Bangunan Gedung Gereja
Tata atur bagian luar gedung gereja yang paling umum adalah bentuk bulat melingkar atau bentuk lonjong memanjang meniru bentuk suatu Bahtera, berada di bawah pengawasan seorang pengemudi yang cakap untuk membawa penumpang sampai kepada Bandar Labuh yang tenang, setelah melewati ombak dan badai lautan. Bagian utama gereja itu adalah ruang bahtera (Navis), terpisah dari ruang mezbah (Altar) oleh suatu sekat ikon yang memiliki 3 pintu (tengah, utara, dan selatan), yang disebut Iconostasis (penyangga ikon, sekat ikon). Umat Orthodox melihat para orang Kudus yang digambar disitu adalah teladan yang harus dihormati, dan menurut Alkitab sujud jenis ketiga itu adalah bentuk penghormatan mendalam itu. Mengikuti pengajaran dari konsili Ekumenis ke 7, ikon-ikon bukan dilihat hanya sekedar seni saja, namun ada kesatuan yang sempurna antara ikon-ikon dan kitab suci, karena jika ikon-ikon ditunjukkan oleh kitab Suci, kitab suci dibuat secara tak terbantah lagi menjadi jelas oleh ikon. Sebagaimana kata-kata kitab suci adalah suatu gambaran, demikianlah gambaran itu juga adalah suatu perkataan menurut Aghios Basilos Agung (379 Masehi).
Ciri khas yang paling menonjol dari suatu bangunan
Gedung Gereja Orthodox adalah ikonostasis, yang terdiri atas satu atau lebih
deretan ikon dan terputus oleh sejumlah pintu ditengahnya (pintu Gerbang Indah
atau pintu Gerbang Kudus atau Pintu Gerbang Raja) dan pintu di masing-masing
sisinya utara dan selatan (pintu Diakon). Deretan yang paling atas ditempati
oleh ikon-ikon dari nabi-nabi Perjanjian Lama, yang ditengah-tengah mereka
adalah sang Theotokos dengan Bayi Kristus yang ada sejak kekal. Yang menempati
tempat utama dari Ruang Mezbah (Altar) adalah meja Kudus (Meja Perjamuan), yang
menggambarkan takhtah Allah, yang Tuhan sendiri secara tampak mata hadir
disitu.
APA YANG DIPERCAYAI ORANG-ORANG KRISTEN ORTHODOX
Para Rasul menyebarkan begitu jauh gereja dan
pengajran-pengajarannya. Mereka mendirikian banyak gereja, semua bersatu dalam
iman, ibadah, dan ambil bagian dalam Misteri-misteri (atau sebagai mana itu
disebut di dunia Barat: sakramen-sakramen) dari gereja Kudus. Gereja-gereja
yang didirikan Para Rasul itu sendiri termasuk di dalamnya adalah
Ke-Patriakh-an Konstatinopel (Istambul, Turki), Alexandria (Mesir), Antiokhia
(Syria), Yerusalem (Palestina, Israel) dan Roma (Italia). Semuanya bersatu
dalam iman, doktrin, tradisi Rasuliah, saktramen-sakramen, liturgy-liturgi dan
ibadah-ibadah. Bersama-sama mereka membentuk dan menyebut diri mereka gereja
Orthodox. Pengajaran-pengajaran gereja itu diambil dari pengajaran para Rasul
yang dilanjutkan dalam bentuk tradisi Rasulliah, yang mempunyai dua bentuk
“tulisan” dan “lisan” (2 Tes. 2:15). Dari tradisi Rasuliah itulah terbentuknya
kitab Suci, dan dalam tradisi Rasulliah (Paradosis Kudus) itulah kitab suci
ditafsirkan. Banyak pengjaran yang disampaikan secara lisan oleh Para Rasul
yang sampai kepada kita dalam Tradisi (Paradosis) Kudus.
Kata orthodox secara literal berarti pengajaran yang
benar atau penyembahan yang benar, karena diambil dari dua kata Yunani, yaitu
orthos = lurus, dan doxa = pengajaran, penyembahan. Jadi, kata orthodox
maknanya tidak ada sangkut-pautnya dengan: kolot, kuno, kaku, atau ketinggalan
zaman, seperti sering disalah mengerti oleh orang. Allah yang Esa, bersifat
Tritunggal dan Karya-Nya. IMAN Kristen
Orthodox memang hanya mempercayai Allah yang Esa. Tritunggal Mahakudus itu
tidak berbicara mengenai jumlah Allah, sebab Allah tak berjumlah. Tritunggal
Mahakudus adalah menerangkan keberadaan yang ada di dalam diri Allah yang Esa
itu. Jadi, sang Bapa adalah sumber ke-Esa-an dari Tritunggal Mahakudus itu.
Menurut Alkitab Allah yang Esa itu memiliki 3 Hipostasis – Bapa, Putera, dan Ro
Kudus – secara kekal berada satu dan memiliki bersama satu kodrat Ilahi.
Meskipun sumber dan asal kekal-Nya itu dari sang Bapa,
tetapi ketika dicurahkan kepada manusia itu terjadi-Nya melalui Yesus Kristus,
Firman Allah yang menjadi manusia (Yohanes 15:26-27). Umat Kristen Orthodox
mengakui Allah sebagi pencipta langit dan bumi (kej 1:1). Ciptaan tidak muncul
da nada dari diri-Nya sendiri. Allah menjadikan semuanya itu melalui Fiman-Nya
yang disebut Anak-Nya (Kej. 1, Ibr. 1:2, Yoh. 1:1-3), serta memberi hidup pada
ciptaan-Nya itu melalui Roh-Nya (Kej 1:2, Ayb. 33:4). Karena iman kita mengerti
bahwa alam semesta telah dijadikan oleh Firman Allah (Ibr 11:3). Para Malaikat
adalah ciptaan Allah “yang tidak kelihatan” (Kol. 1:16), sebagaimana yang juga
dikatakan dalam pengakuan iman Nikea, bahwa Allah adalah pencipta segala
sesuatu, baik yang kelihatan maupun “yang tidak kelihatan”. Mereka adalah
makhluk roh, yaitu tak berbadan jasmani (Ibr. 1:13-14) diciptakan sebelum
adanya alam semesta, dan bahkan Allah menjadikan alam semesta, mereka ini ikut
bersorak-sorak sukacita (Ayub 38:7). Tugas mereka adalah melayani Allah, mereka
terutama sekali adalah memberikan pertolongan kepada orang-orang yang akan
diselamatkan (Ibr 1:14) melalui doa yang terus menerus dihadirat Allah (Mat
18:10) dan melalui penjagaan mereka. Iblis
dan roh-roh jahat: diantara para penghulu Malikat (Yud 1:9, 1 Tes 4:16)
atau para “pemimpin terkemuka” (Dan. 10-13) ada satu yang tempatnya di surga
secara khusus di dekat “kerub yang berjaga” di gunung Kudus Allah (Yeh 28:11).
Makhluk yang sama disebut dalam bahasa Latin disebut “Lusifer” (pengemban
terang). Ia diciptakan hampir mendekati sempurna, dan disebut sebagai gambar
dari kesempurnaan penuh dan maha indah (Yeh 28:12). Ia memiliki hati gadangnya
yaitu spekulasi yang amat jahat. Ini adalah pemberontakan yang luar biasa yang
dilakukan oleh Malaikat yang tidak taat pada batas kekuasaannya itu.jumlah
Malikat yang ikut memberontak bersama luchifer ini adlaah sepertiga dari
seluruh jumlah Malaikat yang aslinya diciptakan oleh Allah (Why 12:4).
Pekerjaan utamanya adalah “pembunuh manusia” serta bapa segala dusta (Yoh 8:44)
sehingga menimbulkan kematian rohani.
