 8:3). Keselamatan adalah karunia Ilahi yang melaluinya manusia dilepaskan dari dosa dan kematian, dimanunggalkan dengan Kristus dan dibawa ke dalam kerajaan-Nya yang kekal, akibat dari karya inkarnasi, penderitaan, penyaliban, penguburan, kematian, dan kebangkitan Kirstus, sebagaimana yang dijelaskan diatas makna penebusan akibat karya salib Kristus itu. Bertobatlah sebab keselamatan menuntut iman kepada Yesus Kristus. Manusia tak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri oleh amal perbuatan baik mereka. Keselamatan artinya kita dilepaskan dari kuasa dosa, kematian, dan iblis, oleh kemenangan Kristus atas maut yang dibuktikan oleh kebangkitan-Nya.

Roh Kudus dan Karya-Nya, Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri yang keluar dari Bapa (Yoh 15:26) dan yang bersemayam di dalam diri Bapa (1 Kor 2:10-11) seperti roh manusia juga berada di dalam diri manusia. Ia disebut sebagai hipostasys ketiga di dalam diri Allah yang Esa yangb bersifat Tritunggal itu. Karena Ia bersemayam di dalam Bapa, berarti Ia juga berada serta dalam zat-hakikat ke Allah-an sang Bapa yang satu itu bersama dengan Firman Allah yang juga berada di situ. Umat Kristen Orthodox percaya janji Alkitabiah bahwa Roh Kudus dikaruniakan melalui penumpangan tangan dan pengolesan minyak yang disebut pengurapan atau Krisma pada saat sesudah penyelaman pada saat baptisan (Kis 2:38; 8:14-17). Kelahiran baru adalah penerimaan hidup baru, ini adalah cara bagaimana kita mendapatkan jalan masuk ke dalam kerajaan Allah dan gereja-Nya. Pembenaran adalah sebuah kata yang digunakan dalam Alkitab yang berarti bahwa di dalam Kristus kita telah diampuni dan secara sebenarnya kita dibuat benar dalam kehidupan kita. Ini bersifat bahwa pembenaran adalah suatu realitas sehari-hari yang hidup dalam dinamis bagi seseorang yang mengikut Yesus Kristus.

Pengudusan adalah keberadaan dipisahkan bagi Allah. Ini melibatkan kita dalam proses sedang dibersihkan dan dijadikan Kudus oleh Kristus di dalam Roh Kudus. Kita dipanggil menjadi orang-orang Kudus dan untuk bertumbuh ke dalam keserupaan Allah, kita melakukan tugas kita untuk mengikuti karya Allah di dalam diri kita itu denga perbuatan-perbuatan yang berkenan kepada Allah, inilah yangb disebut synergy. Artinya, kita bekerja bersama-sama dengan rahmat Allah. Agar kita dapat mengenal Dia, serta oleh rahmat / kasih karunia-Nya kita menjadi apa adanya Dia itu menurut keberadaan kodrat-Nya. Alkitab adalah Firman Allah yang diilhamkan oleh Allah (2 Tim 3:16), dan suatu bagian yang maat menentukan dari pewahyuan diri Allah kepada manusia. Perjanjian Lama memberi tahu kita sejarah dari wahyu itu dari pencipta melalui zaman para nabi. Perjanjian Baru mencatat dan hidup Yesus sang Kristus maupun tulisan-tulisan para rasul-Nya. Alkitab itu adalah jantung dari ibadah dan puja-bakti Iman Kristen Orthodox.

Sakramen-sakramen dan ibadah-ibadah gereja, penyembahan / ibadah adalah mempersembahkan pujian, kemuliaan, dan ucapan syukur kepada Allah: sang Bapa, sang Putra, serta sang Roh Kudus. Segenap manusia dipanggil untuk menyembah Allah. Yang paling menonjol dalam ibadah Orthodox adalah pujian, ucapan syukur, dan pemuliaan secara berjemaah kepada Allah oleh gereja. Penyembahan ini mengalami puncaknya di dalam persekutuan yang sangat akrab dengan Allah pada meja-Nya yang Kudus. Baptisan adalah cara seseorang sesungguhnya dimanunggalkan dengan Kirstus, yaitu dalam penyaliban, kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya (Rom 6:1-11). Iman Orthodox menyatakan bahwa inovasi-inovasi zaman modern ini merampok orang-orang yang tulus dan sungguh-sungguh dari jaminan-jaminan yang paling penting yang disediakan oleh baptisan – yaitu bahwa mereka telah dimanunggalkan dengan Kristus dan bagian dari gereja-Nya. Ekaristis itu berasal dari kata Yunani “Eukharisto” yang artinya “terima kasih” atau ucapan syukur dan amat awal ini telah menjadi kata yang sama untuk PERJAMUAN KUDUS. Ekaristi ini adalah pusat ibadah dalam gereja Orthodox. Karena sang Kristus mengatakan mengenai Roti dan anggur pada perjamuan terakhir “inilah tubuh-Ku” “inilah darah-Ku”, dan perbuatlah ini untuk mengingat untuk Aku (Luk 22:19-20). Perayaan Ekaristi adalah suatu bagian yang teratur dari kehidupan gereja sejak awalnya.

Liturgy suci adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan bentuk atau wujud dari ibadah gereja secara berjemaah dalam menyembah Allah. Kata liturgy itu sendiri dari kata Yunani “leitos = umat, rakyat” dan “ergos/erga =pekerjaan-pekerjaan” yang artinya “pekerjaan umat secara bersama”. Unsur-unsur utama di dalam Liturgi termasuk di dalamnya kidung-kidung, pembacaan dan pemberitaan Injil, doa-doa dan Ekaristi (Perjamuan Kudus) itu sendiri. Bagi umat Orthodox, ekspresi “liturgy” atau “liturgy suci itu” menunjuk pada upacara ekaristi yang ditetapkan oleh Kristus sendiri pada saat perjamuan terakhir (Perjamuan Mustika). Pengakuan dosa adalah suatu pengakuan terbuka akan dosa-dosa yang akan diketahui dihadapan Allah dan manusia. Pengakuan dosa adalah salah satu dari sarana pertobatan yang paling penting, serta sarana untuk menerima jaminan bahwa bahkan dosa-dosa yang paling buruk pun sungguh-sungguh diampuni. Ini juga merupakan salah satu dari bantuan-bantuan yang maat berkuasa bagi meninggalkan dan menguasai dosa-dosa itu.

Imam/Prebister, gereja Orthodox melihat landasan Alkitabiah mengenai Imamat itu sebagai berikut: setelah pengakuannya akan kemesias-an-Nya, Kristus mengatakan kepada Petrus: “engkau adalah Petrus (Batu karang), dan diatas batu karang ini (pengakuan Petrus dan diri Petrus sebagai wakil rasul-rasul) aku akan mendirikan jemaat (gereja) ku (Mat 16:18).  Sejak masa awal ini jabatan Rasul sudah mengerti jabatan “Episkop” yang dalam bahasa Arab menjadi “Al-Uskup”. Petrus menyebut dirinya sebagai teman penatua (Presbyterous = sesama prsebiter) yang berarti para presbiter ini nanti akan menggantikan kedudukan Rasul-rasul sebagai gembala jemaat (Kis 20:17-28). Presbiter dan Episkop pad asaat itu masih merupakan jabatan yang sama, sebagaimana Presbiter (penatua) di Kis 20:17 itu disebut juga Episkop (penilik) yang menggembalakan gereja di Kisah para Rasul 20”28. Dan Episkop (penilik Jemaat) inilah yang menjadi gembala gereja didampingi oleh Diaken (Flp 1:1).

Jenjang hierarki episkop, presbiter, dan diaken ini adalah jenjang hierarki keimanan, sebab mereka adalah penerus dan pengganti lanjut para Rasul. Rasul Paulus menyejajarkan fungsi para pemberita injil yaitu para rasul dan penerusnya itu dengan imam-imam Perjanjian Lama dari kata-kata yang dicatat dalam 1 Kor 9:13-14. Gereja secara kolektif adalah tubuh Kristus dan Kristus adalah imam besar (Ibrani 3:1), maka gereja sebagai “kepenuhan Kristus” Ef 1:23. Para Episkop, Presbiter dan diaken adalah ikon-ikon yang hidup dari kehadiran keimanan Kristus dalam gereja itu.kesejajaran keimanan Perjanjian Lama dengan keimanan Perjajian Baru sebagai manifestasi keimanan Kristus yang tunggal itu terlihat pada jenjang hierarkisnya. Para Episkop, Presbiter, Diaken ini adlaah pengganti lanjut atau pewaris mata-rantai rasuliah yang mereka semua adalah pria, meskipun antara para murid Yesus itu ada wanita tetapi tak pernah satu pun diangkat jadi rasul. Secara kodrat kemanusiaan perempuan dan lelaki adalah sama derajatnya (Gal 3:26-28). Namun, secara pembagian tugas dan fungsinya berbeda. Keimanan adalah fungsi laki-laki, sebagai ikon penganti pria: Kristus, dan pengantin rasul adalah bapa bangsa bagi umat yang baru.