Pemeliharaan
dan penyelenggaraan Ilahi
adalah cara Allah terus bekerja untuk menyelenggarakan proses jalannya alam
semesta ini setelah diciptakan selama 7 hari (Yoh 5:17). Hidup itu tidak tunduk
kepada nasib, tetapi kepada kehendak Allah yang mengatur segala sesuatu yang
ada di dunia ini. Iman Kristen Orthodox mengajarkan bahwa dunia ini bukan
system yang tertutup, melainkan system yang terbuka, diman Allah secara
langsung ikut bekerja penyelenggaraan dan pemeliharaan atas alam ini, sehingga
“seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya (Yes 6:3). Predestinasi/penentuan dari semula adalah realitas dari ketetapan Allah
sejak sebelum adanya dunia dalam menetapkan tujuan diciptakan manusia. Maka
jika dari semula manusia dipilih dan ditentukan oleh Allah untuk menjadi “kudus
dan tanpa cacat”, ini berarti manusia diciptakan dengan takdir kodratnya untuk
ambil bagian dalam kodrat Allah sendiri. Predestinasi (penentuan dari semula)
bukan berarti Allah secara sewenang-wenang menentukan ada orang yang masuk
surga, serta menentukan ada orang yang masuk neraka, tanpa ada kaitannya dengan
iman dan kehendak bebas untuk memilih dari orang yang bersangkutan.
Yesus
Kristus/Isa Almasih
adalah penjelmaan sebagai manusia dan Firman Allah sendiri, yaitu Hipostasi
kedua di dalam diri Allah yang Esa bersifat Tritunggal itu, secara kekal
diperanakkan dari sang Bapa. Karena Yesus Kristus/Isa Almasih adalah jantung
dan pusat kekristenan, gereja Orthodox telah memberikan perhatiannya lebih
untuk mengenal Dia dari segala apa pun yang lain. Inkarnasi/penjelmaan merujuk kepada peristiwa dimana “Firman Allah
telah menjadi manusia” dan nama manusia-Nya adalah Yesus yang bergelar Kristus.
Oleh penjelmaan/inkarnasi-Nya sang Putera/Firman Allah memiliki untuk selamanya
dua kodrat dalam pribadi-Nya yang hanya satu itu. Inkarnasi itu tidak dapat
digantikan oleh apa pun dalam kekristenan – tidak ada kekristenan yang benar
tanpa Inkarnasi Firman Allah ini (Yooh 1:14).
Mariam/Maria disebut Theotokos artinya “pengandung Allah” atau
“bunda Allah”. Ini berarti bahwa Allah sang Bapa itu dilahirkan oleh Maryam,
sebab Allah itu tidak beranak dan tak diperanakkan dari seorang ibu, seperti
layaknya manusia. Namun, ini berarti bahwa Dia mengandung Firman Allah/Anak
Allah yang menjelma sebagai manusia itu dalam kandungannya serta darinya Ia
mengambil kemanusiaan-Nya. Mariyam telah hidup dalam kehidupan yang murni dan
Kudus, dan kita menghormati Dia dengan tingginya sebagai teladan kesucian,
orang tebusan yang pertama.
Penyaliban,
penguburan, dan kebangkitan Kristus, adalah bagaimana cara penebusan itu dilakukan.
Penebusan artinya manusia dilepaskan dari suatu bayaran dari kekuatan gelap dan
yang mengungkungnya. Iblis, dosa, dan maut (kekuatan gelap) itu dibayar dengan
penderitaan, penyaliban, kematian, dan penguburan Kristus. Sebab manusia tidak
diciptakan untuk mati. Ternyata manusia melanggar perintah Allah maka maut pun
menjadi hukumannya karena memang upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Penebusan
sebagai pemulihan kodrat manusia, Kritus masuk dalam derita, naik ke atas
salib, mati dan dikuburkan. Kematian Kristus adalah wujud ketaatan-Nya secara
mutlak kepada Allah, Kristus Yesus dalam rupa Allah (karena Ia adalah Firman
Allah yag adalah “Allah” Yoh 1:1). Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah
merendahkan diri-Nya dan TAAT sampai mati, BAHKAN
SAMPAI MATI DI KAYU SALIB Filipi 2:5-8. Kemanusiaan baru adalah Firman
Allah yang menjelma: Yesus Kristus ini adalah “Adam yangb baru” atau lebih
tepatnya “Adam yang akhir” 1 Kor 15:45. Sebagai Adam yang akhir memulihkan apa
yang telah dihilangkan oleh Adam pertama.
Penebusan sebagai pembenaran dari tuntutan Hukum
Allah, tuntutan hokum Allah adalah manusia supaya taat secara mutlak terhadap
perintah-perintah-Nya. Dengan demikian, kemanusiaan dari Firman Allah yang
menjelma itu tak berada dalam keadaan berseteru dengan Allah dan tidak takluk
pada hokum Allah lagi. Dengan demikian, kemanusiaan dari Firman Allah yang
menjelma itu telah “damai” dengan Allah. Sehingga barang siapa sekarang yang
manunggal dengan kemanusiaan Firman Allah yang menjelma itu oleh iman melalui
baptisan (Gal 3:26-27) juga akan “didamaikan” dengan Allah dan “dibenarkan”
oleh iman. Penebusan sebagai penggenapan penghapusan dosa oleh korban-korban
dalam taurat, secara aturan hokum, manusia yang berdosa itu harus dihukum mati.
Namun, Allah sebagai sang pengasih tidak menghendaki kematian manusia (Yeh
18:32). Ia menghendaki manusia itu hidup. Pada hal sebagai yang Mahaadil, semua
dosa harus dihukum. Maka suatu jalan tengah dilakukan. Agar dosa tetap dihukum
dan manusia akibat dosa itu tetap ada, namun si manusia yang berdosa itu tetap
hidup, dengan korban yang dilakukan. Dengan tercurahnya darah korban itu
berarti dosanya telah dihukum, sehingga ia tak menanggung dosa itu lagi; ia
sekarang dibebaskan dari dosa, ia telah diampuni. Sang Kristus sebagai Firman
Allah yang menjelma telah “menyandang” daging yang serupa dengan daging yang
dikuasai dosa (Rom 8:3). Dalam daging yang serupa dengan daging ini disebut
dengan “Anak Domba Allah” yang menyangkut dosa-dosa dunia (Yoh 1:29). Padahal,
Anak Domba Korban itu mangangkut kesalahan dan dosa melalui tercurahnya darah
dalam kematian, dan Kritsus mengalami mati melalui salib, maka salib Kristus
dan darah-Nya yang tercurah itu adalah penggenapan dari korban Anak Domba itu.
Sehingga barang siapa yang manunggal dalam kematian,
penyaliban, dan penguburan Kristus di dalam baptisan (Rom 6:3-8), Ia pun telah
mati bagi dosa (Rom 6:6), Artinya ia “dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk PENGAMPUNAN DOSA” Kis 2:38. Biasanya
korban dalam Perjanjian Lama itu hangus setelah dibakar, tetapi daging korban
tubuh jasmani Kristus itu tetap kekal selamanya dan korban-Nya juga menjadi
kekal disurga sana. Artinya: Ia telah masuk satu kali dan untuk selama-lamanya
ke dalam tempat yang Kudus (surga) bukan dengan membawa darah domba jantan dan
darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya (yaitu tubuh jasmani yang
telah dibangkitkan dan dimuliakan sebagai hasil korban-Nya di atas salib.
Penebusan sebagai pelepasan dari kutuk, dasar hukum taurat adalah setia melakukan segala
sesuatu yang tertulis atau menepati perkataan hukum taurat dengan perbuatan
dengan kata lain, dasar hokum taura adalah “siapa yang melakukan akan hidup karenanya”
Gal 3:12. Sebagaimana yang tertulis juga bahwa tidak ada orang yang dibenarkan
dihadapan Allah karena melakukan hokum taurat/syarat adalah jelas karena orang
yang benar akan hidup oleh iman Gal 3:11. Ini bukti bahwa kutuk awal itu telah
begitu merembes kepada seluruh keberadaan manusia. Yesus Kristus “tak mengenal
dosa” 2 Kor 5:21 sebagai Firman Allah yang Nuzul ke Bumi, berarti tak memiliki
kutuk dan tidak juga dibawah kutuk. Seorang yang digantung terkutuk oleh Allah,
itulah ketetapan hukum taurat. Jadi, secara hukum seolah-olah Yesus itu
terkutuk, namun secara fakta dan realitas Ia tak memiliki kutuk sedikit pun dan
tidak berada dibawah kutuk itu. Itulah sebabnya, di atas salib itu Kristus
telah membatalkan kutuk yang ditetapkan taurat dengan demikian membatalkan
semua kutuk yang pernah dikenakan kepada manusia. Akibatnya, pada saat kita
menjalankan perintah Allah bukan lagi takut kutuk itu yang menyebabkan kita
taat, namun karena cinta kasih dan bakti serta takut yang dilandasi oleh hormat
kepada-Nya sebagai ucapan syukur atas penebusan-Nya di dalam Kristus itu yang
memotivasi.
Penebusan
sebagai kelepasan dari Iblis. Dosa, dan kematian, Perjanjian Baru mengajarkan: sebab Anak Domba Paskah
kita juga telah disembelih, yaitu Kristus (1 Kor. 5:7). Kristus disembelih
yaitu dibunuh di atas kayu salib. Jika pembunuhan Kristus itu dinyatakan sebagai
penyembelihan-Nya dan tubuh Yesus Kristus yang terbunuh ini sendiri dinyatakan
sebagai “Anak Domba Paskah” itu berarti bahwa ada parallel antara peristiwa
Paskah di zaman nabi Musa dengan penyaliban Kristus Yesus itu. Dan demikian
Kristus adalah penggenapan Paskah Nabi Musa dan Paskah Nabi Musa adalah
Prabayangan dari karya Kristus sendiri. Orang yang berada di luar Kristus
adalah manusia yang berada dalam kuasa Iblis. Mesir bukanlah bangsa Israel dan
di Mesir tidak ada Kristus, terbukti bahwa dunia itu adalah dunia yang
memberontak kepada Tuhan dan tanpa Kristus.
Dalam Roma 7:19-21, demikianlah manusia menjadi
tawanan dan diperbudak oleh dosa dan hukum dosa yang ada di dalam diri-Nya. Upah
dosa adalah maut (Roma 6:23). Sebagaimana Israel di Mesir dikuasai oleh Firaun,
perbudakan dan bahaya Maut, demikianlah manusia di luar Kristus itu berada
dalam kekuasaan Iblis, tawanan dosa, dan kuasa maut atau kematian. Ini semua
terjadi akibat kejatuhan Adam, karena tidak taat kepada Allah. Demikianlah
iblis, Dosa dan Maut itu telah menjadi kekuatan negative yang berada dalam
kodrat manusia setelah jatuh. Melalui korban-Nya di atas kayu salib Yesus
Kristus telah melepaskan manusia dari iblis, dosa, dan maut. Jadi Ia menang
betul-betul Anak Domba Paskah yang kekal dan sejati. Sehingga kelepasan-Nya itu
bersifat kekal (Ibr 9:11) dan dengan penuh kuasa Ilahi. Karya kelepasan total
akibat penyaliban, kematian, dan kebangkitan Kristus inilah yang disebut
“penebusan” dan ini akan menjadi “keselamatan” bagi mereka yang mau menerimanya
dengan iman, dan menerapkan karya Kristus yang sudah sudah sempurna dan yang
sekali untuk selamanya itu dalam kehidupannya.
Tujuan berbuat baik itu bukan untuk mencari pahala,
namun untuk menanggapi karya Roh Kudus bagi suatu pengudusan yang sempurna,
sehingga kita memetik buah dan hasil dari kemanunggalan kita dengan Kristus
yaitu pemulihan kekal atau “Theosis”. Untuk dosa pribadi yang berwujud
pelanggaran tata-moral dan tata-hukum ilahi ini, kita sendiri yang harus
bertanggungjawab, tak seorangpun yang dapat menggantikan dan memikul dosa
pribadi orang lain (Yeh 18:20). Untuk menyelamatkan kita, Anak / Firman Allah
telah mengambil bagi diri-Nya kemanusiaan kita dank arena tanpa dosa di dalam
daging (Rom 8:3). Keselamatan adalah karunia Ilahi yang melaluinya manusia
dilepaskan dari dosa dan kematian, dimanunggalkan dengan Kristus dan dibawa ke
dalam kerajaan-Nya yang kekal, akibat dari karya inkarnasi, penderitaan,
penyaliban, penguburan, kematian, dan kebangkitan Kirstus, sebagaimana yang
dijelaskan diatas makna penebusan akibat karya salib Kristus itu. Bertobatlah
sebab keselamatan menuntut iman kepada Yesus Kristus. Manusia tak dapat
menyelamatkan diri mereka sendiri oleh amal perbuatan baik mereka. Keselamatan
artinya kita dilepaskan dari kuasa dosa, kematian, dan iblis, oleh kemenangan
Kristus atas maut yang dibuktikan oleh kebangkitan-Nya.
Roh
Kudus dan Karya-Nya, Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri yang keluar dari Bapa (Yoh 15:26) dan yang
bersemayam di dalam diri Bapa (1 Kor 2:10-11) seperti roh manusia juga berada
di dalam diri manusia. Ia disebut sebagai hipostasys ketiga di dalam diri Allah
yang Esa yangb bersifat Tritunggal itu. Karena Ia bersemayam di dalam Bapa,
berarti Ia juga berada serta dalam zat-hakikat ke Allah-an sang Bapa yang satu
itu bersama dengan Firman Allah yang juga berada di situ. Umat Kristen Orthodox
percaya janji Alkitabiah bahwa Roh Kudus dikaruniakan melalui penumpangan
tangan dan pengolesan minyak yang disebut pengurapan atau Krisma pada saat
sesudah penyelaman pada saat baptisan (Kis 2:38; 8:14-17). Kelahiran baru adalah penerimaan hidup baru, ini adalah cara
bagaimana kita mendapatkan jalan masuk ke dalam kerajaan Allah dan gereja-Nya.
Pembenaran adalah sebuah kata yang digunakan dalam Alkitab yang berarti bahwa
di dalam Kristus kita telah diampuni dan secara sebenarnya kita dibuat benar
dalam kehidupan kita. Ini bersifat bahwa pembenaran adalah suatu realitas
sehari-hari yang hidup dalam dinamis bagi seseorang yang mengikut Yesus
Kristus.
Pengudusan adalah keberadaan dipisahkan bagi Allah. Ini
melibatkan kita dalam proses sedang dibersihkan dan dijadikan Kudus oleh
Kristus di dalam Roh Kudus. Kita dipanggil menjadi orang-orang Kudus dan untuk
bertumbuh ke dalam keserupaan Allah, kita melakukan tugas kita untuk mengikuti
karya Allah di dalam diri kita itu denga perbuatan-perbuatan yang berkenan
kepada Allah, inilah yangb disebut synergy. Artinya, kita bekerja bersama-sama
dengan rahmat Allah. Agar kita dapat mengenal Dia, serta oleh rahmat / kasih
karunia-Nya kita menjadi apa adanya Dia itu menurut keberadaan kodrat-Nya. Alkitab adalah Firman Allah yang
diilhamkan oleh Allah (2 Tim 3:16), dan suatu bagian yang maat menentukan dari
pewahyuan diri Allah kepada manusia. Perjanjian Lama memberi tahu kita sejarah
dari wahyu itu dari pencipta melalui zaman para nabi. Perjanjian Baru mencatat
dan hidup Yesus sang Kristus maupun tulisan-tulisan para rasul-Nya. Alkitab itu
adalah jantung dari ibadah dan puja-bakti Iman Kristen Orthodox.