Sembahyang harian tujuh kali sehari: dalam orthodox disebut sebagai “sholat tujuh waktu”. Orthodox belajar dari sebagaimana Israel belajar tentang imannya melalui perayaan-perayaan yang menceritakan peristiwa-peristiwa karya Allah di dalam Israel, demikianlah gereja Orthodox berteologi dengan bersumber dari perayaan-perayaan, ibadah, dan sakramen-sakramennya yang menceritakan peristiwa-peristiwa karya Allah yang sudah dilakukan dalam Kristus Yesus oleh Kuasa Roh Kudus. Pembagian waktu dalam penanggalan gereja dalam lingkaran pembagian jam adalah dalam bentuk perayaan-perayaan yang dilakukan bagi yang memperingati sejarah keselamatan dalam bentuk ibadah dan liturgy. Sebagai mana pada zaman Israel setiap hari memiliki waktu-waktu sembahyang itu sebanyak dua kali sehari, demikian juga gereja orthodox juga memiliki waktu hariannya untuk ibadah.

Ada juga 6 waktu sembahyang menurut kitab suci, yaitu: waktu pagi, dalam gereja Orthodox merupakan peringatan kelahiran dan kebangkitan Kristus sang terang dunia itu, yang merupakan natal dan paskah harian. Waktu jam Sembilan, sebagai peringatan turun-Nya Roh Kudus atau pentakosta harian. Waktu tengah hari, merupakan peringatan saat Yesus disalibkan: jumat Agung Harian. Waktu jam tiga sore, merupakan peristiwa saat Yesus menghembuskan nafas-Nya. Waktu senja, merupakan peringatan penguburan Yesus harian, sabtu Kudus pagi harian. Waktu tengah malam, merupakan sholat akan tidur, berdoa (Maz 4:1-9).

Puasa adalah saat menguji iman dan kasih seseorang akan Allah di dalam Kristus. Keselamatan dalam ajaran Iman Kristen Orthodox itu tak berarti sekedar naik surga demikian saja, tetapi lebih dari itu adalah untuk manunggal dalam kehidupan Allah sendiri. Puasa sebagai disiplin dalam praktek panunggalan dengan kematian Kristus untuk mematikan hawa-nafsu, serta manunggal dengan kebangkitan Kristus guna memunculkan sifat-sifat manusia baru. Kristus yang menjadi landasannya dan Kristus pula yang menjadi tujuan akhir dari semua ibdah ini. Puasa tak boleh dimengerti dalam dirinya sendiri, namun dalam kaitannya dengan tujuan akhir hidup Kristen: manunggal dengan Kristus. Puasa selalu dilakukan bersama-sama dengan doa (Yer 14:11-12, Neh 1:4, Ezr 8:21-23). Puasa bagi murid Yesus barulah akan dijalankan sesudah Yesus naik ke Surga. Dalam konteks hidup dalam Kristus dan berlandasan Kristus inilah puasa Kristen itu harus dilakukan. Namun, Yesus juga memberi teladan bagaimana Dia sendiri juga berpuasa selama 40 hari 40 malam (Mat 4:2)

Persepuluhan dan sedekah, satu-satunya jalan agar manusia tidak jatuh dalam kemusyirikan melalui harta miliknya, adalah mengabdi dan menghambarkan harta tadi kepada Allah dengan menggunakannya untuk kemuliaan Allah. Bagaimana kita memuliakan Allah dengan harta dan menghambarkan harta kepada Allah itu dijelaskan demikian: ikatlah persahabatan (lakukan perbuatan-perbuatan baik, saleh, dan bijak, semacam persahabatan itu) dengan mempergunakan mammon (melalui harta kekayaan yang engkau miliki). Kesukaan memberi dan membagi yaitu bersedekah itu dapat dinyatakan dalam banyak hal, yang oleh Almasiah dinyatakan demikian: Matius 25:40.sesama kaum beriman itulah prioritas utama dan kepada kaum beriman pun ada beberapa cara dimana kita dapat mengabdi harta milik itu kepada Allah. Almasiah tidak mengecam puasa maupun zakat persepuluhan, tetapi memberikan penjelasan bagaimana puasa maupun zakat persepuluhan itu harus dilakukan, yaitu dengan kerendahan hati. Menurut Almasiah zakat dari penghasilan kita itu adalah sesuatu yang harus dilakukan, namun harus dilakukan dengan segala kerendahhatian, keadilan, belaskasihan, dan kesetiaan.

Kepada siapa zakat persepuluhan ini harus diberikan, kitab suci memberikan beberapa petunjuk, yaitu: pertama, kepada pelayan Injil (rohaniawan gereja: Episkop, Presbiter, Diakon, Yang mengajar, memberitakan, dan menggembalakan) Gal. 6:6. Meskipun secara umum dapat dikatakan bahwa zakat persepuluhan itu adalah diperuntukkan bagi pelayan mezbah, dalam Perjanjian Lama: Imam Agung, Imam, orang Lewi, dab dalam Perjanjian Baru: Episkop (penilik jemaat), penatua (Presbiter dan Diakon) dapat diberikan kepada setiap pelayan injil yaitu para rohaniawan Gereja (Episkop, Presniter, dan Diakon) sebagai pengganti-lanjut Rassuliah, namun lebuh khusus lagi zakat itu diperuntukkan bagi Rohaniawan yang membaptiskan, setiap harinya mengajar, menggembalakan, dan melayani kebuutuhan rohani dari jemaat setempat di mana si orang percaya itu tinggal. Kedua, mereka yang dalam jalan memperjuangkan kebenaran injil. Iman yang Rassuliah/Orthodox itupun berhak untuk diberi pertolongan dari zakat sepersepuluhan itu, termasuk disini adalah para katekis yang telah diberkati dan ditunjuk oleh Episkop. Ketiga, kepada saudara seiman yang miskin dan yang mendapat musibah. Jika orang ingin mempersembahkan perpuluhannay kepada gereja dalam konteks penggunaan hak milik baggi pengabdian kepada Allah. Jangan pula disangka bahwa yang wajib memberi itu hanya orang kaya, orang miskin pun harus belajar untuk memberikan sesuatu kepada Allah karena orang miskin pun dapat memperhalakan kemiskinannya, dari sedikit yang dia punya pun dia dapat jatuh kepada kemusyrikkan.

Kerudung, adalah penutup kepala yang digunakan oleh para wanita Orthodox pada saat mereka beribadah dan bahkan sering pula dikenakan diluar ibadah. Mengenai cara wanita saleh berpakaian dijelaskan oleh kitab suci: 1 Tim 2:9-12, 1 Petrus 3:1-6. Dari kedua kutipan itu kita lihat ajaran kitab suci, bahwa perempuan Kudus tidak boleh terlalu berdandan dengan mewah. Dandanan mereka haruslah dandanan batin yang menampakkan diri dalam perbuatan baik. Dan dandanan mereka harus dikaitkan dengan keberadaan mereka sebagai orang yang terikat dengan suami dan tunduk dan taat kepada suami, itu berarti suami memiliki otoritas dan wewenang atas perempuan. Cara perempuan Kudus dahulu berdandan dalam konteks ketaatan dan kepatuhan kepada suami adalah dengan mengenangkan “KERUDUNG” atau “TELEKUNG”. 1 Kor 11:2-15, mengajarkan kita tentang pakaian perempuan dalam ibadah. Menurut pasal ini “laki-laki adalah kepala perempuan” 1 Kor 11:3. Sementara Kristus adalah kepala laki-laki dan Allah adalah kepala Kristus. Perempuan itu menghadap Allah dan Allah itu selalu dikelilingi oleh para Malaikat dan para Malaikat itu taatnya mutlak dan patuhnya mutlak kepada Allah sebagai Tuan dan Penguasanya, maka perempuan yang menghadap Allah harus meneladani ketaatan dan kepatuhan para Malaikat ini, dengan menunjukkan symbol keberadaannya dibawah wibawa laki-laki, itulah sebabbnya dikatakan: sebab perempuan harus memakai tanda wibawa dikepalanya oleh karena para Malaikat.