Sakramen-sakramen dan ibadah-ibadah gereja,
penyembahan / ibadah adalah mempersembahkan pujian, kemuliaan, dan ucapan
syukur kepada Allah: sang Bapa, sang Putra, serta sang Roh Kudus. Segenap
manusia dipanggil untuk menyembah Allah. Yang paling menonjol dalam ibadah
Orthodox adalah pujian, ucapan syukur, dan pemuliaan secara berjemaah kepada
Allah oleh gereja. Penyembahan ini mengalami puncaknya di dalam persekutuan
yang sangat akrab dengan Allah pada meja-Nya yang Kudus. Baptisan adalah cara seseorang sesungguhnya dimanunggalkan dengan
Kirstus, yaitu dalam penyaliban, kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya (Rom
6:1-11). Iman Orthodox menyatakan bahwa inovasi-inovasi zaman modern ini
merampok orang-orang yang tulus dan sungguh-sungguh dari jaminan-jaminan yang
paling penting yang disediakan oleh baptisan – yaitu bahwa mereka telah
dimanunggalkan dengan Kristus dan bagian dari gereja-Nya. Ekaristis itu berasal
dari kata Yunani “Eukharisto” yang artinya “terima kasih” atau ucapan syukur dan
amat awal ini telah menjadi kata yang sama untuk PERJAMUAN KUDUS. Ekaristi ini adalah pusat ibadah dalam
gereja Orthodox. Karena sang Kristus mengatakan mengenai Roti dan anggur pada
perjamuan terakhir “inilah tubuh-Ku” “inilah darah-Ku”, dan perbuatlah ini
untuk mengingat untuk Aku (Luk 22:19-20). Perayaan Ekaristi adalah suatu bagian
yang teratur dari kehidupan gereja sejak awalnya.
Liturgy
suci adalah suatu
istilah yang digunakan untuk menjelaskan bentuk atau wujud dari ibadah gereja
secara berjemaah dalam menyembah Allah. Kata liturgy itu sendiri dari kata
Yunani “leitos = umat, rakyat” dan “ergos/erga =pekerjaan-pekerjaan” yang
artinya “pekerjaan umat secara bersama”. Unsur-unsur utama di dalam Liturgi
termasuk di dalamnya kidung-kidung, pembacaan dan pemberitaan Injil, doa-doa
dan Ekaristi (Perjamuan Kudus) itu sendiri. Bagi umat Orthodox, ekspresi
“liturgy” atau “liturgy suci itu” menunjuk pada upacara ekaristi yang
ditetapkan oleh Kristus sendiri pada saat perjamuan terakhir (Perjamuan
Mustika). Pengakuan dosa adalah
suatu pengakuan terbuka akan dosa-dosa yang akan diketahui dihadapan Allah dan
manusia. Pengakuan dosa adalah salah satu dari sarana pertobatan yang paling
penting, serta sarana untuk menerima jaminan bahwa bahkan dosa-dosa yang paling
buruk pun sungguh-sungguh diampuni. Ini juga merupakan salah satu dari
bantuan-bantuan yang maat berkuasa bagi meninggalkan dan menguasai dosa-dosa
itu.
Imam/Prebister, gereja Orthodox melihat landasan Alkitabiah mengenai
Imamat itu sebagai berikut: setelah pengakuannya akan kemesias-an-Nya, Kristus
mengatakan kepada Petrus: “engkau adalah Petrus (Batu karang), dan diatas batu
karang ini (pengakuan Petrus dan diri Petrus sebagai wakil rasul-rasul) aku
akan mendirikan jemaat (gereja) ku (Mat 16:18). Sejak masa awal ini jabatan Rasul sudah
mengerti jabatan “Episkop” yang dalam
bahasa Arab menjadi “Al-Uskup”. Petrus menyebut dirinya sebagai teman penatua (Presbyterous = sesama prsebiter) yang
berarti para presbiter ini nanti akan menggantikan kedudukan Rasul-rasul
sebagai gembala jemaat (Kis 20:17-28). Presbiter dan Episkop pad asaat itu
masih merupakan jabatan yang sama, sebagaimana Presbiter (penatua) di Kis 20:17
itu disebut juga Episkop (penilik) yang menggembalakan gereja di Kisah para
Rasul 20”28. Dan Episkop (penilik Jemaat) inilah yang menjadi gembala gereja
didampingi oleh Diaken (Flp 1:1).
Jenjang hierarki episkop, presbiter, dan diaken ini
adalah jenjang hierarki keimanan, sebab mereka adalah penerus dan pengganti
lanjut para Rasul. Rasul Paulus menyejajarkan fungsi para pemberita injil yaitu
para rasul dan penerusnya itu dengan imam-imam Perjanjian Lama dari kata-kata
yang dicatat dalam 1 Kor 9:13-14. Gereja secara kolektif adalah tubuh Kristus
dan Kristus adalah imam besar (Ibrani 3:1), maka gereja sebagai “kepenuhan
Kristus” Ef 1:23. Para Episkop, Presbiter dan diaken adalah ikon-ikon yang
hidup dari kehadiran keimanan Kristus dalam gereja itu.kesejajaran keimanan
Perjanjian Lama dengan keimanan Perjajian Baru sebagai manifestasi keimanan
Kristus yang tunggal itu terlihat pada jenjang hierarkisnya. Para Episkop,
Presbiter, Diaken ini adlaah pengganti lanjut atau pewaris mata-rantai rasuliah
yang mereka semua adalah pria, meskipun antara para murid Yesus itu ada wanita
tetapi tak pernah satu pun diangkat jadi rasul. Secara kodrat kemanusiaan
perempuan dan lelaki adalah sama derajatnya (Gal 3:26-28). Namun, secara
pembagian tugas dan fungsinya berbeda. Keimanan adalah fungsi laki-laki,
sebagai ikon penganti pria: Kristus, dan pengantin rasul adalah bapa bangsa
bagi umat yang baru.
Sembahyang
harian tujuh kali sehari:
dalam orthodox disebut sebagai “sholat tujuh waktu”. Orthodox belajar dari
sebagaimana Israel belajar tentang imannya melalui perayaan-perayaan yang
menceritakan peristiwa-peristiwa karya Allah di dalam Israel, demikianlah
gereja Orthodox berteologi dengan bersumber dari perayaan-perayaan, ibadah, dan
sakramen-sakramennya yang menceritakan peristiwa-peristiwa karya Allah yang
sudah dilakukan dalam Kristus Yesus oleh Kuasa Roh Kudus. Pembagian waktu dalam
penanggalan gereja dalam lingkaran
pembagian jam adalah dalam bentuk perayaan-perayaan yang dilakukan bagi
yang memperingati sejarah keselamatan dalam bentuk ibadah dan liturgy. Sebagai
mana pada zaman Israel setiap hari memiliki waktu-waktu sembahyang itu sebanyak
dua kali sehari, demikian juga gereja orthodox juga memiliki waktu hariannya
untuk ibadah.
Ada juga 6 waktu sembahyang menurut kitab suci, yaitu:
waktu pagi, dalam gereja Orthodox
merupakan peringatan kelahiran dan kebangkitan Kristus sang terang dunia itu,
yang merupakan natal dan paskah harian. Waktu
jam Sembilan, sebagai peringatan turun-Nya Roh Kudus atau pentakosta
harian. Waktu tengah hari, merupakan
peringatan saat Yesus disalibkan: jumat Agung Harian. Waktu jam tiga sore, merupakan peristiwa saat Yesus menghembuskan
nafas-Nya. Waktu senja, merupakan
peringatan penguburan Yesus harian, sabtu Kudus pagi harian. Waktu tengah malam, merupakan sholat
akan tidur, berdoa (Maz 4:1-9).
Puasa adalah saat menguji iman dan kasih seseorang akan
Allah di dalam Kristus. Keselamatan dalam ajaran Iman Kristen Orthodox itu tak
berarti sekedar naik surga demikian saja, tetapi lebih dari itu adalah untuk
manunggal dalam kehidupan Allah sendiri. Puasa sebagai disiplin dalam praktek
panunggalan dengan kematian Kristus untuk mematikan hawa-nafsu, serta manunggal
dengan kebangkitan Kristus guna memunculkan sifat-sifat manusia baru. Kristus
yang menjadi landasannya dan Kristus pula yang menjadi tujuan akhir dari semua
ibdah ini. Puasa tak boleh dimengerti dalam dirinya sendiri, namun dalam
kaitannya dengan tujuan akhir hidup Kristen: manunggal dengan Kristus. Puasa
selalu dilakukan bersama-sama dengan doa (Yer 14:11-12, Neh 1:4, Ezr 8:21-23).
Puasa bagi murid Yesus barulah akan dijalankan sesudah Yesus naik ke Surga.
Dalam konteks hidup dalam Kristus dan berlandasan Kristus inilah puasa Kristen
itu harus dilakukan. Namun, Yesus juga memberi teladan bagaimana Dia sendiri
juga berpuasa selama 40 hari 40 malam (Mat 4:2)
Persepuluhan
dan sedekah,
satu-satunya jalan agar manusia tidak jatuh dalam kemusyirikan melalui harta
miliknya, adalah mengabdi dan menghambarkan harta tadi kepada Allah dengan
menggunakannya untuk kemuliaan Allah. Bagaimana kita memuliakan Allah dengan
harta dan menghambarkan harta kepada Allah itu dijelaskan demikian: ikatlah persahabatan (lakukan
perbuatan-perbuatan baik, saleh, dan bijak, semacam persahabatan itu) dengan mempergunakan mammon (melalui
harta kekayaan yang engkau miliki). Kesukaan memberi dan membagi yaitu
bersedekah itu dapat dinyatakan dalam banyak hal, yang oleh Almasiah dinyatakan
demikian: Matius 25:40.sesama kaum beriman itulah prioritas utama dan kepada
kaum beriman pun ada beberapa cara dimana kita dapat mengabdi harta milik itu
kepada Allah. Almasiah tidak mengecam puasa maupun zakat persepuluhan, tetapi
memberikan penjelasan bagaimana puasa maupun zakat persepuluhan itu harus
dilakukan, yaitu dengan kerendahan hati. Menurut Almasiah zakat dari
penghasilan kita itu adalah sesuatu yang harus dilakukan, namun harus dilakukan
dengan segala kerendahhatian, keadilan, belaskasihan, dan kesetiaan.
Kepada siapa zakat persepuluhan ini harus diberikan,
kitab suci memberikan beberapa petunjuk, yaitu: pertama, kepada pelayan Injil (rohaniawan gereja: Episkop,
Presbiter, Diakon, Yang mengajar, memberitakan, dan menggembalakan) Gal. 6:6.
Meskipun secara umum dapat dikatakan bahwa zakat persepuluhan itu adalah
diperuntukkan bagi pelayan mezbah, dalam Perjanjian Lama: Imam Agung, Imam,
orang Lewi, dab dalam Perjanjian Baru: Episkop (penilik jemaat), penatua
(Presbiter dan Diakon) dapat diberikan kepada setiap pelayan injil yaitu para
rohaniawan Gereja (Episkop, Presniter, dan Diakon) sebagai pengganti-lanjut
Rassuliah, namun lebuh khusus lagi zakat itu diperuntukkan bagi Rohaniawan yang
membaptiskan, setiap harinya mengajar, menggembalakan, dan melayani kebuutuhan
rohani dari jemaat setempat di mana si orang percaya itu tinggal. Kedua, mereka
yang dalam jalan memperjuangkan kebenaran injil. Iman yang Rassuliah/Orthodox
itupun berhak untuk diberi pertolongan dari zakat sepersepuluhan itu, termasuk
disini adalah para katekis yang telah diberkati dan ditunjuk oleh Episkop. Ketiga, kepada saudara seiman yang
miskin dan yang mendapat musibah. Jika orang ingin mempersembahkan
perpuluhannay kepada gereja dalam konteks penggunaan hak milik baggi pengabdian
kepada Allah. Jangan pula disangka bahwa yang wajib memberi itu hanya orang
kaya, orang miskin pun harus belajar untuk memberikan sesuatu kepada Allah
karena orang miskin pun dapat memperhalakan kemiskinannya, dari sedikit yang
dia punya pun dia dapat jatuh kepada kemusyrikkan.
Kerudung, adalah penutup kepala yang digunakan oleh para
wanita Orthodox pada saat mereka beribadah dan bahkan sering pula dikenakan
diluar ibadah. Mengenai cara wanita saleh berpakaian dijelaskan oleh kitab
suci: 1 Tim 2:9-12, 1 Petrus 3:1-6. Dari kedua kutipan itu kita lihat ajaran
kitab suci, bahwa perempuan Kudus tidak boleh terlalu berdandan dengan mewah.
Dandanan mereka haruslah dandanan batin yang menampakkan diri dalam perbuatan
baik. Dan dandanan mereka harus dikaitkan dengan keberadaan mereka sebagai
orang yang terikat dengan suami dan tunduk dan taat kepada suami, itu berarti
suami memiliki otoritas dan wewenang atas perempuan. Cara perempuan Kudus
dahulu berdandan dalam konteks ketaatan dan kepatuhan kepada suami adalah
dengan mengenangkan “KERUDUNG” atau “TELEKUNG”. 1 Kor 11:2-15, mengajarkan kita
tentang pakaian perempuan dalam ibadah. Menurut pasal ini “laki-laki adalah
kepala perempuan” 1 Kor 11:3. Sementara Kristus adalah kepala laki-laki dan
Allah adalah kepala Kristus. Perempuan itu menghadap Allah dan Allah itu selalu
dikelilingi oleh para Malaikat dan para Malaikat itu taatnya mutlak dan
patuhnya mutlak kepada Allah sebagai Tuan dan Penguasanya, maka perempuan yang
menghadap Allah harus meneladani ketaatan dan kepatuhan para Malaikat ini,
dengan menunjukkan symbol keberadaannya dibawah wibawa laki-laki, itulah
sebabbnya dikatakan: sebab perempuan harus memakai tanda wibawa dikepalanya
oleh karena para Malaikat.
Music
gereja, Hyemnologi dari
music Byzantin dibagi dalam 3 kelompok, yaitu: Eirmologika (yang dinyanyikan
dalam ketukan yang cepat). Stikhirargika (yang dinyanyikan dalam ketukan yang
paling lambat. Papadika (yang dinyanyikan dalam ketukan lambat, satu suku kata
untuk keseluruhan frasa music. Satu pengelompokkan yangb besar adalah
Kontakion-oikos (puisi yang panjang). Yang disebut dengan Kidung Kanon,
mempunyai tema yang berurutan. Sebagaiman orang-orang Yahudi mengakhiri kidungan
Mazmur mereka dengan kidung Doxologia, demikianlah juga sekarang dalam gereja
Orthodox kidung disusun dalam struktur yang seperti itu.
Disiplin/Siasat
Gereja. Disiplin
gereja sering berpusat disekitar tak diizinkannya seseorang untuk menerima
Perjamuan Kudus (pengucilan). Rasul Yohanes memperingatkan agar kita tidak
menerima ke dalam rumah kita, mereka yang secara sengaja menolak kebenaran
Kristus 2 Yoh 9:10. Gereja Orthodox telah menjalankan disiplin / siasat dengan
penuh belaskasihan jika itu diperlukan, selalu menolong untuk membawa perubahan
hati yang diperlukan. Dan untuk membantu umat Allah untuk menghidupi kehidupan
yang murni dan Kudus, tak pernah disiplin itu sebagai hukuman.