Music gereja, Hyemnologi dari music Byzantin dibagi dalam 3 kelompok, yaitu: Eirmologika (yang dinyanyikan dalam ketukan yang cepat). Stikhirargika (yang dinyanyikan dalam ketukan yang paling lambat. Papadika (yang dinyanyikan dalam ketukan lambat, satu suku kata untuk keseluruhan frasa music. Satu pengelompokkan yangb besar adalah Kontakion-oikos (puisi yang panjang). Yang disebut dengan Kidung Kanon, mempunyai tema yang berurutan. Sebagaiman orang-orang Yahudi mengakhiri kidungan Mazmur mereka dengan kidung Doxologia, demikianlah juga sekarang dalam gereja Orthodox kidung disusun dalam struktur yang seperti itu.

Disiplin/Siasat Gereja. Disiplin gereja sering berpusat disekitar tak diizinkannya seseorang untuk menerima Perjamuan Kudus (pengucilan). Rasul Yohanes memperingatkan agar kita tidak menerima ke dalam rumah kita, mereka yang secara sengaja menolak kebenaran Kristus 2 Yoh 9:10. Gereja Orthodox telah menjalankan disiplin / siasat dengan penuh belaskasihan jika itu diperlukan, selalu menolong untuk membawa perubahan hati yang diperlukan. Dan untuk membantu umat Allah untuk menghidupi kehidupan yang murni dan Kudus, tak pernah disiplin itu sebagai hukuman.

Kehidupan dalam gereja: persekutuan orang-orang Kudus, apabila orang Kristen meninggalkan hidup ini, mereka tetap merupakan suatu bagian yang amat penting dari gereja, Tubuh Kristus. Mereka hidup dalam Tuhan dan tidak mengalami kematian lagi (Yoh 5:24, 11:25) dan nama mereka terdaftar di Surga (Ibrani 12:23). Mereka adalah banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi (Ibrani 12:1). Menolak dan mengabaikan persekutuan para orang Kudus adalah suatu penyangkalan akan fakta bahwa mereka yang meninggal dalam Kristus “sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup (Yoh 5:24) serta mereka itu “masih hidup walaupun sudah mati” Yoh 11:25 dan dengan demikian masih bagian dari gereja-Nya yang Kudus.

Memohon bantuan doa dari orrang-orang Kudus, itu adalah suatu jalan masuk yang penuh kemuliaan menuju surga. Gereja yang benar itu terdiri atas semua mereka yang ada di dalam Kristus – di Surga dan di Bumi. Mereka yang berada di Firdaus dengan Kristus itu hidup sebagai “roh-roh orang-orangb benar yang telah menjadi sempurna” Ibrani 12:23, dalam persekuan dalam Allah, menyembah Allah, melakukan bagian mereka dalam tubuh Kristus. Mereka secara aktif berdoa kepada Allah bagi semua mereka yang ada dalam gereja dan barang kali memanglah demikian, berdoa bagi seluruh Dunia (Ef 6:8, Why 8:3).

Pengganti-lanjut / suksesi / Sanad Rasuliah telah merupakan masalah yang sangat penting sejak abad kedua, bukan sekedar sebagai dogma, namun sama menentukkannya bagi pemeliharaan iman itu sendiri.beberapa guru palsu yang muncul di atas panggung, mereka adalah wakil-wakil gereja Kristen yang memiliki wewenang. Menyatakan diri memiliki wewenang dari Allah dengan merujuk pada wahyu-wahyu khusus. Mereka ini disebut kelompok “Gnostik” ajaran mereka adalah ajaran lain yang melenceng dari ajaran yang lurus dan benar. Pengganti-lanjut / suksesi / sanad Rasuliah adalah suatu factor yang dapat digantikan dalam menjaga keutuhan gereja. Pada masa kini, para mengecam ajaran suksesi/pengganti lanjut menyejarah (historis) ini dan berusaha untuk mencari suatu jati diri hanya dengan gereja awal saja.

Konsili-konsili/sinode-sinode agung gereja. Suatu konflik yang bersifat monumental (dicatat dalam Kis 15) muncul dalam gereja zaman dini mengenai legalisme, usaha mempertahankan pelaksanaan syariah-syariah agama Yahudi oleh umat Kristen. Sudah ada ratusan konsili semacam itu – local dan regional – selama berabad-abad dalam sejarah gereja, dan khususnya 7 konsili yang disebut sebagai “Ekumenis/umum/universal” yaitu yang dianggap berlaku bagi segenap gereja. Pengakuan iman /syahadat/ kredo yang arinya “aku percaya” atau “aku bersaksi”. Syahadat atau pengakuan iman yang paling penting dalam dunia Kristen adalah “pengakuan iman /syahadat Nikea” hasil dari 2 konsili Ekumenis (325 Masehi dan 381 Masehi) pada abad ke-4. Pengakuan iman Nikea terus-menerus mengingatkan umat Kristen Orthodox akan apa yang ia percayai secara pribadi itu, supaya tetap berada dalam jalur dan rel yang lurus.

Mengenai akhir zaman dan kedatang Kristus yang kedua, kedatang Kristus yang kedua kali. Umat Kristen orang Kristen mengakui dengan keyakinan bahwa Yesus Kristus “akan datang lagi untuk menghakimi orang hidup maupun orang mati” dan bahwa “kerajaan-Nya tak akan ada akhirnya” agar mereka boleh yakin dihadirat-Nya apabila Ia datang lagi (1 Yoh 2:28). Surga adalah tempat takhtah Allah berada, ini mengtasi waktu dan ruang. Disitulah tempat bersemayamnya para Malikat Allah dan para Orang Kudus yang telah melewati kehidupan dunia ini. Bagi orang Orthodox, Surga adalah bagian dari kehidupan dan ibadah Kristen. Perjamuan Kudus adalah ibadah Surgawi, Surga di atas bumi. Rasul, Paulus mengajarkan bahwa kita telah dibangkitkan bersama Kristus dan ditempatkan di Surga (Ef 2:6). Pada akhir zaman, msuatu langit yang baru dan bumi yang baru akan dinyatakan (Wahyu 21:1).

Neraka, meskipun hal ini sangat tidak popular bagi orang-orang modern, neraka itu nyata. Gereja Orthodox mengerti neraka sebagai siksa kekal akibat manusia menolak hadirat kasih Allah yang berwujud api energy Ilahi yang tak tercipta, bagi orang yang menanggapi kasih Allah itu. Namun, bagi orang yang menolak kasih Ilahi yang sama itu berdampak membakar dan menyiksa. Jadi, yang menyiksa dalam neraka itu bukan Allah tetapi manusia itu sendiri yang hatinya tak memiliki kasih kepada Allah, sehingga kasih Allah itu dirasakan sebagai hadirat yang menyiksa dan menyakitkan.

KEKRISTENAN ORTHODOX DAN BEBERAPA PERTANYAAN MORAL MASA KINI

Ekumenisme merupaka orang harus menyambut penolakan atas perpecahan umat Kristen yang sudah berabad-abad itu, tetapi hanya kalau itu dilakukan dengan sasaran dan tujuan untuk membukakan harta karung Orthodoxia, untuk mereka yang terputus dari gereja kembali kepada kesatuan dalam Orthodoxia. Sikap gereja Orthodox mengenai hubungan Ekumenis ini ada dua macam. Yang satu bersifat non-kompromi dan ketat, yang lain bersifat moderat. Yang bersikap non-kompromi dan ketat sellaun bersikap sangat hati-hati dan menjauhkan diri. Kelompok yang ketat ini merasa adalah kewajiban mereka untuk memelihara dan menjaga iman dari gereja yang satu, Kudus, Katholik dan Apostolik, yang tak pernah terbagi-bagi, meskipun dalam sejarahnya banyak bidat-bidat yang memisahkan diri darinya. Namun gereja Rasuliah itu sendiri tak terbagi.

Umat Protestan meyakini bahwa tidak satu kebenaran yang tunggal dan tidak ada yang tampak sekalipun, namun masing-masing denominasi dan aliran kekristenan memiliki suatu bagian dalam kebenaran. Salah satu cara mencapai kesatuan ini, sebagaimana yang dipahami oleh para peserta dialog-dialog dalam gerakan Ekumenis adalah mengadakan doa dan ibadah bersama. Iman Kristen Orthodox tidak akan pernah dapat menerima ekklesiologi (ajaran mengenai gereja) semacam ini. Bagi umat Orthodox, doa bersama dan persekutuan dalam liturgy suci (perjamuan Kudus) adalah suatu ekspresi dalam suatu kesatuan yang sudah ada dalam lingkup dan batasan dari gereja yang satu Kudus, Katholik dan Apostolik (Rasuliah). Mengambil perjamuan Kudus secara bersama itu akan berarti pengakuan bahwa semua orang yang menerima perjamuan Kudus itu telah termasuk dalam gereja Rasuliah (Aposatolik) yang satu-satunya itu.