Kehidupan
dalam gereja:
persekutuan orang-orang Kudus, apabila orang Kristen meninggalkan hidup ini,
mereka tetap merupakan suatu bagian yang amat penting dari gereja, Tubuh
Kristus. Mereka hidup dalam Tuhan dan tidak mengalami kematian lagi (Yoh 5:24,
11:25) dan nama mereka terdaftar di Surga (Ibrani 12:23). Mereka adalah banyak
saksi bagaikan awan yang mengelilingi (Ibrani 12:1). Menolak dan mengabaikan
persekutuan para orang Kudus adalah suatu penyangkalan akan fakta bahwa mereka
yang meninggal dalam Kristus “sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup (Yoh
5:24) serta mereka itu “masih hidup walaupun sudah mati” Yoh 11:25 dan dengan
demikian masih bagian dari gereja-Nya yang Kudus.
Memohon
bantuan doa dari orrang-orang Kudus, itu adalah suatu jalan masuk yang penuh kemuliaan
menuju surga. Gereja yang benar itu terdiri atas semua mereka yang ada di dalam
Kristus – di Surga dan di Bumi. Mereka yang berada di Firdaus dengan Kristus
itu hidup sebagai “roh-roh orang-orangb benar yang telah menjadi sempurna”
Ibrani 12:23, dalam persekuan dalam Allah, menyembah Allah, melakukan bagian
mereka dalam tubuh Kristus. Mereka secara aktif berdoa kepada Allah bagi semua
mereka yang ada dalam gereja dan barang kali memanglah demikian, berdoa bagi
seluruh Dunia (Ef 6:8, Why 8:3).
Pengganti-lanjut
/ suksesi / Sanad Rasuliah
telah merupakan masalah yang sangat penting sejak abad kedua, bukan sekedar
sebagai dogma, namun sama menentukkannya bagi pemeliharaan iman itu sendiri.beberapa
guru palsu yang muncul di atas panggung, mereka adalah wakil-wakil gereja
Kristen yang memiliki wewenang. Menyatakan diri memiliki wewenang dari Allah dengan
merujuk pada wahyu-wahyu khusus. Mereka ini disebut kelompok “Gnostik” ajaran
mereka adalah ajaran lain yang melenceng dari ajaran yang lurus dan benar.
Pengganti-lanjut / suksesi / sanad Rasuliah adalah suatu factor yang dapat
digantikan dalam menjaga keutuhan gereja. Pada masa kini, para mengecam ajaran
suksesi/pengganti lanjut menyejarah (historis) ini dan berusaha untuk mencari
suatu jati diri hanya dengan gereja awal saja.
Konsili-konsili/sinode-sinode
agung gereja. Suatu
konflik yang bersifat monumental (dicatat dalam Kis 15) muncul dalam gereja
zaman dini mengenai legalisme, usaha mempertahankan pelaksanaan syariah-syariah
agama Yahudi oleh umat Kristen. Sudah ada ratusan konsili semacam itu – local
dan regional – selama berabad-abad dalam sejarah gereja, dan khususnya 7
konsili yang disebut sebagai “Ekumenis/umum/universal” yaitu yang dianggap
berlaku bagi segenap gereja. Pengakuan
iman /syahadat/ kredo yang arinya “aku percaya” atau “aku bersaksi”. Syahadat
atau pengakuan iman yang paling penting dalam dunia Kristen adalah “pengakuan
iman /syahadat Nikea” hasil dari 2 konsili Ekumenis (325 Masehi dan 381 Masehi)
pada abad ke-4. Pengakuan iman Nikea terus-menerus mengingatkan umat Kristen
Orthodox akan apa yang ia percayai secara pribadi itu, supaya tetap berada
dalam jalur dan rel yang lurus.
Mengenai
akhir zaman dan kedatang Kristus yang kedua, kedatang Kristus yang kedua kali. Umat Kristen orang
Kristen mengakui dengan keyakinan bahwa Yesus Kristus “akan datang lagi untuk
menghakimi orang hidup maupun orang mati” dan bahwa “kerajaan-Nya tak akan ada
akhirnya” agar mereka boleh yakin dihadirat-Nya apabila Ia datang lagi (1 Yoh
2:28). Surga adalah tempat takhtah
Allah berada, ini mengtasi waktu dan ruang. Disitulah tempat bersemayamnya para
Malikat Allah dan para Orang Kudus yang telah melewati kehidupan dunia ini.
Bagi orang Orthodox, Surga adalah bagian dari kehidupan dan ibadah Kristen.
Perjamuan Kudus adalah ibadah Surgawi, Surga di atas bumi. Rasul, Paulus
mengajarkan bahwa kita telah dibangkitkan bersama Kristus dan ditempatkan di
Surga (Ef 2:6). Pada akhir zaman, msuatu langit yang baru dan bumi yang baru
akan dinyatakan (Wahyu 21:1).
Neraka, meskipun hal ini sangat tidak popular bagi
orang-orang modern, neraka itu nyata. Gereja Orthodox mengerti neraka sebagai
siksa kekal akibat manusia menolak hadirat kasih Allah yang berwujud api energy
Ilahi yang tak tercipta, bagi orang yang menanggapi kasih Allah itu. Namun,
bagi orang yang menolak kasih Ilahi yang sama itu berdampak membakar dan
menyiksa. Jadi, yang menyiksa dalam neraka itu bukan Allah tetapi manusia itu
sendiri yang hatinya tak memiliki kasih kepada Allah, sehingga kasih Allah itu
dirasakan sebagai hadirat yang menyiksa dan menyakitkan.
KEKRISTENAN ORTHODOX DAN BEBERAPA PERTANYAAN MORAL
MASA KINI
Ekumenisme merupaka orang harus menyambut penolakan atas
perpecahan umat Kristen yang sudah berabad-abad itu, tetapi hanya kalau itu
dilakukan dengan sasaran dan tujuan untuk membukakan harta karung Orthodoxia,
untuk mereka yang terputus dari gereja kembali kepada kesatuan dalam
Orthodoxia. Sikap gereja Orthodox mengenai hubungan Ekumenis ini ada dua macam.
Yang satu bersifat non-kompromi dan ketat, yang lain bersifat moderat. Yang
bersikap non-kompromi dan ketat sellaun bersikap sangat hati-hati dan
menjauhkan diri. Kelompok yang ketat ini merasa adalah kewajiban mereka untuk
memelihara dan menjaga iman dari gereja yang satu, Kudus, Katholik dan
Apostolik, yang tak pernah terbagi-bagi, meskipun dalam sejarahnya banyak
bidat-bidat yang memisahkan diri darinya. Namun gereja Rasuliah itu sendiri tak
terbagi.
Umat Protestan meyakini bahwa tidak satu kebenaran
yang tunggal dan tidak ada yang tampak sekalipun, namun masing-masing
denominasi dan aliran kekristenan memiliki suatu bagian dalam kebenaran. Salah
satu cara mencapai kesatuan ini, sebagaimana yang dipahami oleh para peserta
dialog-dialog dalam gerakan Ekumenis adalah mengadakan doa dan ibadah bersama. Iman
Kristen Orthodox tidak akan pernah dapat menerima ekklesiologi (ajaran mengenai
gereja) semacam ini. Bagi umat Orthodox, doa bersama dan persekutuan dalam
liturgy suci (perjamuan Kudus) adalah suatu ekspresi dalam suatu kesatuan yang
sudah ada dalam lingkup dan batasan dari gereja yang satu Kudus, Katholik dan
Apostolik (Rasuliah). Mengambil perjamuan Kudus secara bersama itu akan berarti
pengakuan bahwa semua orang yang menerima perjamuan Kudus itu telah termasuk
dalam gereja Rasuliah (Aposatolik) yang satu-satunya itu.
Pengangguguran
kandungan adalah pemusnahan
suatu janin dari dalam kandungan seorang ibu. Apabila seorang bayi itu
digugurkan, itu seorang manusia yang dibunuh. Bagi orang Kristen, semua anak,
baik yang baru lahir atau yang belum, itu sangat berharga di mata Allah dan
merupakan suatu anugerah yang berasal dari-Nya. Aliran Sekte-Sekte adalah kelompok-kelompok agamawi dari sekelompok
orang yang memusatkan pada suatu doktrin agamawi yang menyimpang dari tradisi
pengajaran dan gereja (historis) sebagaimana yang diwahyukan oleh Yesus
Kristus, ditegakkan oleh para rasul-Nya, serta dijaga oleh tujuh Ekumenis
gereja. Bahaya dari aliran sekte adalah bahwa itu memisahkan orang-orang yang
ada di dalamnya dari kehidupan Kristus dan gereja-Nya, dimana /Anugerah /Rahmat
/Kasih karunia dan berkat-Nya ditemukan. Semua aliran sekte akhirnya lenyap dan
mati, tetapi gereja terus hidup. Okultisme,
Ilmu teknik, dan perdukunan adalah suatu usaha manusia untuk memanipulasi
kehidupan dengan cara-cara yang bukan dalam pasrah kepada Allah. Ini termasuk
lingkup penyembahan berhala. Penyembahan kepada makhluk roh semacam itu adalah
dusta, maka “bapa segala dusta” (Yoh 8:44), yaitu: Iblis dan segala roh
jahatnya (1 Kor 10:19-20) menggunakan kesempatan itu untuk menipu dan
menyesatkan manusia. Sehingga memalingkan manusia dari penyembahan dan
ketergantungan yang utuh kepada Allah yang Esa, serta menjadikan manusia
sebagai orang-orang yang Musyrik. Alkitab mengajarkan kita dalam Ul. 18:9-12;
Imamat 19:31; Imamat 20:6. Ada beberapa kategori larangan sehubungan dengan
ilmu gaib ini dapat kita terangkan sbb:
Pertama, mempersembahkan anak sebagai korban dalam api,
inilah praktik umum yang dilakukan dalam agama kanaan yang menyembah dewa Baal
pada zaman nabi Musa. Dimana untuk mnunjukkan cinta baktinya kepada si dewi
itu, orang rela mengorbankan anaknya dengan menyembelih dan membakarnya di
depan patung dewa baal itu. Kedua, ilmu tenung adalah praktik
melihat atau meramalkan peristiwa-peristiwa masa depan atau menemukan hal-hal
yang tersmebunyi, serta menebak rahasia seseorang yang tidak diketahui oleh
orang lain. Ketiga, peramal, maknanya adalah suatu praktik yang dinyatakan
bahwa melaluinya orang dapat mendapatkan kesaktian atau pengetahuan adikodrat
yang gaib. Ini juga merupakan kemusyrikan yang dikutuk oleh Allah. Keempat,
penelaah: dalam bahasa aslinya kata ini bermakna “pemberitahu keberuntungan”.
Menurut terjemahan bahasa Inggris disebut sebagai “enchanter” (juru gendam,
juru pesona, dengan ilmu sihir) yang maknanya penggunaan ilmu gaib dan “magic”
dalam bentuk apa saja yang melaluinya orang dapat mendapatkan keberuntungan. Kelima,
penyihir: dalam bahasa aslinya berarti orang yang melepaskan kuasa ilmu-sihir.
Tujuan dari ilmu ini adalah mendapatkan daya kekuatan untuk menghancurkan musuh
atau orang yang dianggap menjadi musuhnya melalui cara yang bukan fisik. Keenam,
pemantera: dalam bahasa aslinya berarti orang yang melakukan mantera magis.
Maksudnya orang menggunakan suatu formula kata tertentu yang diharapkan melalui
formula kata itu suatu kekuatan yang magis dapat dihasilkan oleh kekuatan yang
muncul dari tenaga batin manusia. Ketujuh, bertanya kepada arwah
(roh-roh). Arwah adalah bentuk jamak dari roh-roh (roh orang mati). Delapan,
roh peramal yang dalam bahasa aslinya adalah dukun yang mengetahui rahasia
dunia gaib. Inilah yang dalam zaman modern ini berbentuk agama kafir
Non-Kristen yang menamakan dirinya dengan Gereja, yaitu “gereja setan”. Sembilan,
meminta petunjuk kepada orang-orang mati, ini adalah salah satu bentuk dari
ilmu perdukunan dan sihir dimana pelakunya akaj mengundang roh-roh yang
dianggapnya sebagai roh orang mati. Kasus yang paling terkenal dalam kitab suci
adalah kasus “dukun wanita dari Endor” (1 Sam 28). Meminta petunjuk keada orang
mati ini jangan dikacaukan dengan penghormatan kepada orang saleh hamba-hamba
Allah, yaitu penghormatan kepada orang-orang Kudus yang dilakukan oleh gereja
Orthodox. Penghormatan orang Kudus ditunjukkan untuk mengingat jasa mereka
sebagai orang yang memberikan teladan Iman kepada kita (Ibrani 13:7). Sepuluh,
tenaga dalam: berkaitan dengan pembahasna mengenai ilmu gaib ini adalah masalah
tenaga dalam. Sebelas, kemungkinan terjadinya kekuatan gaib dalam ilmu-ilmu
gaib ini: melihat begiitu seriusnya Alkitab mengingatkan kita akan bahayanya
ilmu gaib (Okiltisme) ini pertanyaan dapat kita ajukan akan kebenaran kekuatan
magis yang dilakukan para pelakunya. Dibuktikan bahwa Ilmu sihir, ilmu gaib,
Okultisme, tenaga prana, tenaga dalam, mantera, kudalini, atau ilmu apa saja
yang berbeda dan tidak boleh dikacaukan dengan mukjizat Ilahi yang hanya
diberikan oleh Allah kepada para hambanya yang saleh dna taat. Ilmu gaib ini
bertujuan untuk membelokkan manusia dari ajaran kebenaran Wahyu Ilahi, tetapi
itu adalah pekerjaan tipu muslihat dan kejahatan yang bersumber dari iblis
karena berusaha memurtadkan manusia dari jalan Tuhan yangb lurus kea rah jalan
yang bengkok dan sesat yang bertentangan dengan prinsip Tauhid.
Pernikahan, dalam gereja Orthodox itu bersifat selama-lamanya.
Keberhasilan pernikahan tidak bergantung pada saling janji setia secara manusia
saja, tetapi pada janji-janji dan berkat Allah. Di dalam ucapan pernikahan
gereja Orthodox, pengantin wanita dan pria saling mempersembahkan hidup dan
mereka juuga mempersembahkan hidup kepada Kristus_secara Literal sebagai para
syuhada atau martir yang mempersembahkan hidup mereka. Agama-agama Non-Kristen: iman Orthodox percaya pembagian wahyu
Ilahi dalam dua bagian: wahyu umum (wahyu Alamiah) dan wahyu Khusus (Wahyu
adikodrat). Wahyu umum dinyatakan melalui
- Melalui keberadaan alam semesta (Maz 19:1-4, Rom
1:19-20)
- Melalui hati nurani (Rom 2:14-16) sehingga
manusia menyadari mana yang salah da mana yang benar
- Melalui pemeliharaan alam dan kehidupan (Kis
14:16-17)
- Melalui sejarah dna budaya (Kis 17:26-27)
Karena melalui wahyu umum ini manusia mengenal adanya
pencipta, adanya pemeliharaan, adanya pemberian hukum, adanya hari pengadilan,
dan adanya kekekalan. Dari wahyu umum ini dan disitulah terbentuknya agama.