Pengangguguran kandungan adalah pemusnahan suatu janin dari dalam kandungan seorang ibu. Apabila seorang bayi itu digugurkan, itu seorang manusia yang dibunuh. Bagi orang Kristen, semua anak, baik yang baru lahir atau yang belum, itu sangat berharga di mata Allah dan merupakan suatu anugerah yang berasal dari-Nya. Aliran Sekte-Sekte adalah kelompok-kelompok agamawi dari sekelompok orang yang memusatkan pada suatu doktrin agamawi yang menyimpang dari tradisi pengajaran dan gereja (historis) sebagaimana yang diwahyukan oleh Yesus Kristus, ditegakkan oleh para rasul-Nya, serta dijaga oleh tujuh Ekumenis gereja. Bahaya dari aliran sekte adalah bahwa itu memisahkan orang-orang yang ada di dalamnya dari kehidupan Kristus dan gereja-Nya, dimana /Anugerah /Rahmat /Kasih karunia dan berkat-Nya ditemukan. Semua aliran sekte akhirnya lenyap dan mati, tetapi gereja terus hidup. Okultisme, Ilmu teknik, dan perdukunan adalah suatu usaha manusia untuk memanipulasi kehidupan dengan cara-cara yang bukan dalam pasrah kepada Allah. Ini termasuk lingkup penyembahan berhala. Penyembahan kepada makhluk roh semacam itu adalah dusta, maka “bapa segala dusta” (Yoh 8:44), yaitu: Iblis dan segala roh jahatnya (1 Kor 10:19-20) menggunakan kesempatan itu untuk menipu dan menyesatkan manusia. Sehingga memalingkan manusia dari penyembahan dan ketergantungan yang utuh kepada Allah yang Esa, serta menjadikan manusia sebagai orang-orang yang Musyrik. Alkitab mengajarkan kita dalam Ul. 18:9-12; Imamat 19:31; Imamat 20:6. Ada beberapa kategori larangan sehubungan dengan ilmu gaib ini dapat kita terangkan sbb:

Pertama, mempersembahkan anak sebagai korban dalam api, inilah praktik umum yang dilakukan dalam agama kanaan yang menyembah dewa Baal pada zaman nabi Musa. Dimana untuk mnunjukkan cinta baktinya kepada si dewi itu, orang rela mengorbankan anaknya dengan menyembelih dan membakarnya di depan patung dewa baal itu. Kedua, ilmu tenung adalah praktik melihat atau meramalkan peristiwa-peristiwa masa depan atau menemukan hal-hal yang tersmebunyi, serta menebak rahasia seseorang yang tidak diketahui oleh orang lain. Ketiga, peramal, maknanya adalah suatu praktik yang dinyatakan bahwa melaluinya orang dapat mendapatkan kesaktian atau pengetahuan adikodrat yang gaib. Ini juga merupakan kemusyrikan yang dikutuk oleh Allah. Keempat, penelaah: dalam bahasa aslinya kata ini bermakna “pemberitahu keberuntungan”. Menurut terjemahan bahasa Inggris disebut sebagai “enchanter” (juru gendam, juru pesona, dengan ilmu sihir) yang maknanya penggunaan ilmu gaib dan “magic” dalam bentuk apa saja yang melaluinya orang dapat mendapatkan keberuntungan. Kelima, penyihir: dalam bahasa aslinya berarti orang yang melepaskan kuasa ilmu-sihir. Tujuan dari ilmu ini adalah mendapatkan daya kekuatan untuk menghancurkan musuh atau orang yang dianggap menjadi musuhnya melalui cara yang bukan fisik. Keenam, pemantera: dalam bahasa aslinya berarti orang yang melakukan mantera magis. Maksudnya orang menggunakan suatu formula kata tertentu yang diharapkan melalui formula kata itu suatu kekuatan yang magis dapat dihasilkan oleh kekuatan yang muncul dari tenaga batin manusia. Ketujuh, bertanya kepada arwah (roh-roh). Arwah adalah bentuk jamak dari roh-roh (roh orang mati). Delapan, roh peramal yang dalam bahasa aslinya adalah dukun yang mengetahui rahasia dunia gaib. Inilah yang dalam zaman modern ini berbentuk agama kafir Non-Kristen yang menamakan dirinya dengan Gereja, yaitu “gereja setan”. Sembilan, meminta petunjuk kepada orang-orang mati, ini adalah salah satu bentuk dari ilmu perdukunan dan sihir dimana pelakunya akaj mengundang roh-roh yang dianggapnya sebagai roh orang mati. Kasus yang paling terkenal dalam kitab suci adalah kasus “dukun wanita dari Endor” (1 Sam 28). Meminta petunjuk keada orang mati ini jangan dikacaukan dengan penghormatan kepada orang saleh hamba-hamba Allah, yaitu penghormatan kepada orang-orang Kudus yang dilakukan oleh gereja Orthodox. Penghormatan orang Kudus ditunjukkan untuk mengingat jasa mereka sebagai orang yang memberikan teladan Iman kepada kita (Ibrani 13:7). Sepuluh, tenaga dalam: berkaitan dengan pembahasna mengenai ilmu gaib ini adalah masalah tenaga dalam. Sebelas, kemungkinan terjadinya kekuatan gaib dalam ilmu-ilmu gaib ini: melihat begiitu seriusnya Alkitab mengingatkan kita akan bahayanya ilmu gaib (Okiltisme) ini pertanyaan dapat kita ajukan akan kebenaran kekuatan magis yang dilakukan para pelakunya. Dibuktikan bahwa Ilmu sihir, ilmu gaib, Okultisme, tenaga prana, tenaga dalam, mantera, kudalini, atau ilmu apa saja yang berbeda dan tidak boleh dikacaukan dengan mukjizat Ilahi yang hanya diberikan oleh Allah kepada para hambanya yang saleh dna taat. Ilmu gaib ini bertujuan untuk membelokkan manusia dari ajaran kebenaran Wahyu Ilahi, tetapi itu adalah pekerjaan tipu muslihat dan kejahatan yang bersumber dari iblis karena berusaha memurtadkan manusia dari jalan Tuhan yangb lurus kea rah jalan yang bengkok dan sesat yang bertentangan dengan prinsip Tauhid.

Pernikahan, dalam gereja Orthodox itu bersifat selama-lamanya. Keberhasilan pernikahan tidak bergantung pada saling janji setia secara manusia saja, tetapi pada janji-janji dan berkat Allah. Di dalam ucapan pernikahan gereja Orthodox, pengantin wanita dan pria saling mempersembahkan hidup dan mereka juuga mempersembahkan hidup kepada Kristus_secara Literal sebagai para syuhada atau martir yang mempersembahkan hidup mereka. Agama-agama Non-Kristen: iman Orthodox percaya pembagian wahyu Ilahi dalam dua bagian: wahyu umum (wahyu Alamiah) dan wahyu Khusus (Wahyu adikodrat). Wahyu umum dinyatakan melalui

  1. Melalui keberadaan alam semesta (Maz 19:1-4, Rom 1:19-20)
  2. Melalui hati nurani (Rom 2:14-16) sehingga manusia menyadari mana yang salah da mana yang benar
  3. Melalui pemeliharaan alam dan kehidupan (Kis 14:16-17)
  4. Melalui sejarah dna budaya (Kis 17:26-27)

Karena melalui wahyu umum ini manusia mengenal adanya pencipta, adanya pemeliharaan, adanya pemberian hukum, adanya hari pengadilan, dan adanya kekekalan. Dari wahyu umum ini dan disitulah terbentuknya agama. Sedangkan wahyu khusus itu hanya dinyatakan melalui sejarah suci keselamatan yang dimulai dari janji pertama kepada Adam (Kej 3:15). Lalu dilanjutkan dengan janji kepada Abraham (Kej 12:3, 22:18) dan akhirnya digenapi dalam Yesus Kristus, diberitakan oleh para Rasul dipelihara berita-Nya oleh gereja yang sebaggaimana dituliskan dan akhirnya berwujud kita suci perjanjian Baru, dan dihidupi oleh gereja sebagai paradosis. Iman Orthodox tidak takut mengakui yang benar sebagai benar dalam agama apa pun, namun tak takut pula mengatakan yang salah sebagai salah.

Minuman keras, merokok, dan narkoba adalah kebiasaan dan gaya hidup ketergantungan pada jenis-jenis kecanduan tertentu. Kitab suci tidak akan langsung berbicara tentang narkoba dan rokok. Namun bagaiman Kitab Suci mengajarkan tentang minuman keras yang berefek memabukan dan kecanduannya sama dengan efek yang diakibatkan oleh narkoba dan dan rokok. Beberapa landasan theologis yang harus menjadi pertimbangan dalam menyikapi hal ini adalah sbb:

  1. Kristus datang untuk memberikan kehidupan dan memilikinya dalam kelimpahan (Yoh 10:30)
  2. Orang yang percaya kepada Kristus harus memperbahatui akal budinya (Rom 12:2)
  3. Meskipun segala sesuatu halal bagiku, tetapi tidak semuanya berguna (1 Kor 6:12)

Dari ketiga landasan theologis ini, menurur kitab Suci “anggur sedikit” yaitu penggunaan yang tidak berlebihan memang ada manfaatnya, bahkan untuk pengorbanan. Namun ketika itu disalahgunakan dalam kemabukan sehingga orang menjadi bodoh, tidak arif, penuh dengan keinginan hawa nafsu serta diperhamba oleh benda-benda itu. Apabila efek moralnya yang menimbulkan hawa nafsu yang bermcam-macam itu membuat orang tidak lagi memiliki “pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kirstus Yesus. Dan efek yang tragis adalah benda-benda ini menyebabkan penyakit dan kematian.

Perjudian, dari awal penciptaannya manusia telah diberi oleh Allah “jerja” sebagai suatu tugas kehidupan (Kej 2:15). Sehingga kitab suci dengan tegas mengajarkan bahwa seseorang tidak mau bekerja janganlah ia makan. Yang disebut “kerja” adalah adanya “tuan” entah itu suatu perusahaan, kantor pemerintah, atau perorangan (Mat 20:1) artinya adalah pertanggungjawaban. Dalam judi tidak ada tanggungjawab kepada suatu lembaga yang sah, tidak ada kesepakatan upah dalam jumlah tertentu sebagai imbalan jasa dan kemampuan kerja, tidak ada jasa dan kemampuan yang diberikan serta tidak ada kontrak tertentu. Semuanya tergantung pada nasib dan keberuntungan. Judi bukan kerja, karena judi bukan kerja, judi tidak dapat dijadikan sebagai mata-pencahariaan, karena “orang yang tidak mau berja jangan ia makan”. Pada dasarnhya judi adalah cinta akan uang. Judi adalah salah bentu memburu uang.

Perceraian, gereja Orthodox berdukacita mendalam oleh tragedy dan rasa sakit yang disebabkan oleh perceraian. Gereja tidak menangani perceraian secara legalistic, tetapi dengan penuh belaskasihan. Seks sebelum menikah, iman Kristen Orthodox memegang teguh ajaan Alkitab bahwa hubungan badani itu hanya terbatas dalam pernikahan. Seks adalah karunia Allah, untuk dinikmati dan dialami sepenuhnya hanya dalam pernikahan. Seks dapat digunakan sebagai suatu sarana untuk memuliakan Allah dan menggenapi gambar-Nya di dalam kita atau dapat juga itu dibelokkan dan disalahgunakan sebagai alat-alat dosa, menyebabkan kerusakan besar kepada kita dan kepada orang-orang lain. Rasul Paulus mengatakan bahwa “tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah bahwa kamu bukan milik kamu sendiri”. Sebab kamu telah dibeli dengan harga yang mahal dan lunas, karena itu mulaikanlah Allah dengan tubuhmu (1 Kor 6:19-20).

Homoseksualitas, pada masa kini ada banyak keterbukaan dalam membahas membahas masalah homoseksualitas dari pada saat-saat sebelumnya. Ini adalah bukan masalah yang baru bahkan sudah dikatakan dalam kitab suci sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Pembahasan tentang homoseksualitas tidak dapat dipisahkan dari tujuan Allah menciptakan manusia dan jenis laki-laki dan perempuan. Lelaki-lelakian dan perempuanan itu adalah suatu keniscayaan dari ekspresi kemanusiaan yang satu hanya memiliki dua ekspresi “laki-laki dan perempuan”. Dua ekspresi yang berada dari kemanusiaan yang satu itu diciptakan agar untuk menjadi satu (Mat. 19:5). Ini merupakan “cinta kasih” antara Bapa dan Putera di dalam Roh Kudus oleh kasih itu. Jadi, lski-laki merupakan gambar dari sang Bapa sedangkan perempuan menggambarkan sang Putera.

Perbedaan jenis kelamin adalah gambaran dari perbedaan Hipostasys di dalam Tritunggal yang Esa itu. Dan kesatuan perkawinan adalah gambaran dari kesatuan dari hypostasis-hipostasis yang berbeda tersebut. Homoseksualitas lebih tepat diiltilahkan sebagai “pemburit” bagi pihak yang pasif menerima penetrasi. Sedangkan Homoseksualitas menyangkut macam-macam teknis dan bentuk hubungan seksual antara dua orang yang berjenis kelamin sama. Dalam zaman para bapa gereja para mantan semburit bakti atau para pemburitnya yang telah bertobat dari gaya hidup merek ayang bertentangan dengan kekudusan injil, itu dianggap telah mengalami kebebasan rohani. Gereja Orthodox tetap menganggap perbuatan homoseksualitas, tetapi bukan orang yangb memiliki kecenderungan homoseksual, tetapi rela mengendalikan dan menyalibkan dagingnya, sebagai sesuatu yang tidak sejalan dengan ajaran injil.

Refleksi:

Dari berbagai ajaran-ajaran iman gereja Orthodox sangat mengingatkan saya untuk tidak mengabaikan betapa pentingnya mengenal dan amengerti makna dari bentuk gereja dan ikon-ikon yang ada. Yang menggugah hati saya dalam mengenai ini adalah tentang ikon, dimana berdoa kepada orang-orang Kudus bukan berarti kita membenyembah mereka melainkan meminta pertolongan kepada mereka untuk menolong kita orang-orang berdosa ini. Kemudian sembahyang ada yang 3x sehari, 6x sehari dan 7x sehari. Dalam hal ini saya berusaha untuk melakukan hubungan yang intim dengan Tuhan mulai dari sekarang. Kemudian buku ini membahas tentang moral masa kini. Sungguh memperbaiki moral saya yang rusak dan membentuknya kembali. Dengan berbagai hal-hal yang selama ini saya percaya kepada orang begitu saja, namun saya tidak menyadari bahwa segala moral yang dimiliki manusia telah rusak sehingga membawa kepada kesesatan. Saya mulai membentuk moral yang saya miliki dengan menjaga hati dan kekudusan hidup dengan tidak sembarang menggunakan pikiran.

GBU.

MINGGU PUASA


Minggu Puasa ada 40 hari. Minggu pertama, minggu orthodox (minggu icon) membereskan hati dari dosa. Gambar yang kita miliki telah rusak, namun bagaimana kita memperbaruinya untuk menjadi serupa atau segambar dengan Kristus. Minggu kedua, Gregori Palamas, untuk menjadi segambar dan serupa dengan Allah perlu kasih karunia atau Anugerah. Kasih karuni inilah yang kita gunakan ketika kita berakar. Berakar itu semakin kita menyerap anugerah itu. Untuk memperoleh anugerah itu harus berakar di dalam Kristus yaitu berjaga-jaga (minggu berdoa dan berjaga-jaga). Lukas 18:36.

Minggu ketiga, penghormatan salib yaitu dengan mengikuti teladannya Yesus. Tidak ada kemenangan tanpa penderitaan. Kita dioanggil bukan hanya menjadi orang baik tetapi menjadi orang-orang Kudus. Salib itu yang menyucikan. Salib itu penyalipan kedagingan. Mengingatkan kita untuk harus memikul salib dan meneladani Kristus. Minggu keempat, Yohanes Cli Markus, 30 anak tangga itulah salib yang kita pikul itu. Mulailah menjalani mengalami penderitaan itu. Minggu kelima, minggu Maria dari Mesir, ia mengalami seperti apa yang Yesus alami, ia menderita, bertobat dan menaiki anak tangga, mengalami penyaliban itu. Ia mengalaminya selam 47 tahun.

Bagaimana kita mengalami penyaliban daging ini:

  1. Menangis (pertibatan)
  2. Penderitaan (salib, anak tangga)
  3. Kebangkitan (menang atas maut atau dosa, menjadi orang Kudus, segambar dengan Kristus).

Itulah artinya ikut Yesus.

Minggu keenam, minggu kesengsaraan Kristus (Matius 21: 1-11, Yoh 12:12-19, Lukas 19:41-48) tentang situasi dan peristiwa pada saat Yesus memasuki Yerusalem. Makna dari ikon yang ada adalah ada daun palem yang bersimbol sukacita dan kemenangan Yesus atas mengalahkan penderitaan yang akan Dia alami nantinya.