Sedangkan wahyu khusus itu hanya dinyatakan melalui sejarah suci keselamatan
yang dimulai dari janji pertama kepada Adam (Kej 3:15). Lalu dilanjutkan dengan
janji kepada Abraham (Kej 12:3, 22:18) dan akhirnya digenapi dalam Yesus
Kristus, diberitakan oleh para Rasul dipelihara berita-Nya oleh gereja yang
sebaggaimana dituliskan dan akhirnya berwujud kita suci perjanjian Baru, dan
dihidupi oleh gereja sebagai paradosis. Iman Orthodox tidak takut mengakui yang
benar sebagai benar dalam agama apa pun, namun tak takut pula mengatakan yang
salah sebagai salah.
Minuman
keras, merokok, dan narkoba
adalah kebiasaan dan gaya hidup ketergantungan pada jenis-jenis kecanduan
tertentu. Kitab suci tidak akan langsung berbicara tentang narkoba dan rokok.
Namun bagaiman Kitab Suci mengajarkan tentang minuman keras yang berefek
memabukan dan kecanduannya sama dengan efek yang diakibatkan oleh narkoba dan
dan rokok. Beberapa landasan theologis yang harus menjadi pertimbangan dalam
menyikapi hal ini adalah sbb:
- Kristus datang untuk memberikan kehidupan dan
memilikinya dalam kelimpahan (Yoh 10:30)
- Orang yang percaya kepada Kristus harus
memperbahatui akal budinya (Rom 12:2)
- Meskipun segala sesuatu halal bagiku, tetapi
tidak semuanya berguna (1 Kor 6:12)
Dari ketiga landasan theologis ini, menurur kitab Suci
“anggur sedikit” yaitu penggunaan yang tidak berlebihan memang ada manfaatnya,
bahkan untuk pengorbanan. Namun ketika itu disalahgunakan dalam kemabukan
sehingga orang menjadi bodoh, tidak arif, penuh dengan keinginan hawa nafsu
serta diperhamba oleh benda-benda itu. Apabila efek moralnya yang menimbulkan
hawa nafsu yang bermcam-macam itu membuat orang tidak lagi memiliki “pikiran
dan perasaan yang terdapat juga dalam Kirstus Yesus. Dan efek yang tragis
adalah benda-benda ini menyebabkan penyakit dan kematian.
Perjudian, dari awal penciptaannya manusia telah diberi oleh
Allah “jerja” sebagai suatu tugas kehidupan (Kej 2:15). Sehingga kitab suci
dengan tegas mengajarkan bahwa seseorang tidak mau bekerja janganlah ia makan.
Yang disebut “kerja” adalah adanya “tuan” entah itu suatu perusahaan, kantor
pemerintah, atau perorangan (Mat 20:1) artinya adalah pertanggungjawaban. Dalam
judi tidak ada tanggungjawab kepada suatu lembaga yang sah, tidak ada
kesepakatan upah dalam jumlah tertentu sebagai imbalan jasa dan kemampuan kerja,
tidak ada jasa dan kemampuan yang diberikan serta tidak ada kontrak tertentu.
Semuanya tergantung pada nasib dan keberuntungan. Judi bukan kerja, karena judi
bukan kerja, judi tidak dapat dijadikan sebagai mata-pencahariaan, karena
“orang yang tidak mau berja jangan ia makan”. Pada dasarnhya judi adalah cinta
akan uang. Judi adalah salah bentu memburu uang.
Perceraian, gereja Orthodox berdukacita mendalam oleh tragedy
dan rasa sakit yang disebabkan oleh perceraian. Gereja tidak menangani
perceraian secara legalistic, tetapi dengan penuh belaskasihan. Seks sebelum menikah, iman Kristen
Orthodox memegang teguh ajaan Alkitab bahwa hubungan badani itu hanya terbatas
dalam pernikahan. Seks adalah karunia Allah, untuk dinikmati dan dialami
sepenuhnya hanya dalam pernikahan. Seks dapat digunakan sebagai suatu sarana
untuk memuliakan Allah dan menggenapi gambar-Nya di dalam kita atau dapat juga
itu dibelokkan dan disalahgunakan sebagai alat-alat dosa, menyebabkan kerusakan
besar kepada kita dan kepada orang-orang lain. Rasul Paulus mengatakan bahwa
“tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu
peroleh dari Allah bahwa kamu bukan milik kamu sendiri”. Sebab kamu telah
dibeli dengan harga yang mahal dan lunas, karena itu mulaikanlah Allah dengan
tubuhmu (1 Kor 6:19-20).
Homoseksualitas, pada masa kini ada banyak keterbukaan dalam membahas
membahas masalah homoseksualitas dari pada saat-saat sebelumnya. Ini adalah
bukan masalah yang baru bahkan sudah dikatakan dalam kitab suci sejak
beribu-ribu tahun yang lalu. Pembahasan tentang homoseksualitas tidak dapat
dipisahkan dari tujuan Allah menciptakan manusia dan jenis laki-laki dan
perempuan. Lelaki-lelakian dan perempuanan itu adalah suatu keniscayaan dari
ekspresi kemanusiaan yang satu hanya memiliki dua ekspresi “laki-laki dan
perempuan”. Dua ekspresi yang berada dari kemanusiaan yang satu itu diciptakan
agar untuk menjadi satu (Mat. 19:5). Ini merupakan “cinta kasih” antara Bapa
dan Putera di dalam Roh Kudus oleh kasih itu. Jadi, lski-laki merupakan gambar
dari sang Bapa sedangkan perempuan menggambarkan sang Putera.
Perbedaan jenis kelamin adalah gambaran dari perbedaan
Hipostasys di dalam Tritunggal yang Esa itu. Dan kesatuan perkawinan adalah
gambaran dari kesatuan dari hypostasis-hipostasis yang berbeda tersebut.
Homoseksualitas lebih tepat diiltilahkan sebagai “pemburit” bagi pihak yang
pasif menerima penetrasi. Sedangkan Homoseksualitas menyangkut macam-macam
teknis dan bentuk hubungan seksual antara dua orang yang berjenis kelamin sama.
Dalam zaman para bapa gereja para mantan semburit bakti atau para pemburitnya
yang telah bertobat dari gaya hidup merek ayang bertentangan dengan kekudusan
injil, itu dianggap telah mengalami kebebasan rohani. Gereja Orthodox tetap
menganggap perbuatan homoseksualitas, tetapi bukan orang yangb memiliki
kecenderungan homoseksual, tetapi rela mengendalikan dan menyalibkan dagingnya,
sebagai sesuatu yang tidak sejalan dengan ajaran injil.
Refleksi:
Dari berbagai ajaran-ajaran iman gereja Orthodox sangat mengingatkan
saya untuk tidak mengabaikan betapa pentingnya mengenal dan amengerti makna
dari bentuk gereja dan ikon-ikon yang ada. Yang menggugah hati saya dalam
mengenai ini adalah tentang ikon, dimana berdoa kepada orang-orang Kudus bukan
berarti kita membenyembah mereka melainkan meminta pertolongan kepada mereka
untuk menolong kita orang-orang berdosa ini. Kemudian sembahyang ada yang 3x
sehari, 6x sehari dan 7x sehari. Dalam hal ini saya berusaha untuk melakukan
hubungan yang intim dengan Tuhan mulai dari sekarang. Kemudian buku ini
membahas tentang moral masa kini. Sungguh memperbaiki moral saya yang rusak dan
membentuknya kembali. Dengan berbagai hal-hal yang selama ini saya percaya
kepada orang begitu saja, namun saya tidak menyadari bahwa segala moral yang
dimiliki manusia telah rusak sehingga membawa kepada kesesatan. Saya mulai
membentuk moral yang saya miliki dengan menjaga hati dan kekudusan hidup dengan
tidak sembarang menggunakan pikiran.
GBU.