Dalam ikon ini ada kelompok anak kecil yang menyambut dengan sukacita dan ada juga kumpulan orang banyak yang bermuka sinis terhadap Yesus. Namun, Yesus mengabaikan kata-kata dan harapan mereka. Sebab orang banyak yang mengharapkan mujizat (seorang raja yang bisa membuat Mujizat) kebangkitan Lazarus ini sebuah bayangan kebangkitan yang Ia akan alami satu minggu kemudian bahwa Dia nanti akan di bangkitkan oleh Allah Bapa dengan persekutuan Roh Kudus.

KEBANGKITAN LAZARUS

Yoh 11:1-44, kebangkitan Lazarus adalah mujizat terakhir yang Dia buat sebelum ada mujizat kebangkitan-Nya. Tujuannya adalah menguatkan iman para murid menghadapi kesengsaraan. Yoh 12: 35-36, pesan-pesan Yesus kepada para murid untuk menguatkan iman mereka.Mat 20:19; Mar 9:31; Lukas 18:33; Yoh 12:35-36). Tetapi para murid ini tidak mengerti.

Yesus masuk ke Yerusalem bukan untuk menang atas kerajaan Israel melainkan untuk menderita dan menang untuk kerajaan Allah.

Siapa Dia, dan siapakah Yesus itu buat saya pribadi? Mat 21:1-11, 15-17. Pilatus dan Saulus sama-sama bertanya tentang siapakah Tuhan? Respon dari kedua ini sangat berbeda. Sebab respon Pilatus = ia mencuci tangan sedangkan respon Saulus yaitu percaya dan bertobat. Sekarang siapakah engkau dari kedua pernyataan ini?

Siapa Dia? Sudah 2 kali Allah menjawab pertanyaannya dengan menjawab Dia adalah Anak-Ku yang kuperkenankan. Siapakah Yesus? Yaitu Allah yang sejati dan manusia yang sejati dalam pribadi yang sama, jurselamat kita satu-satunya. Siapa Yesus (itu jawaban dogmatis) = Dia Firman yang menjadi daging. Tapi siapa Yesus bagimu? (ini adalah jawaban refleksi atau jawaban hati seperti jawaban anak kecil) = menerima Dia sebagai Tuhan dan juruselamat, pribadinya yang saya terima, kol 2:6. Menanggalkan pakaian lama kita (menerima Yesus itu di dalam hati kita. menerima Dia maka kita ada pengharapan akan kemenangan.

Kesimpulan:

Yang dibawa Yesus pada waktu masuk di Yerusalem adalah menyambut Yesus seperti anak kecil artinya menerima Dia dengan menanggalkan pakaian lama dan memakai pakaian baru. Gal 3:27 maksudnya baptisan adalah menanggalkan manusia lama kita. Ada palma yang Yesus sediakan (ada kemenangan). Waktu kita dibaptis kita mengalami penderitaan dan mengalami kemenangan secara spiritual dan jasmani. Walaupun ada penderitaan da nada kemenangan.

Refleksi:

Dalam kedua pernyataan yang ada, pernyataan yang dilakukan Pilatus atau Paulus yang mengenal dan menerima Yesus sebagai juruselamat dan bertobat? Siapakah Yesus dalam dirimu? Dia adalah sebagai Tuhan dan juruselamat saya bukan apa yang ada padanya yang saya terima melainkan Pribadi-Nya dan mengikut Dia selamanya.

Marniwati Gulo

Sinoptik PB

Dosen: Dr. Hendi Wijaya, SS

IMPERATITIVE SUBSTANTIVAL USES (PENGGUNAAAN SEBAGAI KATA BENDA)

  1. Matius 3:15

Ἀποκριθεὶς δὲ ὁ Ἰησοῦς εἶπεν πρὸς αὐτόν, Ἄφες ἄρτι· οὕτως γὰρ πρέπον ἐστὶν ἡμῖν πληρῶσαι πᾶσαν δικαιοσύνην. Τότε ἀφίησιν αὐτόν.

But Jesus answering said to him, “Permit it at this time; for in this way it is fitting for us to fulfill all righteousness.” Then he permitted Him. (Matt. 3:15 NAS)

πληρῶσαι (menggenapi/memenuhi) = infinitive subjek dari ἐστὶν ἡμῖν

πληρῶσαι menjelaskan kata ἐστὶν

2. Matius 3:14

Ὁ δὲ Ἰωάννης διεκώλυεν αὐτόν, λέγων, Ἐγὼ χρείαν ἔχω ὑπὸ σοῦ βαπτισθῆναι, καὶ σὺ ἔρχῃ πρός

βαπτισθῆναι (baptis) = infinitive Epexegetical (karena menjelaskan kata benda)

βαπτισθῆναι dari kata membutuhkan χρείαν

3. Wahyu 11:18

Καὶ τὰ ἔθνη ὠργίσθησαν, καὶ ἦλθεν ἡ ὀργή σου, καὶ ὁ καιρὸς τῶν νεκρῶν κριθῆναι, καὶ δοῦναι τὸν μισθὸν τοῖς δούλοις σου τοῖς προφήταις καὶ τοῖς ἁγίοις καὶ τοῖς φοβουμένοις τὸ ὄνομά σου, τοῖς μικροῖς καὶ τοῖς μεγάλοις, καὶ διαφθεῖραι τοὺς διαφθείροντας τὴν γῆν.

κριθῆναι, δοῦναι, διαφθεῖραι  = infinitive epexegetical (karena ia menjelaskan kata benda) dari kata ὁ καιρὸς

4. Kisah para Rasul 25:11

Εἰ μὲν γὰρ ἀδικῶ καὶ ἄξιον θανάτου πέπραχά τι, οὐ παραιτοῦμαι τὸ ἀποθανεῖν· εἰ δὲ οὐδέν ἐστιν ὧν οὗτοι κατηγοροῦσίν μου, οὐδείς με δύναται αὐτοῖς χαρίσασθαι. Καίσαρα ἐπικαλοῦμαι.

Aku tidak menolak mati

ἀποθανεῖν (mati) = infinitive direct object

ἀποθανεῖν (mati) menjelaskan kata παραιτοῦμαι (menolak)

5. Roma 1: 28

Καὶ καθὼς οὐκ ἐδοκίμασαν τὸν θεὸν ἔχειν ἐν ἐπιγνώσει, παρέδωκεν αὐτοὺς ὁ θεὸς εἰς ἀδόκιμον νοῦν, ποιεῖν τὰ μὴ καθήκοντα

ποιεῖν (membuat) = infinitive epexegetical (menjelaskan kata sifat)

  1. Ibrani 7:25

Ὅθεν καὶ σῴζειν εἰς τὸ παντελὲς δύναται τοὺς προσερχομένους δι᾽ αὐτοῦ τῷ θεῷ, πάντοτε ζῶν εἰς τὸ ἐντυγχάνειν ὑπὲρ αὐτῶν.

σῴζειν (menyimpan) = infinitive direct objek dari δύναται (dapat)

ia dapat diselamatkan.

INTICULAR INFINITIVE

Latihan 2:

  1. Roma 6:12

Μὴ οὖν βασιλευέτω ἡ ἁμαρτία ἐν τῷ θνητῷ ὑμῶν σώματι, εἰς τὸ ὑπακούειν αὐτῇ ἐν ταῖς ἐπιθυμίαις αὐτοῦ· (Rom. 6:12 BYZ)

εἰς τὸ ὑπακούειν = infinitive purpose

ὑπακούειν (ketaatan) = menjelaskan kata βασιλευέτω (berkuasa)

Dengan dosa tidak bekuasa lagi maka tujuannya tidak lagi menaati keinginan daging

2. Matius 13:30

Ἄφετε συναυξάνεσθαι ἀμφότερα μέχρι τοῦ θερισμοῦ· καὶ ἐν καιρῷ τοῦ θερισμοῦ ἐρῶ τοῖς θερισταῖς, Συλλέξατε πρῶτον τὰ ζιζάνια, καὶ δήσατε αὐτὰ εἰς δέσμας πρὸς τὸ κατακαῦσαι αὐτά· τὸν δὲ σῖτον συναγάγετε εἰς τὴν ἀποθήκην μου. (Matt. 13:30 BYZ)

πρὸς τὸ κατακαῦσαι = infinitive of purpose

κατακαῦσαι (hangus/bakar) menjelaskan kata δήσατε (mengikat/ikat)

Tujuan dari mengikat adalah untuk menghanguskan/membakar

3. Matius 26:34

ἔφη αὐτῷ ὁ Ἰησοῦς· ἀμὴν λέγω σοι ὅτι ἐν ταύτῃ τῇ νυκτὶ πρὶν ἀλέκτορα φωνῆσαι τρὶς ἀπαρνήσῃ με.

φωνῆσαι (panggilan/teriak) = infinitive time subquent (sebelum)

φωνῆσαι merupakan waktu sebelum dari kata ἀπαρνήσῃ (menyangkal)

4. Yakobus 4:2 (kata meminta)

ἐπιθυμεῖτε καὶ οὐκ ἔχετε, φονεύετε καὶ ζηλοῦτε καὶ οὐ δύνασθε ἐπιτυχεῖν, μάχεσθε καὶ πολεμεῖτε, οὐκ ἔχετε διὰ τὸ μὴ αἰτεῖσθαι ὑμᾶς,

ἐπιτυχεῖν  = infinitive derect object

αἰτεῖσθαι (meminta) = infinitive of couse (sebab)

αἰτεῖσθαι (meminta) menjelaskan kata ἔχετε (mempunyai, memiliki, mengalami)

5. Roma 7:18

Οἶδα γὰρ ὅτι οὐκ οἰκεῖ ἐν ἐμοί, τοῦτ᾽ ἔστιν ἐν τῇ σαρκί μου, ἀγαθόν· τὸ γὰρ θέλειν παράκειταί μοι, τὸ δὲ κατεργάζεσθαι τὸ καλὸν οὔ· (Rom. 7:18 GNT)

τὸ γὰρ θέλειν  (kemauan, kehendak), κατεργάζεσθαι (mengerjakan, berbuat) = subject (nominative) dari kata

Menjelaskan kata Οἶδα

6. Roma 14:13 (kata to me titenai) membuat saudaramu jatuh tersandung.

Μηκέτι οὖν ἀλλήλους κρίνωμεν· ἀλλὰ τοῦτο κρίνατε μᾶλλον, τὸ μὴ τιθέναι πρόσκομμα τῷ ἀδελφῷ ἢ σκάνδαλον. (Rom. 14:13 GNT)

τὸ μὴ τιθέναι (tempat) = infinitive of Aposition (menerangkan keterangan tambahan)

Refleksi:

Dalam berbagai catatan atau tulisan dalam kitab suci, ada banyak kata yang saya tidak mengerti jelas, tetapi melalui pembelajaran kami di kelas aku sangat bersyukur sehingga banyak hal yang saya tau tentang Alkitab sehingga saya berpikir itu modal saya untuk terus dan terus belajar bahasa Asli yaitu bahasa Yunani. Mulai dengan cara membaca, menulis, dan memahami kalimat perkalimat.

Marniwati Gulo

Yunani II

Dosen: Dr. Hendi wijaya, SS

EFESUS 1:18


Terjemahan Literal

Mata mata dari hatimu diterangi, supaya kamu boleh mengetahui apa pengharapan dari panggilan-Nya, yang adalah kekayaan dari kemuliaan dengan warisan-Nya di dalam orang-orang Kudus.

Historia:

  1. The eyes of your heast being enlightened (mata mata dari hatimu diterangi)

Spiritual sense/theoria

Pertama, hati memiliki mata dan hati merupakan wadah dari roh dan jiwa. Ternyata manusia memiliki mata yang jumlahnya bukan hanya satu. Mata hati yang dimaksud adalah bukan mata jasmani yang dapat kita lihat melainkan mata rohani atau mata batin yang dimiliki oleh setiap manusia. Mata berfungsi untuk melihat, mengamati, manyaksikan, dan lain sebagainya.

Kedua, mata yang akan diterangi bukan hati. Dalam hal ini kita mengerti bahwa mata mata dari hati ini gelap sehingga ia harus diterangi. Yang dimaksud dari mata mata rohani kita adalah Nous inilah yang harus dan perlu diterangi, seperti yang tertulis dalam Roma 12:2 berubahlah dengan Nousmu. Bagaimana kita dapat mengalami pembaharuan Nous, yaitu dengan terangnya Nous otomatis hati kita akan terang dan bisa membedakan manakah yang baik dan yang jahat. Mengapa? Sebab Nous merupakan salah satu mata rohani atau bagian dari mata rohani kita. Mata hati yang kedua adalah Logos (pikiran) Markus 7:21 segala pikiran yang ada itu timbul dari dalam yaitu dari hati sehingga hati yang isinya baik atau buruk diolah oleh pikiran untuk memberitakan tubuh melakukannya. Mata hati yang ketiga adalah pneuma (roh) Efesus 4:23 inilah yang perlu kita kerjakan didalam hati kita dengan kita membuat mata hati ini menjadi terang melalui pembaharuan di dalam roh dan pikiran.

Ketiga, diterangi oleh enrgy Ilahi/kemuliaan Allah 2 Kor 4:6 Terang yang dimaksud adalah terang pengetahuan dari kemuliaan Allah yang ada di dalam wajah Yesus Kristus. Apa maksudnya? Matius 17:2 kita mengerti benar bahwa terang kemuliaan Allah itu diturunkan kepada Yesus Kristus. Kalau kita mau diterangi, maka disini kita harus memandang wajah Kristus. Inilah yang dilihat oleh Rasul Paulus makanya ia dapat menuliskan dan kita dapat membacanya. Yoh 8:12, Yesus adalah terang dunia. Mengapa? Sebab wajah-Nya bercahaya dan penuh dengan kemuliaan Allah. Kalau kita menjadi tahu, punya pengetahuan tentang terang kemuliaan Yesus dan pengenalan tentang Yesus, kita memperoleh terang kemuliaan itu. Dalam 2 Kor 4:4, orang yang pikirannya sudah dibutakan oleh ilah zaman ini maka ia tidak mendapatkan terang dan tidak melihat cahaya dari kemuliaan Yesus Kristus. Orang yang sudah dibutakan oleh ilah zaman ini maksudnya orang yang telah hidup di dalam keduniawi dan mata mata hati mereka selalu gelap.

Terang itu identic dengan kemuliaan Allah/Kristus, berarti kalau orang tidak mengenal injil mereka tidak memiliki terang kemuliaan itu. Mengenal Dia artinya mengenal injil itu sebab di dalam injil ada terang kemuliaan Kristus. Injil itu bukan buku tapi pribadi yang punya cahaya. Pribadi itu adalah Kristus, Kristus mempunyai terang maka injil juga punya terang, sebab injil itu adalah Kristus. 2 Petrus 1:19, terang itu menyinari tubuh dan hatimu (mata mata hatimu). Terang Kristus itu ibarat seperti matahari yang terbit dan fajar yang menyingsing yang mau menyinari hatimu. Terang/injil itu bekerja di dalam hati manusia. Berarti ini adalah energy spiritual/terang Ilahi. Roma 1:16-17, karena injil adalah kekuatan dari Allah, orang yang beriman di dalam injil ada terang kemuliaan Allah. Menyelamatkan artinya membawa kamu keluar dari gelap menuju terang.

  1. Thet you may know what are the hope of His calling, what are the riches of the glory His inheritance in the saints (supaya kamu boleh mengetahui apa pengharapan dari panggilan-Nya yang adalah kekayaan dari kemuliaan dengan warisan-Nya di dalam orang-orang Kudus

Spiritual sense

Apa yang terkandung dalam panggilan-Nya? Yaitu segala kekayaan yang sudah ditetapkan di dalam orang-orang Kudus. Pengharapan ini sudah disediakan kepada kita, apa itu? Panggilan-Nya yaitu kekayaan, warisan Kemuliaan yang kaya di dalam orang-orang Kudus. Berarti ketika kita sudah menerima terang ini maka kita kedepannya menerima kemuliaan atau mewarisi terang itu. Maksudnya menjadi manusia terang selamanya. Mansuia terang maksudnya adalah orang Kudus. Sebab hanya orang-orang Kudus yang bisa menerima terang kemuliaan itu. Orang kudus itu seperti apa? Allah itu melihat hatimu terang dan wajahmu bersinar. Matius 13:43, pada waktu manusia itu datang orang-orang benar akan bercahaya. Pada waktu itulah kita menjadi makhluk yang bercahaya. Pengharapan itu satu yang ada di dalam panggilanmu Efesus 4:4. 1 Kor 1:2 dipanggil menjadi orang-orang Kudus. Rom 1:7 dipanggil dan dijadikan orang-orang Kudus. Panggilan itu satu berarti satu pengharapan yaitu menjadi orang-orang Kudus. Kol 1:12 orang Kudus sudah pasti memiliki terang dan kamu mendapat bagian di dalam warisan bersama-sama orang Kudus di dalam terang. Itulah sebabnya kamu harus tahu pengharapan itu dan ada nanti warisan kemuliaan

Itulah perlunya bagi kita untuk mengetahui dan mengenal orang-orang Kudus. Apa yang perlu diwariskan ketika kita tidak mengerti dan mengenal tentang iman dan teladan yang mereka berikan kepada kita. Pengharapan ada dan hanya satu yang dipanggil di dalam orang-orang Kudus. Harapan ini merupakan suatu panggilan kepada kita untuk menjadi orang-orang Kudus. Dalam menjadi orang Kudus maka perlunya mata mata hati kita terang dan memancarkan cahaya kemuliaan yang berasal dari wajah Kristus sendiri. Bagi orang yang sudah ternag mata-mata hatinya maka pengharapan itu ada menerima bagian dari warisan kemuliaan.

Outline Konsep

Ide utama: mata mata hati yang diterangi

Ide pendukung:

  1. Nous, Logos, pneuma harus diterangi (apa)
  2. Terang kemuliaan/terang Kristus yang menyinari hati (bagaimana)
  3. Kita punya pengharapan mengambil bagian warisan kemuliaan orang-orang Kudus (dampaknya)

Obedience/Aplikasi

Hati harus diterngi oleh kemuliaa Kristus. caranya adalah tetap memandang wajah-Nya Yesus dalam doa, pembacaan Firman dan dituntun oleh Roh Kudus untuk belajar Firman/injil. Mulailah dengan tindakan dan wujudnyatakanlah dia, Amin.

Marniwati Gulo

Sinoptik PB

Dosen: Dr. Hendi Wijaya, Ss

Doa yang benar

1 Korintus 14:15

τί οὖν ἐστιν; προσεύξομαι τῷ πνεύματι, προσεύξομαι δὲ καὶ τῷ νοΐ· ψαλῶ τῷ πνεύματι, ψαλῶ δὲ καὶ τῷ νοΐ. (1 Cor. 14:15 BGT)

What is the outcome then? I shall pray with the spirit and I shall pray with the mind also; I shall sing with the spirit and I shall sing with the mind also. (1 Cor. 14:15 NAS)

Terjemahan Literal

Jadi, apa yang aku perbuat? aku akan berdoa dengan roh dan aku akan berdoa dengan Nous juga. Aku akan bernyanyi dengan roh dan aku akan bernyanyi dengan Nous juga.

Parshing

  1. ἐστιν (Aku) = present Historical (tindakan yang sebetulnya sudah terjadi pada waktu lampau tapi di baca seolah-olah sekarang)
  1. προσεύξομαι (berdoa) = Predictive future (bentuk prediksi, akan datang)
  2. πνεύματι = dative of Agency (dengan roh)
  3. ψαλῶ (menyanyi) = Predictive future (bentuk prediksi, akan datang)

Poin-poin sintaksis/historia

  1. jadi, Apa yang aku perbuat?
  2. Rasul Paulus akan berdoa dengan roh
  3. Rasul Paulus akan berdoa dengan Nous juga
  4. Rasul Paulus akan bernyanyi dengan roh
  5. Aku bernyanyi dengan Nous juga

Theoria

Jadi, apa kesimpulannya? menjelaskan bahwa di bagian sebelumnya Rasul Paulus hendak menyatakan bahwa berbahasa lidah berbeda dengan berdoa. Berbahasa lidah adalah karunia Roh Kudus di mana bahasa itu adalah kata-kata doa yang hasilkan oleh roh tetapi bukan oleh Nous (1 Kor 14:13-14) yang ditujukkan kepada Allah bukan kepada manusia (ayat 2). Sehingga bahasa atau kata-kata doanya tidak dapat dimengerti oleh orang lain melainkan rohnya sendiri karena roh itu yang mengucapkan kata-kata tersebut (ayat 2) dan hanya karunia ini sifatnya personal/pribadi untuk membangun pribadi orang tersebut (ayat 4). Karunia ini akan mebangun orang lain/jemaat jika bahasa itu dapat dimengerti oleh orang lain seperti yang terjadi dalam Kisah Para Rasul (Kis 2:1-13). Bahsa atau bahasa lidah itu adalah berisi bahasa yang bisa di mengerti atau jelas, bukan suatu jenis bahasa baru seperti terjemahan LAI “bahasa roh” (ayat 9-10). Bahasa lidah atau kata-kata doa ini berisi penyataan Allah, pengetahuan, nubuat, dan pengajaran untuk jemaat sehingga membangun jemaat (ayat 6)

Dan itulah sebabnya karunia bernubuat lebih berharga daripada berbahasa lidah (ayat 5) sebab tidak ada orang yang mengerti apa yang dikatakan di dalam bahas lidah itu.

Sebab itu, kata rasul Paulus ketika seseoorang berbahasa lidah maka hanya rohnya yang bekerja dan Nous-nya tidak menghasilkan apa-apa (ayat 14). Ini artinya dia tidak mengerti apa yang diucapkan kecuali kalau ada orang lain yang bisa menafsirkan atau menerjemahkannya (ayat 5). Sedangkan jika orang itu berdoa maka baik roh atau Nous-nya turut bekerja sehingga orang itu mengerti apa yang didoakan atau diucapkan (ayat 15). Sama seperti orang itu bernyanyi memuji Allah baik roh atau Nous juga turut bekerja (ayat 15). Sebab itu, siapa yang berkata-kata dengan bahasa lidah, ia harus berdoa, supaya ia dapat menafsirkan atau mengerti apa yang dikatakan dalam bahasa lidah itu (ayat 13). Sehingga berdoa itu menghasilkan pengertian rohani yang membangun dirinya dan orang lain sedangkan bahasa lidah hanya membangun dirinya sendiri jika tidak disertai doa atau pengertian bagi orang lain (lihat ayat 16-19). Di dalam doa, Nous dan roh turut bekerja sehingga logosnya menghasilkan pengertian. Di dalam bahasa lidah, hanya roh yang bekerja sehingga perlu bantuan doa supaya Nous juga turut bekerja dan menghasilkan logos logos yang memgerti seperti yang dituliskan oleh rasul Paulus, “karena itu, siapa yang berkata-kata dengan bahasa lidah, ia harus berdoa, supaya ia dapat menafsirkan” (ayat 13).

Poin-poin semantic conten

  1. Apa yang perlu dilakukan atau dikerjakan Rasul Paulus?
  2. Paulus bersinergy kepada Tuhan dengan doa batin/roh dan Nous nya juga
  3. Berdoa dalam roh harus diikuti dengan nous kita ikut berdoa
  4. Roh dan Nous merupakan sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan
  5. Memuji/menyembah dengan roh yang diikuti dengan nous kita ikut menyembah

Efesus 1:18

πεφωτισμένους τοὺς ὀφθαλμοὺς τῆς καρδίας [ὑμῶν] εἰς τὸ εἰδέναι ὑμᾶς τίς ἐστιν ἡ ἐλπὶς τῆς κλήσεως αὐτοῦ, τίς ὁ πλοῦτος τῆς δόξης τῆς κληρονομίας αὐτοῦ ἐν τοῖς ἁγίοις, (Eph. 1:18 BGT)

I pray that the eyes of your heart may be enlightened, so that you may know what is the hope of His calling, what are the riches of the glory of His inheritance in the saints, (Eph. 1:18 NAS)

Terjemahan Literal

Mata, mata dari hatimu diterangi sehingga kamu bisa mengetahui apa harapan dari panggilan-Nya yang adalah kaya dari kemuliaan dengan warisannya di dalam orang-orang Kudus.

Parshing

  1. πεφωτισμένους (terang) = Aoristic perfect = tindakan pada masa lampau
  2. εἰδέναι (sekarang) = Aoristic perfect = tindakan pada masa lampau

Literal sense

Poin sintaksis/Histori

  1. Mata, mata dari hatimu diterangi,
  2. sehingga kamu bisa mengetahui apa harapan dari panggilan-Nya yang adalah kaya dari kemuliaan dengan warisannya di dalam orang-orang Kudus

Spiritual Sense

Poin semantic

  1. Hati merupakan wadah dari roh dan jiwa manusia
  2. Mata yang harus diterangi bukan hati
  3. Sebab hati yang terang bersumber dari mata yang terang
  4. Yang menerangi adalah kristus (ayat 17)

Theoria

Hati memiliki mata, mata yang harus diterangi. Yang terdahulu untuk diterangi adalah mata sebab hati yang terang bersumber dari mata yang terang. Mata yang dimaksud adalah mata rohani/batiniah kita. mata secara rohani itu apa? Di dalam hati kita terdapat pikiran-pikiran (logismoi) itulah yang peru diterangi. Mata secara rohani? Pertama, Efesus 4: 23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, Nousnya yang mempunyai roh (pneuma), artinya roh inilah yang harus diterangi. Berarti yang menjadi mata mata rohani adalah roh. Kedua, Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Nousnya inilah yang perlu dierbarui dan diterangi. Nous merupakan mata batin atau mata rohani kita. Ketiga, pikiran (logos) merupakan salah satu bagian yang terdapat di dalam jiwa setiap manusia. Sehingga yang harus diterangi dalam mata mata batin/rohani adalah pikiran (logos), Nous (mata batin), dan roh (pneuma).